Skip to content

Glaukoma, Penyebab Kebutaan di Indonesia

by pada 4 Desember 2012
(ropiabdulaziz.blogspot.com)

(ropiabdulaziz.blogspot.com)

Oleh Nurul Aini

Ada berbagai penyakit yang bisa menyebabkan seseorang mengalami kebutaan. Tapi di Indonesia glaukoma menjadi penyebab kebutaan kedua terbesar setelah katarak. “Di Indonesia yang mengidap kebutaan ada 1,5 persen, penyebab paling banyak adalah katarak dan yang kedua glaukoma.”

Prof. Farida menuturkan jika kebutaan yang terjadi akibat katarak bisa diperbaiki dengan melakukan operasi dan penglihatan bisa kembali, tapi untuk glaukoma kebutaannya terjadi secara permanen dan tidak bisa diperbaiki.

Hal ini karena pada glaukoma terjadi kerusakan di saraf mata dan kerusakan ini tidak bisa diperbaiki, namun kebutaan pada glaukoma bisa dicegah jika ditemukan secara dini sehingga dilakukan pengobatan agar tidak banyak saraf yang rusak.

Glaukoma adalah salah satu jenis penyakit mata yang secara bertahap menyebabkan berkurangnya daya penglihatan hingga buta. Hal ini disebabkan saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan membesar. Pembesaran tersebut menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata. Saraf mata tidak mendapatkan aliran darah sehingga akan mati. Tidak berfungsinya saraf mata menyebabkan kebutaan.

Jenis-Jenis Glaukoma

Primary Open-Angle Glaucoma (Glaukoma Sudut-Terbuka Primer)

Glaukoma Sudut-Terbuka Primer adalah tipe yang paling umum dijumpai. Glaukoma jenis ini bersifat turunan, sehingga risiko tinggi bila ada riwayat dalam keluarga. Biasanya terjadi pada usia dewasa dan berkembang perlahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Seringkali tidak ada gejala sampai terjadi kerusakan berat dari syaraf optik dan penglihatan terpengaruh secara permanen. Pemeriksaan mata teratur sangatlah penting untuk deteksi dan penanganan dini.

Glaukoma Sudut-Terbuka Primer biasanya membutuhkan pengobatan seumur hidup untuk menurunkan tekanan dalam mata dan mencegah kerusakan lebih lanjut.

Acute Angle-Closure Glaucoma (Glaukoma Sudut-Tertutup Akut)

Glaukoma Sudut-Tertutup Akut lebih sering ditemukan karena keluhannya yang mengganggu. Gejalanya adalah sakit mata hebat, pandangan kabur dan terlihat warna-warna di sekeliling cahaya. Beberapa pasien bahkan mual dan muntah-muntah. Glaukoma Sudut-Tertutup Akut termasuk yang sangat serius dan dapat mengakibatkan kebutaan dalam waktu yang singkat. Bila Anda merasakan gejala-gejala tersebut segera hubungi dokter spesialis mata Anda.

Secondary Glaucoma (Glaukoma Sekunder)

Glaukoma Sekunder disebabkan oleh kondisi lain seperti katarak, diabetes, trauma, arthritis maupun operasi mata sebelumnya. Obat tetes mata atau tablet yang mengandung steroid juga dapat meningkatkan tekanan pada mata. Karena itu tekanan pada mata harus diukur teratur bila sedang menggunakan obat-obatan tersebut.

Congenital Glaucoma (Glaukoma Kongenital)

Glaukoma Kongenital ditemukan pada saat kelahiran atau segera setelah kelahiran, biasanya disebabkan oleh sistem saluran pembuangan cairan di dalam mata tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya tekanan bola mata meningkat terus dan menyebabkan pembesaran mata bayi, bagian depan mata berair dan berkabut dan peka terhadap cahaya.

Gejala

Gejala yang dirasakan pertama kali antara lain, bila memandang lampu neon atau sumbber cahaya apapun maka akan timbul warna pelangi di sekitar neon tersebut, mata terasa sakit karena posisi mata dalam keadaan membengkak, penglihatan yang tadinya kabur lama kelamaan akan kembali normal, rasa ingin mengedip terus-menerus dengan menekan kedipan berlebihan. Hal inilah yang membuat para penderita glaukoma tidak menyadari bahwa ia sudah menderita penyakit mata yang kronis. Penyakit mata glaukoma ini dapat diderita kedua mata dari si penderita dan jalan satu-satunya untuk mengatasi penyakit ini adalah dengan operasi.

Faktor Risiko

Glaukoma dapat menyerang siapapun. Perlu deteksi dan penanganan dini untuk menghindari kerusakan penglihatan serius akibat glaukoma. Bagi Anda yang berisiko tinggi disarankan untuk memeriksakan mata Anda secara teratur sejak usia 35 tahun.

Faktor-faktor tersebut adalah (1) riwayat glaukoma di dalam keluarga, (2) tekanan bola mata tinggi, (3) miopia (rabun jauh), (4) diabetes (kencing manis), (5) hipertensi (tekanan darah tinggi), (6) migrain atau penyempitan pembuluh darah otak (sirkulasi buruk), (7) kecelakaan/operasi pada mata sebelumnya, (8) menggunakan steroid (cortisone) dalam jangka waktu lama, dan terakhir berusia lebih dari 45 tahun.

Pengobatan

Inti dari pengobatan glaukoma adalah menurunkan tekanan di dalam bola mata. Hal ini dilakukan dengan mengurangi jumlah cairan aqueous humor di dalam mata, mengurangi produksi cairan dalam mata, atau dengan memperbaiki saluran mata yang tersumbat. Obat-obatan yang sering digunakan oleh dokter untuk mengurangi produksi cairan mata antara lain obat golongan beta blocker, contohnya timolol. Selain itu, jika ada indikasi perlu tindakan operasi untuk membuka saluran mata yang tersumbat.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: