Skip to content

Lelahku Tak Sebanding Lelahnya

by pada 24 November 2012
(kemonbaca.blogspot.com)

(kemonbaca.blogspot.com)

Oleh Ani Sri Nuraini

“Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.” Ingatkah kalian dengan lagu ini? Mungkin dari kalian pernah dinyanyikan oleh ibu kalian. Yap! Ternyata kasih ibu sepanjang masa. Seorang ibu akan melakukan apa saja demi membahagiakan kita, anaknya.

Pernahkah kita tega melihatnya bersedih? Pernahkah kita tega melihat air mata jatuh ke pipi wajahnya? Semua anak pasti tidak akan pernah tega. Namun terkadang, kekhilafan menyebabkan dua hal itu terjadi. Sebagai seorang anak harus segera meminta maaf, karena tanpa kita sadari sang ibu –tanpa dipinta– pasti telah memaafkan kesalahan anaknya.

Aku terbangun di tengah malam yang gelap, jam menunjukan pukul 00.15 WIB. Lelah dan letih menggerogoti tubuhku. Aku tahu sudah larut malam, namun malam ini masih harus mengerjakan tugas kuliah. Menurutku, suasana malam sangatlah tenang.

Kukeluar kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Ketika melewati ruang tamu, wanita yang sangat kusayangi dan kasihi terlihat tidur di selembar kasur.

Kudekati sosok itu, memandangi wajahnya yang sangat lelah. Terihat dari guratan-guratan di dahinya, wajahnya memang tak muda lagi seperti dulu. Yap, ibu! Itulah wanita berumur 37 tahun, yang saat ini tertidur di tengah malam yang sunyi.

Kupandangi wajahnya beberapa saat, hati ini sangat sedih melihatnya. Timbul pula rasa takut, jika ia tiba-tiba meninggalkanku ketika tertidur. Seperti halnya yang terjadi pada bapakku, orang yang juga sangat kucinta dan kusayangi.

Hari-hari beratku di sekolah tak sebanding dengan hari-hari beratnya, tanpa seseorang pendamping yang menemani ketika tengah gundah. Lelahku dengan masalah yang membelenggu, tetap tak sebanding lelahnya mencari nafkah untuk menghidupiku dan adikku.

Ibuku menjadi orangtua tunggal, sepeninggal bapak lima tahun lalu. Tak sedikit pun ia mengeluh atas semuanya, kepadaku. Ia selalu menyimpan semua masalahnya di dalam senyuman. Berbeda dengan diriku yang selalu mengeluh tentang tugas dan masalah sepele kepadanya.

Dan kini, meski ibu sudah menikah lagi dan sedang mengandung adik dari ayah tiriku, ia tidak pernah letih memasak untuk kami semua. Meski pun ia membawa beban dua kali lipat dari sebelumnya.

Kupandangi lagi lekat-lekat wajah dan perutnya yang sudah sangat membesar. Kini kusadari, seorang ibu tak akan menunjukkan lelah kepada anaknya. Namun, lelahnmya terlihat jelas saat ia tertidur pulas di malam yang panjang.

Terimakasih ibu, telah berkenan menjadi ibuku dan merawatku hingga sekarang ini. Terimakasih pula untuk ibu-ibu di manapun, yang telah melahirkan orang-orang hebat di dunia ini.

8 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Ani Sri, eksplor rasamu untuk tema tulisan ini cukup menarik. Namun belum mendalam ya, karena masih berputar hanya pada kelelahan ibu. Belum menggali segenap pengorbanan yang dilakukan ibu dalam berbagai aspeknya. Judul cukup menarik, namun pilihan katanya mungkin lebih indah jika diperkaya. Cermati penggunaan kata yang sama, agar penggunaannya tidak berulang dan diganti dengan sinonimnya.. Oke, banyak membaca, ya..

    • Ani Sri Nuraini permalink

      baik pak ^^ terimakasih

    • Ani Sri Nuraini permalink

      Baik, Pak. Terima kasih atas sarannya :) Saya akan terus berusaha. Hwaiting!

  2. Adinda S. permalink

    Beautifully written :) Ayo nulis lagi kawan.

  3. Farida Yasribi permalink

    Saya setuju dengan pak Azhmy dan Adinda, tulisan Ani Sri “Lelahku Tak Sebanding Lelahnya” eksplor rasa cukup menarik. Sudah nyastra. Cukup membuat saya tertarik membacanya. Bagus… :-)

  4. Reblogged this on nisudelf and commented:
    Tulisan saya, alhamdulillah sudah di edit oleh dosen saya :)

  5. Hazuki permalink

    とても すごい。。。:)

  6. Tulisannya mengharukan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: