Skip to content

Saat Sastrawan Membicarakan Sastra

by pada 7 Desember 2012

Oleh Azuwit Tri Yanti Gani

Malam itu hujan turun deras dan membuat hawa terasa dingin, tapi suara mereka membawa kehangatan tersendiri. Suara mereka menggema dalam ruangan. Ada yang berdiri dengan tenang, duduk, bahkan tak bisa berhenti bergerak, sedang mulut merapal kata-kata. Semuanya, sosok terkenal di negaranya. Kini, mereka berkumpul di satu tempat dan membaca bersama kata-kata indah perangkai kehidupan.

(gedungkesenianjakarta.blogspot.com)

(gedungkesenianjakarta.blogspot.com)

Masih jelas dalam ingatan, pementasan pembacaan puisi pada Jakarta International Literary Festival (JILFest), 7 Desember 2011, lalu. Acara yang berlangsung di tiga tempat di Jakarta tersebut, masih menarik untuk dibicarakan. Festival sastra bertaraf internasional tersebut mendatangkan banyak sastrawan dalam dan luar negeri. Mereka berkumpul di sana, untuk menghadiri berbagai acara yang berkaitan dengan dunia sastra.

Pada 6-9 Desember 2011 lalu, merupakan pergelaran kedua bagi festival sastra dua tahun sekali tersebut. Bertempat di Hotel Millenium, Gedung Kesenian Jakarta, dan Galeri Nasional, acara dimulai dengan pertemuan sastrawan dalam dan luar negeri serta seminar sastra internasional. Acara dilanjutkan dengan pementasan karya-karya sastra dan bazar buku sastra. Ada juga penulisan cerpen, penerbitan buku kumpulan cerpen, dan lomba penulisan cerpen. Puncak dari acara tersebut adalah pementasan pembacaan puisi di Gedung Kesenian Jakarta.

Sutardji Calzoum Bachri membacakan Batu dan Berdarah dalam bahasa Inggris, serta Wahai Pemuda Mana Telurmu? Chavcay Syaefullah, membawakan puisi Jakarta, Kapan Pulang. Raja Penyair Cirebon, Ahmad Syubanuddin Alwy, membacakan puisinya, Papua dan Di Sebuah Negeri. Penyair dari berbagai negara pun turut menyumbang puisinya untuk dibacakan malam itu. Prof. Zefri Arif, sastrawan Brunei Darussalam, membacakan puisinya Daun Berteduh dan Tiang. Penyair Leonowens S.P. dan Wang Xi dari Republik Rakyat China, masing-masing membawakan puisi berjudul Ivory dalam dua bahasa berbeda.

Inspirasi dan Proses Penyucian Diri

Kemajuan dalam bidang sastra adalah salah satu indikator kemajuan sebuah bangsa. Semakin tinggi apresiasi dan kesadaran masyarakat terhadap sastra, semakin baik pula kondisi negara tersebut. Apresiasi tersebut dapat ditunjukkan melalui sebuah festival sastra. JILFest adalah perwujudan apresiasi tersebut. JILFest pertama kali digelar pada 11-14 Desember 2008.

Puluhan sastrawan dalam negeri dan internasional berkumpul untuk membicarakan dunia sastra dan perkembangannya. Sekalipun masih ada kekurangan dalam banyak hal, tetapi kehadiran festival sastra ini dapat memberikan harapan untuk peningkatan kualitas sastra Indonesia.

Selain untuk mengapresiasi, festival sastra diadakan karena adanya kesadaran untuk mempromosikan sastra Indonesia kepada dunia luar. Sastrawan dalam negeri dan internasional bertemu lalu berbagi ide. Pertukaran ide inilah, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sastra Indonesia. Melalui pertukaran ide ini pula, sastrawan luar akan mengetahui kualitas sastrawan Indonesia dan karya yang dihasilkannya.

Kualitas untuk sebuah karya sastra sangat penting artinya bagi sebuah masyarakat dan negara. Karena sastra, tidak hanya tentang menulis sebuah cerita, puisi, atau drama, tetapi penerang kehidupan. Sesuatu yang dapat menginspirasi orang banyak, dapat mengilhami orang lain untuk berbuat sesuatu terhadap sesamanya. Oleh sebab itu, menjaga kualitas sastra, seperti menjaga nilai-nilai kehidupan.

Menulis sendiri, adalah proses penyucian diri, sebuah proses untuk menuju kematangan berpikir. Menulis, dapat membantu seseorang mengenal diri sendirinya lebih baik, peka melihat situasi dan keadaan, pandai mengendapkan pengalaman, lalu mencari makna dari setiap kejadian untuk kembali pembaca telaah. Akhirnya, makna kehidupan yang telah ditransformasi oleh penulis ke dalam kata-kata, dapat kita baca, tonton, atau dengar. Makna kehidupan yang diharapkan dapat menginsipirasi dan membawa perubahan kepada setiap pembacanya.

Dengan demikian, sosok sastrawan menjadi sangat penting dalam suatu negara. Karena sejatinya, sastrawan tidak hanya menghasilkan karya sastra, tetapi seorang pemikir. Seorang inspirator bagi negaranya, penggerak untuk sebuah perubahan melalui kata-katanya. Andrea Hirata melalui tetralogi Laskar Pelangi, menginspirasi banyak orang tentang betapa pentingnya sebuah pendidikan dan perjuangan untuk menggapai mimpi yang dimiliki.

Bukunya menjadi sebuah sejarah baru dalam dunia sastra Indonesia dan masyarakat berbondong-bondong menonton filmnya. Sebuah kesadaran baru datang pada diri masyarakat: betapa pendidikan menentukan dalam hidup seorang anak manusia. Pendidikan menjadi akar kehidupan bagi perkembangan suatu bangsa. Tetralogi Laskar Pelangi menjadi sebuah fenomenal, air di tengah dahaga kehidupan berbangsa yang semakin jauh dari nilai-nilai kebaikan.

Itulah kekuatan sastra. Kekuatan yang harus selalu dijaga dan dikembangkan. Salah satu caranya, adalah dengan festival sastra. Festival yang masih berusia muda ini, diharapkan dapat membawa banyak dampak positif terhadap dunia sastra Indonesia.

Tentunya, festival yang akan datang, diharapkan dapat terselenggara dengan lebih baik,  menghadirkan lebih banyak sastrawan dan terasa lebih dekat dengan masyarakat. Festival ini, diharapkan dapat berlangsung terus menerus, seperti halnya sastra yang diharapkan untuk terus menginspirasi banyak orang.

Berbeda, tetapi Sama

Selain Jakarta, Bali juga memiliki acara sastra tingkat dunia, yaitu Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Festival yang dilaksanakan setiap tahun ini, merupakan salah satu program Yayasan Mudra Swari Saraswati yang bergerak di bidang sastra, seni, dan budaya. Berbeda dengan JILFest yang baru memasuki tahun kedua, UWRF telah memasuki tahun kesembilan dan telah mendatangkan sastrawan dari banyak negara.

Festival ini diselenggarakan pertama kali pada tahun 2004 dengan tujuan untuk mengembalikan pariwisata di Bali setelah adanya tragedi bom Bali pada Oktober 2002. Sekali lagi, sastra menunjukkan pengaruhnya dalam hidup masyarakat. Tidak hanya kata-kata pembangkit semangat, tetapi juga salah satu cara untuk memperbaiki suatu keadaan. UWRF sendiri pernah menyandang predikat “One of the six best literary festival in the world” Harper’s Bazaar, United Kingdom.

Meskipun, UWRF memiliki sejarah lebih lama dan telah mencapai prestasi sebagai salah satu festival sastra terbaik di dunia, festival tersebut sejatinya tak berbeda dengan JILFest. Kedua festival tersebut, memiliki satu persamaan.

Persamaan tersebut, yaitu menjadikan sastra sebagai wadah untuk mencapai tujuan mereka. Sastra telah menginspirasi dan diyakini sebagai salah satu cara yang dapat menyatukan manusia. Pada akhirnya, mereka pun bersatu untuk menjaga dan meningkatkan dunia sastra Indonesia.

From → Feature Budaya

One Comment
  1. azhmyfm permalink

    Uki Bayu Sedjati, mantan Redaktur Budaya majalah Amanah dan penggiat budaya:

    Salam. Tulisan tentang sastra ini kan kayaknya “opini” terhadap kompilasi berita-berita kegiatan kesusasteraan. Bagi peminat sastra mungkin no problem, tapi bagi pengamat apalagi penggiat/pelaku sastra, rasanya kok:penulis kurang banyak tahu “peta sastra dan dinamika kesusasteraan.” Hemat saya, walau mahasiswa berminat dan semangat, baiknya dilengkapi dengan referensi tentang masalah terkait. Silakan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: