Skip to content

Memungut Pengalaman di Pasar

by pada 24 November 2012
fotografer.net

Nenek tua penjual sayur itu sendirian. Dagangannya pun terlihat sepi. (fotografer.net)

Oleh Karlina Sinta Dewi

Minggu pagi, aku tidak hanya mendapat kesegaran fisik sehabis berolahraga. Namun, juga mendapat kesegaran jiwa di tengah orang-orang yang sibuk mengatur nafasnya untuk bertransaksi.

Minggu, hari dimana aku bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Untuk merasakan segarnya udara pagi, tanpa polusi berlebihan seperti hari kerja pada umumnya. Juga melihat langsung hamparan besar langit jingga yang indah.

Pagi itu –seperti hari Minggu sebelumnya– aku, ayah dan ibu berlari pagi mengelilingi jalur komplek perumahan Halim Perdanakusuma. Namun saat ini kami memutuskan tidak langsung pulang ke rumah, malah memutar kembali menuju Pasar Embrio, Kampung Makasar, yang merupakan pasar tradisional paling dekat dengan rumahku.

Sesampainya di sana, aku membeli sarapan terlebih dahulu. Di depan pasar terdapat banyak jajanan kecil. Lumayan, seporsi roti bakar dan bubur kacang hijau hangat, membuat tenagaku bangkit kembali.

Setelah itu aku mengekor ibu ke dalam pasar. Berbelanja bahan makanan untuk persediaan sepekan. Sejenak aku baru menyadari, betapa padatnya aktivitas di dalam pasar tradisional ini.

Aku memang terbilang jarang berbelanja di sini. Kalau pun pernah, aku tidak begitu memerdulikan keadaan di sekelilingku. Bukan acuh, tapi fokus untuk secepatnya mendapatkan belanjaan yang telah tertulis di daftar.

Seperti yang kalian tahu, setelah mendengar kata pasar tradisional, umumnya bayangan di otak kita menggambarkan ketidaknyamanan. Tempat kotor dan becek, penuh tumpukan bahan makanan yang tidak tertata. Belum lagi aroma tidak sedap sampah, yang menumpuk di sana sini. Bayangan itulah yang mengusikku untuk tak mau berlama-lama di pasar tradisional.

Karena ibu masih sibuk mencari bahan makanan yang akan dibeli, aku pun membantunya. Aku melihat ke seluruh penjuru pasar. Berjalan menyusuri area tengah pasar, melewati beberapa kubangan kecil sisa aliran air hujan semalam. Kaki ku bahkan terpeleset beberapa kali, saking licinnya.

Sejauh mata memandang, aku hanya menangkap transaksi jual beli yang tiada putus. Antara penjual dan pembeli pertama, penjual dan pembeli kedua maupun pembeli pertama dan pembeli kedua, semuanya saling menyahut. Tak ada yang mau mengalah.

Ketika ibu berhenti di pertengahan jalan, karena sudah menemukan bahan belanjaan yang diinginkannya, aku pun sontak menghentikan langkahku. Tepat pula pandanganku terhenti di sudut pasar.

Tatapanku terpaku pada nenek tua yang duduk di belakang dagangannya. Melihatnya, aku jadi ingat nenekku yang sudah tiada. Ia juga seorang pedagang. Bedanya, nenekku menjual makanan saji.

Aku mengamatinya, sepanjang ibuku sedang bertransaksi dengan penjual. Nenek itu menjual berbagai jenis sayur mayur, seperti labu, kacang panjang, dan lainnya.

Ia sendirian. Tidak seperti pedagang perempuan lain, yang dibantu suami atau anaknya. Dagangannya pun terlihat sepi. Tak ada pembeli yang menghampiri. Aku tidak tahu persis, mengapa bisa sesepi itu.

Yang aku tahu pasti, aku melihat kilat kesedihan di matanya. Aku tidak tahu yang di pikirkannya. Nenek tua itu sering melamun. Sesekali melihat ke lapak sebelah atau merapikan posisi dagangannya.

Aku jatuh iba. Terhitung sudah enam menit aku memperhatikannya. Akan tetapi, tak seorang pun pembeli mendatanginya. Rasanya, ingin sekali aku membeli sedikit barang dagangannya. Tetapi aku tidak membawa uang sepeser pun, saat itu.

Ah, mengapa tidak meminta kepada ibu? Namun, ketika ingin mengutarakan niatku itu, ternyata ibu tak berada di sampingku. Aku melihat ke sekeliling, memastikan arah ibu melangkah. Ternyata ibu sudah menjauh. Lalu, aku menengok kembali ke arah nenek tua itu.

Alangkah senang dan leganya hati, ternyata seorang perempuan setengah baya tengah menghampiri dagangannya. Nenek pun melayani pembelinya dengan senyum.

Begitulah pengalaman terbaruku melihat sisi lain kehidupan. Minggu pagi di Pasar Embrio, telah membukakan mata hatiku. Aku bisa melihat hakikat kehidupan, bukan sekadar transaksinya..

One Comment
  1. azhmyfm permalink

    Karlina, untuk pilihan tema pada tulisan ini cukup menarik, meski judulnya sangat biasa. Penggunaan kalimat pendek kadang kurang tepat, karena kalimat berikutnya masih bisa disambungkan. Begitu juga dengan alinea yang terlalu pendek, karena alinea berikutnya masih berisikan pokok pikiran yang sama. Karena pengantarnya terlalu panjang, penjabaran tema pokok terasa terlalu singkat, belum mendalam.. Berlatih terus ya.. (azhmy fm)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: