Skip to content

Musik Dangdut, Haruskah Dinodai?

by pada 3 Desember 2012
Musisi sejati ialah musisi yang tahu bagaimana berkarya tanpa mengandalkan sensasi.(indomedia.com.au)

Musisi sejati ialah musisi yang tahu bagaimana berkarya tanpa mengandalkan sensasi.(indomedia.com.au)

Oleh Gayatri Alunnagara

Tubuh mereka bergerak gemulai, mengiringi irama yang mengalun syahdu. Penonton pun terbuai melihat penyanyi berlenggok. Dangdut, apakah selalu dengan goyangan? Lalu, bagaimana musik ini dapat bertahan tanpa goyangan?

Dangdut merupakan aliran musik yang dikenal sebagai ciri khas bangsa Indonesia. Memang, kerapkali aliran musik ini dianggap sebagai musik rakyat ekonomi kelas bawah atau “kampungan”. Namun, dendangan iramanya mampu menghipnotis pendengar.

Musik ini menghibur tanpa mengenal suku, ras, ataupun golongan. Dinamis dan sederhana, itulah alasan dangdut mudah diterima sebagai musik khas Indonesia. Berkembang sekitar 1940, istilah “dangdut” berasal dari kata dang dan dut sebagaibunyi tabla atau yang kita kenal dengan kendang. Kemudian dipengaruhi musik dari India dan Arab, sehingga menghasilkan aliran musik baru yang disebut dangdut.

Metamorfosis Musik Dangdut

Di Indonesia, kehadiran musik dangdut mulai familiar sekitar 1950. Berkat andil Soekarno yang melarang datangnya segala pengaruh Barat, termasuk musik. Hal ini ditakutkan karena akan terbawanya pengaruh buruk yang tidak sesuai dengan budaya Timur. Seiring perkembangannya, justru inovasi dan kreasi para pedangdutlah yang menodai musik tersebut.

Dalam metamorfosisnya, perkembangan musik dangdut tidak hanya berubah dalam sisi musiknya saja. Namun, sisi penyajiannya pun berubah. Kerapkali musisi pendatang baru, berinovasi dengan menjual “kepuasan” yang berbeda.

Sedikit membandingkan, para musisi dangdut terdahulu seperti Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, dan lainnya sangat menerapkan etika bermusiknya. Di setiap karyanya, mereka berupaya menyampaikan pesan lewat syair lagu yang dibuat, bernyanyi dengan suara merdu serta cengkok yang indah. Begitulah gambaran perbedaan musik dangdut, dahulu dan sekarang.

Kini, dunia musik dangdut lebih dihebohkan dengan syair lagu yang “nakal” dan  fenomena “goyangan” para pedangdut. Lirik serta goyangan, diambil sebagai jalan pintas untuk mendongkrak popularitas. Identiknya dalam setiap penampilan, mereka hanya memamerkan kemolekan tubuhnya, menggunakan pakaian yang serba ketat, dan menyuguhkan goyangan yang erotis.

Musik yang hampir dinikmati berbagai kalangan usia ini, seharusnya membuat para pedangdut mengerti tujuan setiap karya yang dibuatnya. Selain berkewajiban memerhatikan nilai moral yang berlaku, penting bagi sebuah karya turut mencerdaskan para penikmatnya, terutama anak-anak.

Tidak hanya penampilan secara off air, seringkali penampilan yang seronok ini disiarkan melalui televisi sehingga dapat disaksikan oleh siapa saja. Penampilan yang tergolong seronok, dapat mudah meracuni pikiran anak-anak dengan berbagai hal yang berbau pornografi. Sikap dan perilaku pun otomatis berubah, seperti meniru goyangan-goyangan yang dilihatnya.

Yang perlu diketahui, masa remaja merupakan masa imitasi atau meniru. Pakaian yang serba ketat, mungkin akan berdampak besar pada remaja pecinta musik dangdut, sedangkan massa yang dimilikinya cukup banyak berasal dari golongan usia tersebut.

Kecenderungan mengikuti gaya berbusananya pun perlu diwaspadai. Terkesan lebay? Ya! Budaya Timur yang peka terhadap makna kesopanan lambat laun akan luntur, jika generasi mudanya lupa cara berpakaian yang beradab. Dengan begitu jangan salahkan siapapun, apabila tingkat kriminalitas juga bertambah.

Tak kalah berbahayanya, lirik lagu merupakan instrumen awal dalam memengaruhi pendengarnya. Lirik “nakal” dapat berdampak bagi anak-anak yang mengikuti syair lagunya, yang sebenarnya tidak mereka pahami baik dan buruknya. Pesan di dalam sebuah lirik lagu memiliki dua bentuk. Pertama ialah bentuk pesan yang positif, dengan kata lain karya tersebut bertujuan untuk mendidik. Kedua walaupun tak pantas disebut pesan— ialah bentuk pesan yang negatif, isi lirik tersebut sama sekali tak bermakna mencerdaskan generasi mudanya.

Menjaga Eksistensi Tanpa Menodai

Musisi sejati ialah musisi yang tahu bagaimana berkarya tanpa mengandalkan sensasi. Melakukan inovasi dan kreasi memang hal yang positif, jika diarahkan dengan baik. Perkembangan musik dangdut yang tidak statis, seharusnya dapat menjadi modal dasar para pedangdut untuk mencari inovasi yang tidak ecek-ecek.

Alat musik yang semakin modern pun dapat digunakan untuk memperindah setiap alunan musik. Aliran musik baru yang semakin banyak bermunculan, juga dapat dijadikan alternatif untuk membuat sebuah karya baru hasil pengolaborasian kedua aliran yang berbeda.

Tak perlu ragu dengan hasil karya musik tanpa goyangan. Jika Anda berpikir dangdut akan mati karena itu, coba dipikirkan ulang. Karena pedangdut seperti Rhoma Irama pun masih mampu menjaga eksistensinya tanpa menodai musik dangdut.

Tak Ada Kata Terlambat

Menyimpangnya identitas bangsa Indonesia berupa sopan dan santun, akan dengan mudah mendorong rusaknya akar budaya masyarakat. Wajah dangdut yang kini kian erotis, kiranya akan menimbulkan tanda tanya di sanubari. Relakah kita menikmati musik dangdut, yang semakin berperan di atas ambang kehancuran moral bangsa?

Jawabannya ada pada Anda. Alangkah baiknya upaya menjadi kreatif dan inovatif, jika sebelumnya dimaknai terlebih dahulu. Dengan demikian, hasil perpaduan kedua unsur tersebut tidak akan menodai sebuah pencapaian yang sudah diraih. Jika sudah terlanjur? Perbaiki lah! Tak ada kata terlambat, untuk memulai sesuatu yang lebih baik.

Jayalah musik dangdut Indonesia!

From → Feature Budaya

3 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Gayatri, sudut pandangmu luar biasa. Dirimu berhasil “menemukan” tema menarik, yang sering terlewatkan para penulis maupun pecinta dangdut, Benar, dangdut kini kian seronok dan vulgar. Banyak kita jumpai istilah yang dikonotasikan –demi mengakomodir “selera rendah manusia” yang berbau pornografi– sebagai suatu gaya dan cara berdangdut, sebut saja seperti “dangdut koplo”, “buka jendela” dan sebagainya. Kebablasan, memang. Namun dalam blantika pertunjukan musik dangdut, agaknya ini sudah dianggap sebagai hal yang lazim dan wajar..

    Dari sisi teknis penulisan, karyamu sudah apik. Paling sekadar pengulangan kata yang sama, juga sebagian kata dalam kalimat berikutnya, kurang konsistensinya pemisahan bagian tulisan (bila memilih pakai subjudul, jangan ada yang pakai bintang berderet lagi)..

    Jadi, lanjutlah berlatih untuk mengirimkan tulisanmu ke media massa.. Ditunggu buktinya, ya..

  2. Maaf pak, saya baru membaca komen ini. Sebelumnya sama seperti yang lain, saya ingin mengucapkan terimakasih atas editannya ini. Mungkin jika bapak mempost tulisan saya secara mentah, saya enggan untuk membacanya hehehe. Musik sebagai makanan pokok setiap orang memang sudah sepantasnya dikritisi jika mulai menyimpang ya pak? Namun, mencari massa yang setuju dalam hal seperti ini justru susah. Karena banyak yang lebih senang bangsa nya menjadi lebih bobrok akan moralnya.

    Iya pak, kemubaziran kata nya terasa ko. Itu dia yang belum bisa saya atasi. Padahal saya tahu kalo seperti itu justru pembaca akan capek dan bosan membacanya. Apa itu berarti saya orang yang bertele-tele ya pak dalam menyapaikan pesan? hahaha

    Siap pak, saya akan coba mengirim ke media massa. Sekali lagi trimakasih pak.

  3. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Suara Merdeka Online pada Senin 07 Januari 2013 (lihat disini: http://citizennews.suaramerdeka.com/?option=com_content&task=view&id=1796).. Ayo, siapa lagi menyusul

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi untuk Gayatri, terlebih ini merupakan pemuatan tugas kedua di media massa.

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Gayatri dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: