Skip to content

Pasar Kolong Jembatan

by pada 5 Desember 2012
(lintasbogor-news.blogspot.com)

(lintasbogor-news.blogspot.com)

Oleh Windari Subangkit

Seperti biasanya, pagi ini saya telah dihadapkan pada sebuah pemandangan yang khas. Di mana pada setiap sudut kolong jembatan terlihat padat hingga menyebabkan kemacetan. Jalanan yang licin, berair, bahkan berlumpur. Serta keadaan yang kotor, bising, dan tersembunyi.

Pemandangan itu tak lain adalah sebuah Pasar Tradisional Cileungsi, suatu tempat di pinggiran kota Bogor. Suasana hiruk-pikuk antara para penjual dan pembeli sudah terlihat sesaat sebelum mentari menyapa.

Di sisi-sisi jalan kolong jembatan itu terdapat sederetan kios yang menawarkan barang-barang dagangan. Seperti ikan, daging, serta sayuran. Tak terbayang bagaimana bau tak sedap yang diendus oleh hidung saya. Bahkan saya pun lebih memilih untuk menahan nafas sekuat tenaga. Keadaan sperti ini tak lantas membuat pasar ini sepi pengunjung. Sebab inilah ciri khas dari sebuah pasar tradisional.

Kondisi pasar amat ramai. Kebisingan suara dari para pedagang juga pembeli, serta  kendaraan yang lalu lalang di depan pasar menambah keruwetan Pasar Cileungsi ini. Bagaimana tidak? Lokasi pasar berada tepat di jalur utama yang menghubungkan Cileungsi menuju Bogor, Jakarta, dan Bekasi.

Saya mendatangi salah satu lapak dagang di bawah flyover Cileungsi ini. Pengap, itulah yang saya rasakan. Ketika menanyakan perihal keadaan pasar pada salah satu pedagang, saya agak terkejut mendengar jawabannya.

“Pasar Cileungsi sekarang awut-awutan karena pasarnya sudah pernah kebakaran dan sampai sekarang pasar belum dibangun lagi. Akhirnya pedangang terpaksa berjualan di bawah jembatan ini. Sangat tidak enak,” ujar Ibu Rasiyah, salah satu pedagang sayuran di Pasar Cileungsi.

Dahulu, mungkin jauh sebelum saya dewasa seperti saat ini, pasar tradisional yang ada dihadapan saya mempunyai “rumah”. Di mana setiap kios berjajar dengan rapi dan tertata, jalanan untuk para pembeli pun terbilang cukup luas, tidak seperti sekarang yang harus berdesak-desakan jika ingin berbelanja. Bukan karena kemauan para pedagang berpindah tempat, melainkan keadaan yang memaksa mereka untuk mencari lokasi baru.

Lokasi pasar yang dikenal sejak dulu sudah habis dilalap si jago merah. Tepatnya pada pertengahan Maret 2011 silam. Barang-barang dagangan serta lapak tempat mereka berjualan ikut dilahap oleh amukan api yang membesar. Bagai binatang buas yang naik pitam, tak memandang apapun, segalanya ia hancurkan. Kepulan asap hitam pekat terlihat hingga radius 2 km. Sungguh ironis! Tempat para pedagang kaki lima mengais rezeki harus luluh lantak oleh sapuan si jago merah dengan sangat cepat.

Proyek pembangunan kembali pasar pun ditenderkan oleh pemerintah setempat. Namun, apa daya. Pemerintah hanya pandai berkata-kata. Hingga kini saya tak melihat adanya pembangunan kembali pasar yang telah hilang. Justru kini para pedagang kaki lima yang mengupayakan berbagai cara untuk bisa mencari nafkah demi kelangsungan hidupnya. Walaupun hanya bertempat di sebuah kolong jembatan sekalipun.

Miris. Tetapi jika mereka tak melakukan usaha, bagaimana mereka bisa bertahan hidup? Sampai kapan mereka menunggu realisasi janji-janji pemerintah? Duh!

One Comment
  1. Raden bentar permalink

    Ea bgtlh. tp skrg ud mlai nyamanlah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: