Skip to content

Ibu, Malaikat Bagi Keluarganya

by pada 27 November 2012
(gambargratis.com)

(gambargratis.com)

Oleh Ani Lestari

Pagi itu terlihat sosok seorang ibu yang tengah menjajakan dagangannya di depan rumah seorang nenek. Ibu itu berjualan ditemani suaminya yang setia mengantarkan ia berbelanja di pasar. Saat orang-orang tengah terlelap di alam mimpi, sepasang suami istri itu sudah berangkat untuk mencari nafkah.

Mereka selalu menampakkan senyum bahagia pada semua orang. Kebersamaan mereka terkadang menimbulkan kecemburuan tersendiri untuk setiap pasangan lain. Mereka hidup sederhana bersama keenam anaknya.

Mereka tidak memiliki keinginan yang muluk-muluk, karena hanya satu yang mereka ingin capai dan mereka yakini  yaitu dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Pasangan ini tidak memiliki banyak harta seperti pasangan lain, yang dapat membekalkan harta melimpah pada anak-anak mereka. Tapi, pasangan ini hanya mampu membekalkan ilmu pada keenam anaknya.

Di tengah teriknya matahari, ibu itu menyusuri jalan untuk menjajakan dagangannya. Keringat yang mengucur deras tidak pernah ia hiraukan, walau terkadang nyeri pada kakinya sering datang saat tengah perjalannan, namun ia tetap berjalan sampai dagangannya habis.

Saat matahari menjulang tinggi sosok ibu itu baru sampai di kediaman yang ia tempati bersama sang suami dan keenam anaknya. Sesampainya di rumah, ia hanya cukup istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelah, lalu beaktifitas layaknya ibu rumah tangga lain.

Ia merupakan sosok yang sangat sempurna, dengan segala keterbatasannya, ia tidak pernah menunjukan rasa lelah di hadapan anak-anaknya. Ia selalu menampakkan senyum keikhlasan pada anak-anaknya.

Kenakalan yang dilakukan anak-anaknya hanya ditanggapi dengan senyuman dan kata-kata bijak yang dikeluarkan dari mulutnya. Bukan kata-kata kasar ataupun luapan emosi yang ia lontarkan, tapi itu cukup membuat anak-anaknya jera dan tidak akan mengulangi kesalahan tersebut.

Ibu itu sosok istri yang setia mendampingi suami dengan segala kekurangan yang dimiliki oleh sang suami. Terkadang kekecawaan yang ia rasakan hanya dipendam dan air mata yang dapat menggambarkan rasa kecewa itu.

Terkadang, ia ingin menjadi ibu rumah tangga seperti wanita lainnya, yang hanya menunggu sang suami dan anak-anaknya kembali ke rumah. Tapi melihat keadaan, itu sangat tidak mungkin sang suami hanya bekerja sabagai wiraswata yaitu pembuat patung atau taman, sedangkan ia memiliki enam orang anak yang memerlukan pendidikan yang layak.

Dengan bermodalkan keyakinan ia akhirnya membantu sang suami untuk mencari nafkah. Namun, keyakinan itu telah terbayar dengan keberadaan keempat anaknya yang tengah menutut ilmu di tingkat universitas dan kedua anaknya yang lain ditingkat sekolah menegah pertama dan sekolah dasar.

Sekarang ia tinggal memetik hasil yang ia tanamkan pada anak-anaknya. Yang kini satu persatu telah berhasil menenpuh perguruan tinggi tanpa mengeluarkan sedikitpun biaya. Ia  sosok mailaikat bagi keluarganya, putih bersih dan tanpa cacat sedikitpun. Ketulusan, kejujuran dan keikhlasan selalu ia tanamkan pada diri anak-anaknya.

One Comment
  1. Adinda S. permalink

    Beautifully written :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: