Skip to content

Kesederhanaan Budaya Naga

by pada 1 Desember 2012
(indonesianvillage.com)

Kampung Naga hanyalah sebuah kampung yang banyak mengajarkan kita tentang makna hidup sederhana. (indonesianvillage.com)

Oleh Wardatul Jamilah

Tahukah Anda Kampung Naga? Mungkin sebagian dari kalian sudah tahu atau bahkan pernah berkunjung ke sana. Kali ini saya akan menceritakan kesederhanan budaya Kampung Naga. Ya, mungkin kalian akan berfikir kampung tersebut berbentuk naga?

Kampung Naga hanyalah nama desa yang terletak di desa Naglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Taikmalaya, Jawa barat. Dalam area kampung seluas 1,5 hektar ini, terdapat  113 bagunan yang tetap dijaga jumlahnya. Terdiri dari 110 rumah, satu masjid, satu balai pertemuan, dan satu lumbung padi.  Sebuah kampung yang masih memengang teguh adat dan budaya lokal, yang diwarisi oleh leluhurnya.

Di kampung Naga seluruh masyarakat wajib mematuhi aturan adat yang berlaku, barang siapa yang melanggar akan mendapatkan sanksi adat. Salah satu tempat yang dilarang dikunjungi adalah hutan Larangan, yang melarang siapa pun menebang pohon atau mengambil ranting yang jatuh. Jika ada yang melanggar, akan kesurupan. Juga hutan Kramat, tempat pemakaman khusus leluhur kampung Naga yang digunakan untuk berziarah.

Selain tempat yang dilarang, masyarakat Naga juga masih mempercayai hari dan bulan yang dianggap tabu, misalnya Selasa, Rabu, Sabtu maupun bulan Syafar dan Ramadan. Pada hari dan bulan tersebut, warga kampung Naga tidak boleh melaksanakan ziarah dan menceritakan adat istiadat.

Selain lembaga formal yang mengurus kampung (RT, kepala dusun dan kepala desa, yang mengikuti aturan pemerintah pusat), juga terdapat lembaga informal atau lembaga adat dengan Kuncen sebagai Pemangku atau Kepala Adat, Punduh yang bertugas mengayomi masyarakat, dan Ude untuk  mengurus jenazah dan menyelenggarakan syarikat Islam.

Seluruh penduduk Naga memeluk Islam, namun mereka juga sangat memegang teguh adat-istiadat dan kepercayaan nenek moyang. Terdapat 6 kali upacara adat dalam satu tahunya, yakni Bulan Muharam (memperingati Tahun Baru Islam), Rabiul Awal (Maulid Nabi Muhammad SAW), Jumadil Akhir (memperingati pertengahan Tahun Islam), Nispu Sya’ban (menyambut Bulan Suci Ramadhan), Syawal (merayakan Hari Raya Idul Fitri), dan Dzulhijah (merayakan Hari Raya Idul Adha).

Banyak kesederhanaan yang terdapat di Kampung Naga, misal masyarakatnya hidup dengan bertani. Melalui kepercayaannya pada Dewi Sri, mereka menempatkan padi sabagai dasar kemakmuran. Padi-padi yang mereka tanam diolah secara tradisional. Selain itu, untuk menambah penghasilan sampingan mereka juga berternak, membuat kerajinan tangan, dan berdagang.

Bentuk kesederhanaan lainnya juga terwujud pada rumah-rumah di kampung tersebut, seragam dan saling berhadapan. Di dalam rumah mereka pun tak ada barang berharga dan tidak dialiri listrik, alasanya untuk menghindari kecemburuan sosial di antara masyarakatnya.

Material rumahnya menandakan, mereka tidak pernah berperilaku berlebihan. Atap rumah terbuat dari pohon tepus atau ijuk, lantai dan dinding dari bambu yang dianyam, dan penyangga rumah dari pasak dan kayu. Itulah sebagian simbol kebersahajaan dalam menghargai yang alam berikan untuk mereka.

Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan perumahan di komleks elite. Rumah-rumah tersebut terbuat dari bahan mahal yang di-import langsung dari luar negeri. Pagar rumah yang saling menjulang tinggi, menandakan individualitas yang tinggi sang pemilik rumah.

Kentalnya budaya leluhur yang masih dipertahankan masyarakat Naga tersebut, dapat kita jadikan contoh. Bila diresapi dalam hati, kita seringkali merasa hidup dalam kekurangan dan selalu ada rasa tak puas diri.

Ya, kampung Naga hanyalah sebuah kampung, yang banyak mengajarkan kita tentang makna hidup sederhana.

From → Feature Budaya

2 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Wardah, tulisanmu memikat. Betapa kesederhanaan yang kini sudah menjadi barang langka, dapat dirimu temukan di kampung Naga. Pola hidup sampai bahan material rumah, mencerminkan kebersahajaan, bahkan mungkin juga menghindari diri dari modernisasi. Bila saja lebih rinci eksplor melalui wawancara dengan pemangku adat maupun masyarakat kampung Naga tentang keseharian, kesederhaan akan lebih jelas tergambar.

    Dari teknis poenulisan, sungguh sangat sedikit sekali editing yang saya lakukan, Hanya terdapat beberapa pengulangan kata dan kata mubazir, yang mungkin terlewat dirimu koreksi saat membaca ulang. Sufut pandang sudah menarik, namun masih kurang mendalam. Juga dapat diperkaya dengan kombinasi gaya penulisan yang dilakukan, agar lebih timbul “greget”-nya..

    Kembangkan terus bakat menulismu, dan jangan lupa kirim ke media massa, ya..

  2. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Senin 07 Januari 2013, pukiul 12.52 WIB (lihat disini: http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3048/2013/Kesederhanaan-Budaya-Naga).. Ayo, siapa lagi menyusul

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi. Wardah cukup datang untuk tandatangan berita ujian saja, tanpa harus mengikuti ujian. Ayo, siapa lagi menyusul?

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Wardah dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: