Skip to content

Hari Raya Datang, Harga Kencang

by pada 29 November 2012
(berita.plasa.msn.com)

(berita.plasa.msn.com)

Oleh Deasy Amalia

Harga sayur mayur di beberapa pasar tradisional  menunjukan kenaikan harga yang cukup signifikan. Cabe, tomat, dan bawang, misalnya mengalami kenaikan yang berarti.

Suasana Pasar Depok Jaya nampak ramai setelah pergantian Tahun Baru Hijriyah 1434 H. Banyak ibu-ibu yang lalu lalang demi berbelanja kebutuhan sehari-hari. Tak hanya satu toko yang didatangi, mereka benar-benar menghampiri tiap bilik demi mendapatkan apa yang diinginkan dan melakukan sebuah rutinitas, yaitu tawar menawar.

Di pojok baris kedua sebelah kanan tukang tempe, terdapat toko yang nampaknya agak sering didatangi oleh pembeli. Inilah Bu Wiji, salah satu pedagang di Pasar Depok Jaya yang menjual berbagai bahan-bahan untuk memasak seperti cabe, bawang, timun, tomat, kemiri, terasi, ikan, dan sebagainya. Dengan dipegangnya sebuah kayu panjang dengan banyak irisan tipis tali rafia di ujungnya, ia terus mengayunkan ke kanan dan ke kiri demi mengusir lalat yang datang.

Tokonya tak terlalu sepi pagi itu. Karena barang didagangkan adalah barang-barang pokok, maka tak heran kalau tokonya dikunjungi oleh pembeli. Namun masih ada ibu-ibu yang menawar. Harganya memang tak jauh berbeda dengan toko yang ada di sebelahnya maupun di sebrangnya. Harga agak mahal dikarenakan pasokan dari daerah ke pasar induk juga mengalami kekurangan akibat hasil panen sedikit. Biasanya, Bu Wiji mengambil bahan yang dibeli dari Jawa, pasar induk, maupun pasar kemiri.

Harga sayur di pasaran telah melonjak naik. Permintaan akan sayuran saat naik harga menuai banyak protes. “Terus saya harus berbuat apa? Saya hanya mengikuti aturan saja,” ungkapnya.

Harga yang sudah terlanjur naik, turunnya akan lama. Apalagi mengingat tahun baru memasuki musim hujan, pasti harga akan naik terus. Natal pun dianggap sebagai puncak kenaikan harga bahan-bahan pokok. Meskipun saat membeli harga awalnya normal, namun saat didagangkan harganya naik sesuai harga yang telah ditentukan. “Kami mah ikutin aja pas harga naik. Kadang kalau harga masih tinggi lalu sewaktu-waktu turun, ya ikut turunin juga harganya,” katanya sambil terus mengayunkan kayunya.

Namun diakuinya, dengan berdagang di pasar tersebut, pedagang asal Wonogiri ini masih tetap bisa menghidupkan keluarganya. Meski harus terus berdagang sejak pagi buta hingga sore setiap harinya, ia masih bisa terus bertahan hingga 10 tahun sejak ia bekerja disana. Suaminya memang sudah meninggal, namun semangat untuk menyekolahkan anaknya hingga tamat SMA tak pernah patah. Omset yang dihasilkan pun perhari rata-rata bisa 1 juta. “Kalau sepi ya hanya 500 ribu saja.” katanya. Dari dagangnya itu, ia bisa meraup keuntungan sebesar 20%.

Wiji turut berbagi pengalamannya saat menghadapi berbagai macam pembelinya. “Banyak sekali yang cerewet. Suka nawar pula. Tapi karena pembeli adalah raja, saya akan selalu malayaninya dengan baik,” ungkapnya sambil tersenyum.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: