Skip to content

Aku Belajar Darinya

by pada 6 Desember 2012
(sabiilussalam.blogspot.com)

(sabiilussalam.blogspot.com)

Oleh Vania Rahmayanti

Aku selalu mendengar ayah berkata pada ibuku bahwa “Dibelakang lelaki hebat, ada wanita yang lebih hebat lagi”. Ya, aku setuju dengan itu!

Dia satu-satunya orang yang peduli padaku. Dia ada di dalam hidupku untuk menyayangiku. Ketika aku merasa langitku berwarna hitam, dia datang untuk mencerahkannya. Ketika hariku dituruni hujan, dia menawarkan tempat untuk berteduh. Dia selalu ada untukku. Dan tidak ada orang lain yang bisa memberikan apa yang telah ia berikan padaku karena dia adalah IBU-KU.

Ibu sosok yang tegar. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan anak-anaknya, terutama aku. Sebab, aku anak pertamanya. Ibu tidak ingin anak yang sewaktu-waktu akan menggantikan ayahku, menjadi sosok wanita yang lemah. Tanpa kusadari, setiap hal yang ia berikan merupakan suatu pelajaran darinya, agar kelak aku dapat menjadi sosok seperti ibu. Semakin terlihat ketika aku sedang mendapatkan masalah dalam hidupku.

Ketika aku merasa sendirian tanpa kekasih, ibu datang menawarkan diri untuk menemani. Ia menunjukkan bahwa kesendirian itu tidak pernah ada. Ketika aku merasa sedih mendapat sesuatu yang buruk dalam hidupku, ibu datang memberikan mutiara penuh debu.

Ia menunjukkan bahwa sesuatu yang terlihat buruk tidak sepenuhnya buruk, itu hanya lapisan menuju keindahan. Ketika aku selalu mengeluh pada setiap masalahku, ibu datang terdiam dan merenung membuatku merasa sia-sia atas kehadirannya.

Namun dari yang ia lakukan itu, ia menunjukkan bahwa mengeluh takkan berguna tanpa adanya usaha. Ketika aku salah, ibu datang tidak untuk membelaku, tidak pula menyalahkanku. Ibu menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk berbuat salah lalu memperbaiki diri untuk hidup lebih baik dikemudian hari.

Dan ketika aku sedang bahagia dengan duniaku, ibu tak lantas datang untukku. Ibu hanya mengingatkan agar aku tidak terhanyut karena roda kehidupan selalu berputar.

Namun, di suatu keadaan, aku tak melihat sosok mengagumkan itu lagi. Yang aku lihat justru topeng ketegaran yang dipakai kokoh olehnya. Itu terjadi saat ibuku mengandung anak laki-laki selama 7 bulan. Ia sangat mengharapkan anak laki-laki. Tiga anaknya yang telah lahir termasuk aku, berjenis kelamin perempuan. Ibu bangga dengan kehamilan anak laki-lakinya itu.

Namun Tuhan berkata lain. Lewat seorang dokter, Tuhan memberitahukan bahwa anak itu akan segera dibawa-Nya kembali. Anak laki-laki yang ibu tunggu selama ini, tak akan hidup. Bayi mungil itu terserang penyakit hidrosefalus saat di dalam kandungan. Sehingga pada usia kandungan 7 bulan, bayi itu harus dikeluarkan dari rahim ibuku, dengan keselamatan bayi yang hanya diprediksi 45% saja.

Ibu yang tegar menjadi rapuh. Wajah cerahnya menjadi kelam. Senyumnya berubah menjadi tangis. Tuhan, aku miris melihat ibu yang seperti ini. Saat itu, aku ingin sekali menjadi sosok ibu yang dahulu, datang untuk menunjukkan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Namun apa daya, aku tak ada keberanian untuk itu.

Melihatnya saja sudah membuatku ingin menangis bagaimana jika aku yang berniat menguatkan, justru membuatnya semakin rapuh karena melihat aku menangis. Aku tak menginginkan itu, maka aku memilih diam dan berdoa kepada Tuhan agar  diberikan kekuatan saat itu. Tuhan menjawab doaku!

Anak laki-laki ibu tak bisa bertahan, bayi mungil itu hanya bernafas beberapa jam saja hingga akhirnya jantungnya berhenti berdetak dan darahnya berhenti mengalir. Dingin. Pucat. Ibu mengalami depresi. Kehilangan sesuatu yang diidamkan sangatlah menyesakkan. Mengikhlaskannya pun begitu sulit.

Namun sedikit demi sedikit aku datang. Bercerita apapun hingga ibu merespon perkataanku walaupun hanya dengan senyum kecil. Mengajaknya bersenda gurau walaupun hanya dibalas dengan tawa yang dibuat-buat. Aku putus asa. Namun, aku berusaha sekali lagi. Aku membawa kedua adikku untuk menjenguk ibu.

Kami bertanya segala hal saat kami kecil dahulu, berharap ibu bisa mengerti bahwa dia tidak sendirian. Dia masih mempunyai aku dan kedua adikku sebagai anaknya. Bukan anak laki-laki memang, tapi kami tiga anak perempuan yang jika disatukan mungkin akan mengalahkan kekuatan satu orang anak laki-laki.

Itu berhasil! Ibu yang dahulu kembali lagi. Dari awal aku sudah yakin, ibu yang dahulu tidak benar-benar pergi, ibu yang dahulu hanya bersembunyi. Dan kini, ia keluar dari persembunyiannya. Kami bangga melihatnya!

Ibu memang sosok yang tegar dalam hidupku. Tapi aku sadar, ibu hanyalah wanita biasa yang bisa merasa rapuh lalu menangis. Namun, aku lebih yakin lagi bahwa ibu bukanlah sosok yang mudah putus asa. Suatu waktu ia memang bisa jatuh tapi di lain waktu ia akan bangkit dan meneruskan langkahnya.

Saat ini aku tahu mengapa ayah tak pernah bosan mengatakan bahwa “Di belakang lelaki hebat, ada wanita yang lebih hebat lagi”. Itu karena perjuangan ibu yang selalu berusaha memberikan kebahagiaan, ketenangan, motivasi, serta pelajaran dalam hidup kami keluarganya. Sejuta rangkaian kata pun takkan sanggup menggambarkan sosok ibu yang ada dalam hidupku.

Yang pasti, aku belajar segala hal darinya. Sungguh Maha Besar Allah, telah menciptakan makhluk luar biasa yang kusebut IBU. :)

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: