Skip to content

Pasar Obor di Pasar Rebo

by pada 29 November 2012
(twicsy.com)

(twicsy.com)

Oleh Fariz Eka Kuswanda

Lembayung senja sudah menghiasi langit. Akhir pekan yang tidak begitu ramai di sebuah pasar tradisional yang diberi nama Pasar Obor daerah Pasar Rebo.

Aneh, kenapa pasar itu disebut Pasar Obor padahal terletak di daerah yang menyebut kata pasar, yaitu Pasar Rebo. Terlepas dari itu, sebuah pasar tidak begitu ramai apalagi di akhir pekan adalah hal yang cukup keluar dari pemikiran orang, yaitu ramai, bising dan sesak. Sebenarnya pasar ini beroprasi hampir 24 jam, namun hanya jam tertentu saja terletak di titik ramainya.

“Pasar ini biasanya ramai sekitar jam 2 atau jam 3-an pagi, tukang sayur yang belanja jam segitu untuk dijual lagi. Kalo akhir pekan, dari jam 2 atau 3-an sampai jam 9 pagi juga masih ramai. Dari jam 5-an sampai siang biasanya ibu-ibu yang belanja buat keperluan sehari-hari” kata Joko, penjual sayur.”Penjual disini sih udah mulai sibuk dari malam untuk membuka kios mereka, seperti ngangkutin dagangan mereka dari mobil pengantar dan lain-lain. Kalau malam yang sudah mulai buka kios itu, seperti pedagang ikan, sayur dan daging. Pedagang barang elektronik, perabotan rumah tangga dan kue-kue kering sih mulai buka pagi sekitar jam 5 atau jam 6-an,” lanjutnya.

Keesokan paginya, mencoba ke pasar tersebut lagi. Benar saja kata pedagang itu, ramai, bising dan gaduh sudah tidak dapat terhindarkan. Ditambah dengan keadaan becek dan bau dimana-mana yang merupakan ciri khas yang sudah melekat pada pasar tradisional.

Untuk harganya relatif terjangkau. Apalagi dalam bertransaksi bisa ditawar lagi. Namun, menjelang hari raya, harga-harga pangan melonjak tinggi dan itu menjadi keluhan konsumen.

“Biasanya mendekati hari raya, harga bahan makanan tuh pada naik terus konsumen pada ngeluh deh,” tambah Joko.

Pasar ini sudah mulai modern dengan adanya aliran listrik sehingga bisa menyalakan lampu. Namun itu hanya yang berada di pinggir jalan. Kios yang letaknya agak dalam, masih menggunakan lampu minyak.

Ya…ramai, bising dan becek merupakan ciri khas dari pasar tradisional. Apakah pemerintah perlu membenahi pasar seperti ini supaya lebih layak? Atau membiarkan pasar tradisional selalu diikuti oleh ciri khasnya?

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: