Skip to content

Habis Batik Terbitlah Tenun

by pada 8 Desember 2012

Oleh Btari Puspita Rini

New Picture (5)

Pengrajin tenun sedang mengoperasikan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) pada acara Indonesia Fashion Week. (Foto: Btari Puspita Rini)

Indonesia, negara yang sangat kaya akan budaya. Begitu pula dengan tradisi tekstil, yang sangat beragam. Tenun, sebagai salah satu warisan kebudayaan Indonesia, sudah selayaknya dilestarikan seperti batik. Namun minat masyarakat terhadap tenun masih tergolong rendah, sehingga membuat pengrajin tenun di berbagai daerah terhambat kreativitas dan kesejahterannya.

Kekayaan tekstil Indonesia, sering mendapat beragam prestasi di dunia mode internasional. Pada 2 Oktober 2009, batik ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO. Kebanggaan akan semakin bertambah, apabila UNESCO juga mengakui tenun sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage). Eksistensi tenun di mata dunia, sebaiknya lebih diperhatikan. Bahkan banyak orang asing yang mulai jatuh cinta pada tenun, seperti kecintaan mereka terhadap batik.

Tenun, merupakan mahakarya Indonesia di bidang tekstil, dengan tingkat kerumitan yang tinggi dalam proses pembuatannya. Indonesia memiliki beragam jenis tenun sesuai dengan suku masing-masing. Setiap etnis memiliki bahasa sendiri dengan lebih dari 100 dialek, memiliki adat, budaya dan kesenian tersendiri.

Hal ini memengaruhi betapa banyak corak hias atau motif tenunan pada kain tradisional di Indonesia. Setiap suku mempunyai ragam hias tenunan khas yang menampilkan tokoh-tokoh mitos, binatang, tumbuh-tumbuhan dan juga pengungkapan abstraknya yang dijiwai oleh penghayatan mendalam akan kekuatan alam ciptaan Tuhan.

Tenunan yang dikembangkan oleh setiap etnis di Indonesia merupakan seni kerajinan tangan turun-temurun yang diajarkan kepada anak cucu agar tetap lestari. Motif tenunan yang dipakai seseorang, akan dikenal sebagai ciri khas dari suku atau pulau mana orang tersebut berasal.

Pada suku atau daerah tertentu, motif binatang atau orang-orang lebih banyak ditonjolkan. Seperti Sumba Timur dengan corak motif kuda, rusa, udang, naga, singa, orang-orangan, pohon tengkorak, dan lain-lain. Sedangkan Timor Tengah Selatan banyak menonjolkan corak motif burung, cecak, serta buaya. Ada pula daerah lain yang memiliki corak bunga-bunga atau dedaunan pada kain tenunnya.

Kain tenun dari berbagai daerah di Indonesia, secara adat dan budaya memiliki banyak fungsi. Antara lain, sebagai busana sehari-hari untuk melindungi tubuh, sebagai busana yang dipakai dalam tari-tarian pada pesta atau upacara adat, sebagai alat penghargaan dan mas kawin, sebagai alat penghargaan dan pemberian dalam upacara kematian.

Kain tenun pun memiliki fungsi hukum adat, sebagai denda adat untuk mengembalikan keseimbangan sosial yang terganggu, sebagai alat tukar, sebagai prestise dalam strata sosial masyarakat. Sebagai mitos, lambang suku yang diagungkan, karena menurut corak tertentu akan melindungi mereka dari gangguan alam, bencana, roh jahat, dan lain-lain.

Nasib warisan budaya tradisional ini jarang disukai oleh generasi muda. Untuk itu, dibutuhkan suatu gerakan dalam melestarikan tenun. Hal ini bisa diakali dengan melekatkan pola kekinian. Dewasa ini, tenun merupakan bahan busana resmi. Seiring perkembangan zaman, kain tenun pun didesain modern untuk memenuhi permintaan atau kebutuhan konsumen, agar warisan tekstil dengan detail yang rumit ini tetap eksis.

Saat ini, tenun sudah mendapat pengakuan internasional dan sudah banyak diadaptasi agensi fashion di seluruh dunia. Namun, belum mendapatkan pengakuan dari UNESCO. “Dibutuhkan proses verifikasi yang memakan waktu sekitar satu tahun, sehingga pada tahun 2013 kita harapkan pengakuan dari UNESCO untuk tenun, khususnya tenun Sumba sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage) dari Indonesia dapat diumumkan,” jelas Ibu Okke Hatta Rajasa selaku ketua Cita Tenun Indonesia (CTI).

Jika budaya dianggap sebagai identitas suatu bangsa, maka membiarkan satu persatu budaya kita pudar diterkam ketidakpedulian sama artinya dengan melepas pergi identitas bangsa ini. Dibutuhkan dukungan dari segenap masyarakat Indonesia, agar warisan budaya tetap terjaga dan diakui di mata internasional. Karena itu, mari dukung tenun mendapat pengakuan sebagai warisan budaya tak benda!

From → Feature Budaya

2 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Senin 07 Januari 2013, pukiul 21.32 WIB (lihat disini: http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3055/2013/Habis-Batik-Terbitlah-Tenun).. Ayo, siapa lagi menyusul

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi bagi Btari . Ayo, siapa lagi menyusul?

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Btari dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

  2. Btari, tema tulisanmu bagus..Betapa tenun yang tak kalah pamornya dari batik, nyaris tersisih dalam pembicaraan budaya. Karenanya bila kamu mengangkat ini, jelas akan menambah wawasan tentang tenun yang masih sedikit dipublikasikan.. Sayangnya belum terlalu rinci penjabarannya, misalnya bagaiman fungsi tenun selain sebagai busana khas daerah, proses dan perkembangannya..

    Dari teknis penulisan, tak ada yang diragukan.. Bakat dan minatmu semakin menuntunmu menjadi penulis hebat, kelak. Tapi, mesti lebih serin g menulis dan mengirimkan, supaya “your feeling is good” dan memberi manfaat bagi lebih banyak orang..

    Oke, ditunggu karyamu yang lainnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: