Skip to content

Minat Baca Menentukan Kemajuan Bangsa

by pada 7 Desember 2012

Oleh Rangga Rahadiansyah

Buku adalah jendela dunia. Membaca buku merupakan aktivitas ringan yang memberikan dampak luar biasa. Dengan membaca, kita dapat meningkatkan kemampuan otak. Menurut sebuah penelitian, membaca memiliki manfaat. Antara lain melatih otak, meringankan stres, serta meningkatkan konsentrasi.

Warga Jepang tengah serius membaca walaupun tak kebagian duduk di densha (kereta rel listrik)

Tidak hanya itu, kemajuan bangsa juga dilihat dari minat baca masyarakatnya. Di Jepang, buku sudah mendarah daging. Membaca bukan sekadar kebutuhan, tapi menjadi bagian kegiatan sehari-hari yang wajib dikerjakan oleh masyarakat Jepang.

Jumlah buku yang diterbitkan di Jepang mencapai 40.000 judul buku pertahun. Hmm.. cukup banyak bagi negara yang berpenduduk lebih sedikit dibanding Indonesia. Semua itu karena budaya baca tulis, yang sudah dibiasakan sejak dini untuk masyarakat Jepang.

Sedangkan di Indonesia, angka produksi buku masih belum membanggakan. Hingga tahun 2011, tercatat cuma kurang lebih 20.000 judul buku yang terbit di Indonesia. Bayangkan, jika penduduk Indonesia berjumlah 240 juta, bisa diperkirakan satu buku dibaca oleh 80.000 orang. Bagaimana bisa, satu buku dibaca 80.000 orang?

Ya, membaca bukanlah aktivitas yang diutamakan oleh orang-orang Indonesia. Saat ini, minat membaca masih sangat rendah. Jangankan di angkutan umum, di toko buku dan perpustakaan pun pengunjungnya hanya segelintir orang. Tak sedikit juga yang  mencari buku di toko buku atau perpustakaan sebatas keperluannya saja.

Seperti untuk bahan tugas kuliah, atau kepentingan lainnya yang mendesak. “Kalau nggak terlalu penting, saya malas baca buku. Lagian tulisannya kecil-kecil dan isinya bertele-tele. Mendingan nyari di Google,” aku Nita, mahasiswi semester tiga sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta.

Di Jepang, Setiap angkutan umum –seperti densha (kereta rel listrik)– hampir semua penumpang menghabiskan waktu perjalanannya dengan membaca buku. Bahkan banyak juga orang yang tak mendapat tempat duduk, tapi tetap serius membaca.

Indonesia? Ah, jangan ditanya.. Penumpang kereta api dan bis kota di Indonesia, lebih memilih tidur atau mendengarkan musik. Yang lebih konyol lagi, penumpang kereta api di Jakarta justru asik bercanda, ketawa cekikikan, menggosip dan menggoda perempuan dari atap kereta.

Melakukan hal tak penting dalam menghabiskan waktu luang, sudah menjadi kebiasaan sebagian orang Indonesia. Tak banyak yang menghabiskan waktu luangnya dengan membaca, lantaran kurangnya minat baca masyarakat. Selain itu, harga buku yang tinggi juga berpengaruh. Buku-buku di Indonesia tergolong mahal, tak banyak orang yang mampu membeli buku.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah menyatakan, tingginya harga buku di Indonesia disebabkan sistem distribusi buku yang kurang tepat. Karenanya jika ingin menciptakan harga buku murah, perlu pembenahan sistem distribusi buku.

Sistem distribusi yang tidak berjalan dengan benar, menurut Kalla, akan memengaruhi jumlah produksi buku dan akhirnya juga berdampak pada harga. Jika distribusi tidak tersebar baik, apalagi dicetak dalam jumlah minimum, harganya pasti melonjak tinggi. Penyebab lainnya adalah diskon yang diminta toko buku. Besarnya tidak kira-kira, sampai 50 persen. Bahkan, kadang mencapai 55 persen.

Ah. Sistem perbukuan di Indonesia memang menyulitkan. Nyaris selalu ada pungutan di sana-sini. Bagaimana mungkin menjadi bangsa maju, jika dalam mencerdaskan sumber daya manusianya saja sepertinya cenderung ‘dipersulit’?

Belum lagi minat baca yang kurang, akibat mahalnya harga buku. “Kalau bawa uang pas-pasan dan harga bukunya mahal, mendingan buat makan,” kata Nita. Tetapi, jika memang berniat membaca, haruskah membeli buku? Bukankah perpustakaan dibuat untuk meminjamkan buku?

Hmm… Pantas saja, pendidikan di negeri tercinta ini tidak merata. Toh, sumber daya manusianya saja masih banyak yang tidak berminat membaca. Mau sampai kapan Indonesia dinilai sebagai bangsa yang bodoh, karena rendahnya minat baca masyarakat?

Jadi, mengapa kita tidak mulai membaca sekarang juga?

From → Feature Budaya

2 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Rangga, tema yang kamu pilih sangat menarik. Karena rendahnya minat baca memang menjadi ‘momok’ bagi kemajuan dunia pendidikan, yang pada akhirnya ikut menentukan kemajuan bangsa. Pembelaan terhadap intelektualitas, tidak pernah dimenangkan atas popularitas. Prestise tak mau beriring prestasi. Padahal jika prestasi diutamakan, prestise pasti otomatis akan didapat ya..

    Kamu menyampaikannya cukup padat, meski tetap menarik. Namun pengulangan kata dan penggunaan alinea pendek, agaknya masih perlu diperhatikan dan diperbaiki.Pendapat nara sumber yang dikutip, terbukti ikut mewarnai. Akan lebih sportif jika keluhan di tubuh tulisan, dapat diakhiri dengan penutup yang lebih menghimbau secara positif..

    Yang pasti, tulisan ini menjadi langkah awalmu untuk mengukir prestasi. Mau?

  2. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Sabtu 05 Januari 2013 pukul 10.05 WIB (lihat disini: http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3039/2013/Minat-Baca-Tentukan-Kemajuan-Bangsa).. Ayo, siapa lagi menyusul..

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester Rangga akan saya penuhi. Ayo, siapa lagi menyusul?

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Rangga dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: