Skip to content

Wajah yang Memudar

by pada 2 Desember 2012
(jennesia.com)

(jennesia.com)

Oleh Sisilia Azmi A

Wajahnya sudah tua, raut mukanya sudah terlihat kusam dan pandangan, pendengaran sudah semakin berkurang. Entah apa yang dipikirkan olehnya.  Kadang raut muka itu menggambarkan sesuatu. Apa yang sedang dipikirkannya?. Badannya yang dulu tegap, kuat, sekarang sudah rapuh karena usia tapi meskipun begitu  Beliau adalah sosok yang sangat dihormati dan panutan dalam hidup itulah yang disebut Ayah.

Ayah sangat pintar dalam membungkus masalah yang ada dalam kehidupnnya. Beliau selalu terlihat ringan dan seperti tidak ada masalah. Beliau selalu mementingkan kelarganya dahulu walaupun harus mengorbankan dirinya sendiri.  Apa yang tidak beliau lakukan untuk kesehjateraan anak dan keluarganya? Apapun akan dilakukannya demi kebahagian keluarganya. Begitu suci keringat yang keluar dari tubuhnya.

Tubuhnya yang sudah tua tidak menyurutkan semangat atau spirit yang ada dalam dirinya. Sekeras apapun tuntutan hidup yang dijalaninya tidak membuat Beliau surut bahkan putus asa. Kadang saya berfikir bagaimana agar saya bisa membantunya. Tapi persoalan itu terasa sangat kompleks dan takut semakin mengganggu pikirannya. Saya hanya dapat berdoa agar segala urusannnya di mudahkan oleh yang Maha Kuasa.

Saat sedang istirahat baru akan nampak apa yang sebenarnya Beliau rasakan. Senyumnya yang tadinya memekar berubah menjaadi tipis. Raut wajahnya yang semula menggambarkan kecerian berubah menjadi guratan guratan kesedihan di sekeliling wajahnya. Ingin langsung dihapuskan ketika melihat hal ini. Hati seakan tercabik cabik karena mengetahui keadaan Beliau seperti ini. Otak pun langsung bekerja dan berpikir apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika Ia sakit ta pernah beliau ingin merepotkan seseorang. Beliau sangat pintar menjaga perasaan orang lain agar tidak khawatir dengan dirinya. Walaupun dirinya sudah terkulai lemah di kasur rumah sakit dengan tangan yang di infus tapi Beliau selalu berkata “ Saya tidak apa apa, mohon jangan mengkhawatirkan saya” ucapnya selalu dengan senyum yang mengembang. Hati beliau memang diciptakan oeh sang pencipta sehalus salju.

Sebut saja Tress, beliau adalah seorang Kepala keluarga. Usianya sudah melebihi 60 tahun. Rambutya sudah beruban, kesehatannya sudah sedikit menurun, sifatnya sudah menjadi sensitif tapi semangatnya sangat luar biasa. Beliau sudah tidak bekerja, ia sudah pensiun dikarenakan umurnya yang sudah tidak memungkinkan untuk bekerja tapi walau begitu Beliau masih mampu mencukupi kebutuhan keluarganya dengan cara apapun tapi pastinya dengan cara yang halal.

Anaknya yang sudah besar sekarang sedang kuliah di perguruan tinggi negeri Depok. Beliau selalu berusaha mencukupi kebutuhanan anaknya walaupun anaknya tidak mengetahui dari mana uang itu. Beliau mengorbankan harta miliknya juga untuk memenuhi kebutuhan kuliah untuk anaknya. Sungguh besar memang jerih payah dari beliau.

Melihat kondisi dan kenyataan seperti itu terlihat perjuangan dari seorang Ayah yang sangat besar untuk membahagiakan keluarganya. Tidak peduli apapun yang akan ia hadapi nantinya untuk membahagiakan keluarganya.

Apakah kita yakin ia dapat bertahan selamanya?

***

Semoga kita akan lebih menyadari ketulusan, perjuangan dan semangatnya telah membuat Kita sekarang menjadi sosok yang berguna, baik dan mempunyai akhlak yang tinggi. Jangan sampai ia terluka karea perbuatan bodoh yang kita lakukan sehingga membuat kehormatannya ternoda atau bahkan hilang. Buatlah ia selalu tersenyum dan tegak dalam menghadapi sinar yang keras dengan prestasi atau sesuatu hal yang dapat membuatnya bangga.

Sejaah bisa dimakan rayap, memudar atau bahkan lenyap. Dan saat hal itu terjadi kita hanya bisa bertanya, apa memang tak ada yang bisa kekal dan abadi di dunia yang fana ini?.

Jangan biarkan sejarah itu hilang, rawatlah, simpan dan kenang sejarah itu untuk menjadi pedoman agar tidak tersesat. Sejarah sangat berharga. Salah besar jika seseorang menyatakan sejarah adalah hal yang tidak berharga atau seakan kita tidak suka akan sesuatu hal yang lama. Sejarahlah yang akan membentuk masa depan kita semua.

One Comment
  1. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Senin 07 Januari 2013, pukiul 18.54 WIB (lihat disini: http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3053/2013/Wajah-yang-Memudar).. Ayo, siapa lagi menyusul

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi bagi Sisilia. Ayo, siapa lagi menyusul?

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Sisilia dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: