Skip to content

Menguak Tabir Kehidupan Suku Pedalaman

by pada 4 Desember 2012
(fotoblur.com)

(fotoblur.com)

Oleh Retno Ayu Fandini

Bayangkan, di zaman modernisasi dengan berbagai teknologi yang semakin canggih ini, masih ada saja suku yang tak mengikuti perkembangannya. Suku yang tetap berpegang teguh pada adat istiadat warisan para leluhurnya. Suku ini terdapat di Banten. Tahukah Anda, suku apa itu?

Ya, Baduy. Sebuah suku yang terletak di desa Kanekas, berada di kaki pegunungan Kendeng, kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak – Rangkasbitung, Banten. Masyarakat Baduy sangat taat pada pimpinan tertingginya (Puun), yang bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan kehidupan masyarakat penganut ajaran Sunda Wiwitan peninggalan nenek moyangnya. Suku Baduy pada dasarnya terbagi menjadi dua kelompok, Baduy Dalam dan Baduy Luar.

Baduy Dalam dikenal sebagai kelompok yang penduduknya sangat patuh terhadap peraturan adat istiadat warisan leluhurnya. Mereka tidak ingin dicemari pengaruh modernisasi dari luar. Mereka benar-benar ingin terus melestarikan warisan itu. Sungguh miris memang, dalam kehidupan mereka sama sekali tak ada perlengkapan yang menunjukan sentuhan modernisasi. Gemerlapnya teknologi, seperti listrik, televisi, handphone dan barang elektronik lainnya pun sama sekali tak terlihat

Selain itu, penduduk Baduy Dalam juga tidak ada yang dapat menulis dan membaca. Anak-anak sebagai generasi penerus yang seharusnya didukung orangtuanya untuk menjadi lebih baik, justru malah tak diperbolehkan untuk menimba ilmu karena takut terkena pengaruh dari luar. Mereka hanya boleh mengenal sawah dan kebun, yang menurut tetua suku merupakan cara suku Baduy Dalam untuk mempertahankan adatnya yang sudah turun-menurun.

Sedangkan Baduy Luar adalah sekelompok orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah budaya Baduy Dalam. Mereka mempunyai keinginan mengikuti perkembangan era modernisasi dan ingin mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Hal itu terlihat dari pakaian yang mereka gunakan, bahkan sekarang beberapa di antaranya memakai kaos oblong dan celana jeans.

Di perkampungan Baduy Luar juga terlihat gemerlap teknologi –seperti listrik, televisi, dan handphone– meskipun penggunaannya masih merupakan larangan untuk setiap orang Baduy, termasuk warga Baduy Luar. Namun, mereka tetap menggunakan peralatan tersebut secara sembunyi, agar tidak ketahuan pengawas dari Baduy Dalam.

Masyarakat Baduy Luar sudah sadar akan kondisi kehidupan di luar sukunya yang hidup dalam modernisasi. Banyak hal yang terjadi di luar masyarakat Baduy, terutama perkembangan teknologi dan pengetahuan umum yang memudahkan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.

Karena kesadarannya itulah, mulai timbul keinginan bersekolah, menimba ilmu sebanyak-banyaknya, agar dapat membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi. Sehingga saat ini terlihat dari sebagian masyarakat Baduy Luar yang mengikuti kegiatan belajar di sekolah kesetaraan Paket A dan B.

Sekolah kesetaraan Paket A dan B yang setara SD dan SMP, disediakan pemerintah di desa Cibuleger dekat pemukiman masyarakat Baduy. Secara adat, sebenarnya masyarakat Baduy tidak diperbolehkan untuk menimba ilmu. Namun jika belajar berdasarkan inisiatif sendiri –menghindari sampai diketahui pemimpin, mereka berangkat sekolah dengan cara berpura-pura pergi ke ladang– kegiatan tersebut masih dapat dilakukan.

Sayangnya, beberapa di antaranya ketahuan, akibatnya beberapa penduduk Baduy Dalam dikeluarkan dan pindah ke Baduy Luar. Mereka menganggap penggunaan teknologi dan bersekolah sangat melenceng dari peraturan adat istiadat yang diwariskan leluhurnya.  Akibatnya, akan sangat mencemarkan budaya mereka.

Untunglah, perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar tidak sampai menimbulkan konflik satu sama lain. Kesadaran warga Baduy Luar yang menginginkan kemajuan dalam kehidupannya sangat bagus, walaupun mereka sampai dikeluarkan dari Baduy Dalam. Semoga ke depan, orang-orang di Baduy Dalam dapat mengikuti jejak warga Baduy Luar, Ya, agar tak ada lagi yang tertinggal dalam era modernisasi ini.

From → Feature Budaya

One Comment
  1. azhmyfm permalink

    Retno, kisah suku Baduy yang kamu paparkan dalam tulisan ini cukup menarik. Sayangnya kurang mendalam, karena yang kamu ketengahkan hanyalah ketertinggalan. mereka terrhadap pengaruh teknologi dan pengetahuan umum di era modernisasi saat ini. Kamu tidak menjelaskan dengan lebih rinci dan lengkapdalam bentuk apa saja dan bagaimana kehidupan suku yang tetap mempertahankan adat istiadat serta menjauhkan diri dari “pencemaran” pengaruh luar. Dan masih banyak lagoi hal yang dapat diangkat dan pasti menarik, jika dikupas lebih lanjut..

    Dari teknis penulisan cukup baik. Hanya saja masih sering terlihat penggunaan kata mubazir dan pengulangan kata. Juga konsistensi kata yang digunakan, seharusnya dijaga hingga akhir tulisan. Atmosfir tulisan masih terkesan datar, tanpa greget. Mungkin bila penulis dapat mengamati secara membaur masuk sebagai bagian suku Baduy,sudut pandang akan terlihat lebih memikat..

    Jadi teruslah berlatih, sembali sesekali coba kirimkan ke media massa. Tak ada kata menyerah bagi seorang penulis. Lantas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: