Skip to content

Masih Adakah Karamahan di Negeri Ini?

by pada 6 Desember 2012
(radarcirebon.com)

(radarcirebon.com)

Oleh Ani Sri Nuraini

Sedih rasanya mendengar dan melihat bentrokan antarwarga, suku, hingga perang saudara terjadi di negara kita tercinta. Sedangkan, sejak kecil saya sudah disuguhi wawasan tentang Indonesia yang terkenal akan keramahtamahannnya. Tetapi fakta yang terjadi, khususnya akhir-akhir ini, ciri khas itu perlahan-lahan menguap layaknya embun pagi yang terkena terik matahari, menghilang bersamaan dengan waktu.

Keramahan warga Indonesia sudah diakui banyak turis asing, yang pernah menetap atau pun berlibur di negara ini. Karena keramahan itulah, Indonesia menjadi bangsa yang dipandang dengan berbagai budayanya yang menarik. Akan tetapi, keramahan tersebut semakin lama memudar dan luntur termakan zaman.

Akibat hilangnya ciri khas tersebut, timbul lah bentrokan antarwarga atau suku, yang menjadi gambaran hilangnya keramahan bangsa kita untuk saat ini. Padahal Indonesia sangat menjunjung tinggi keramahan dan sopan santun, gotong royong dan tolong menolong, serta hormat menghormati, tetapi mengapa mudah sekali tersundut api amarah?

Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah karena ada perkataan seperti “Lu jual gue beli, lu tenang gue santai, lu macem-macem gue bacok” yang selalu melekat di benak masyarakat, sehingga dapat memancing emosi sampai terjadinya pertikaian?

Pendorong atau penyebab hilangnya keharmonisan, kedamaian, keselarasan, serta kestabilan pada masyarakat terjadi karena nilai-nilai karakter bangsa yang mengalami penurunan. Namun, hal tersebut dapat dipertahankan dan dilestarikan, apabila kita merefleksikan kembali asal muasal nilai-nilai tersebut berkembang. Tetapi hingga sekarang, refleksi tersebut belum dilakukan.

Bentrokan Antarwarga atau suku

Keramahtamahan menghilang karena dipengaruhi oleh berbagai aspek, salah satunya karena kurangnya keseimbangan antara nilai-nalai karakter bangsa dengan emosional dalam diri dalam setiap individu. Akibat hilangnya keramahtamahan itu lah, yang mengakibatkan bentrokan antarwarga atau suku terjadi.

Sebagai contoh, bentrokan antarwarga atau suku yang terjadi baru-baru ini yaitu di Desa Balinuraga, Kecamatan Waypanji, Lampung  Selatan. Saaat masalah tersebut belum sempat mereda, dalam sehari terjadi bentrok lagi didua wilayah di  tanah air.  Pertama, bentrok susulan melibatkan warga Desa Tinggede Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, dengan warga Kelurahan Tatura Selatan Kecamatan Palu Selatan, di Palu, Sulawesi Tengah. Kedua,  konflik antarwarga  di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur  (NTT). Seperti yang dilansir situs berita online terpecaya.

Konflik antarwarga di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) melibatkan warga Dusun Bele dan Dusun Riangrunga, Desa Lewobunga. Pertikaian tersebut dikarenakan tarian provokasi warga Lewobunga yaitu tari hedung (tari perang) dan makian yang memicu amarah warga Dusun Bele.

Sedangkan,  pertikaian warga Desa Tinggede Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, dengan warga Kelurahan Tatura Selatan Kecamatan Palu Selatan, di Palu, Sulawesi Tengah dikarenakan terpicu dengan  perselisihan pemuda saat Idul Adha 1433 Hijriah pada 25 Oktober 2012 lalu. Pada saat itu, pemuda Tinggede melintas di Tatura Selatan dan ditahan oleh pemuda sana karena membawa panah. Pemuda itu sempat melepaskan anak panah sehingga pemuda Tatura Selatan mengejar dan menghajarnya hingga terluka.

Dari ketiga masalah tersebut kita dapat melihat sebagian dari gambaran hilangnya keramahtamahan bangsa ini. Permasalahan yang muncul pada bentrok tersebut sangat lah sederhana, dikarenakan kesalahanpahaman dan  perasaan tidak saling menerima. Tetapi, karena kebiasaan jelek orang Indonesia yang terlalu membesar-besarkan masalah, sehingga menimbulkan bentrokan tersebut semakin menjadi dan tidak berujung.

Permasalahan yang terjadi di negara kita ini harusnya menjadi cambuk keras untuk kita dan pemerintah. Agar kita sadar dan mau membantu memperbaiki nilai-nilai karakter bangsa dengan menghargai satu sama lain, serta melestarikan keramahtamahan yang dipertahankan oleh nenek moyang kita, sebagai salah satu budaya yang tak ternilai di mata dunia.

==========================================================================

Referensi:

http://dutaonline.com/korban-lampung-14-tewas-bentrok-lain-di-3-daerah/

http://kontak.staff.uns.ac.id/2012/07/11/seminar-nasional-%E2%80%9Cwong-cilik-peretas-karakter-bangsa%E2%80%9D/

http://lisalatief.wordpress.com/2010/09/03/kemana-toleransi-dan-keramahan-bangsa-ini/

http://goonersneverdie.wordpress.com/2011/04/26/senyuman/

http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2012/05/31/negaraku-di-dalam-lagu/

From → Feature Budaya

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: