Skip to content

Budaya Mengaji yang Sudah Tererosi

by pada 9 Desember 2012
(republika.co.id)

(republika.co.id)

Oleh Deasy Amalia

Alunan ayat demi ayat amat merdu, dibacakan oleh bapak-bapak yang mengaji. Banyak di antara mereka yang tetap duduk manis di masjid sehabis shalat Maghrib. Namun, kemanakah para generasi muda kita?

Waktu aku masih kecil, setiap hari sehabis shalat Magrib ramai-ramai anak seusiaku belajar mengaji. Berbondong-bondong kami berangkat ke masjid, sepuluh menit sebelum adzan, dengan tidak lupa membawa mukena. Saat itu, aku masih membaca “Iqra.”

Begitu selesai sholat Magrib, kami mulai mengaji. Suara kami bergantian dan bersahutan membaca huruf huruf hijaiyah. Dengan didampingi guru, aku semakin paham akan berbagai tajwid. Hingga pada akhirnya, tibalah saatnya bagiku melanjutkan Iqra jilid 6 ke Al-Qur’an.

Sepuluh, bahkan dua puluh tahun lalu, kita biasa hidup di tengah masyarakat yang secara rutin mengaji. Begitu Magrib, kita semua masuk ke majelis taklim atau pesantren, untuk menjalankan ibadah tersebut.

“Budaya Magrib Mengaji” merupakan istilah yang begitu melekat, dalam kebiasaan masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Mulai desa terpencil sepi hingga kota besar yang hingar bingar dengan kehidupan duniawi, semua tahu itu. Penduduknya mengenal mengaji sebagai aktivitas yang akrab, dalam sosiodemografis Islam Indonesia yang heterokultural dan agamis.

Namun amat disayangkan, rutinitas tersebut mulai luntur akibat perubahan pola perilaku masyarakat modern. Budaya ini terasa semakin menghilang, seiring majunya teknologi informasi, khususnya televisi. Berbagai tayangan seakan sengaja ditampilkan selesai Magrib, agar perhatian semua orang terfokus pada televisi.

Sementara beban mata pelajaran di sekolah makin tinggi, yang menyebabkan anak-anak pulang sekolah sampai sore, sehingga tidak sempat lagi mengaji di masjid. Belum lagi kehadiran berbagai media sosial, yang seakan menghipnotis seluruh anak muda. Mereka seperti terbuai akan kehadiran facebook, twitter, dan semacamnya itu. Kemana kah teman-teman mengajiku dulu?

Sebenarnya kalau kita telaah lebih dalam, mengaji memberikan dampak yang luar biasa dalam berbagai aspek. Pertama, aspek afektif. Meski tidak langsung mampu mempengaruhi sifat anak, untuk lebih peka terhadap sifat ketuhanan atau Tauhid.

Kemudian, aspek kognitif. Melalui hafalan surat pendek atau membaca susunan ayat Al-Qur’an, kita dapat memperkuat struktur otak dalam kemampuan mengingat dengan menggunakan daya nalar. Dan terakhir, aspek psikomotorik. Dengan membaca Al-Quran menggunakan tekanan dan lafal tertentu, kita dapat memperkuat pernapasan dan kesehatan otak serta melancarkan aliran darah.

Karena begitu besarnya manfaat mengaji, Menteri Agama RI, Surya Darma Ali, mencanangkan gerakan Magrib mengaji atau disingkat “Gemar Mengaji.” Sayang, ide yang sangat baik itu ternyata sebatas slogan.

Jika memang wacana itu bisa direalisasikan, akan dapat terlihat pada anak-anak atau remaja yang sedang tumbuh berkembang di tengah arus globalisasi dan liberalisasi, hingga setidaknya bisa membendung masuk pemikiran negatif. Sebab dengan mengaji, sejatinya bisa menjadi penyaring hal-hal buruk.

Refleksi Diri

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1-5).

Bacalah, itulah firman Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Berawal dari aktivitas membaca, semua rahasia ilmu akan terbuka. Dengan membaca, kita dapat membuka pintu gerbang pengetahuan yang sebelumnya tidak pernah kita ketahui.

Membaca sudah menjadi awal dari wahyu ketuhanan, yang memberi gambaran pemahaman bagi orang yang berpikir, aktivitas membaca sangat penting di hadapan Tuhan. Tentunya aktivitas membaca sanggup memberi makna dan manfaat yang dahsyat, bagi manusia yang membiasakannya.

Kalau dicermati lebih dalam, perintah membaca di atas bersifat umum. Meskipun demikian, aktivitas membaca Al-Qur’an hendaknya lebih mendapat prioritas. Sebab dengan membaca Al-Quran, manusia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat.

Ironis dan menyedihkan, itulah komentar yang pantas diberikan kepada masyarakat Islam yang enggan membaca.  Akhirnya, perlu kita renungi kembali makna wahyu pertama (QS.Al-Alaq: 1-5) agar kita mampu menjadi manusia yang intelek, bangsa yang maju, bangsa yang terkenal dengan budaya dan peradaban yang tinggi di tingkat intelektual.

Apakah kebiasaan mengaji akan mengurangi waktu 24 jam kita? Jadi, kalau tidak dimulai dari diri sendiri, siapa lagi?

From → Feature Budaya

2 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, tulisan ini berhasil dimuat di Republika Online pada Rabu, 19 Desember 2012 pukul 13.14 WIB (lihat disini: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/12/12/19/mf9lbj-maghrib-mengaji).

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi. Deasy cukup datang untuk tandatangan berita ujian saja, tanpa harus mengikuti ujian. Ayo, siapa menyusul?

    Semoga hal ini menjadi langkah awal bagi keberhasilan Deasy dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb..

  2. azhmyfm permalink

    Deasy, temamu menarik. Benar, “Budaya Mengaji” memang sudah luntur, bahkan sekarang termasuk di pedesaan yang dulu sangatlah kental. Akibat kotak ajaib bernama televisi, arus modernisasi nyata-nyata menggusur budaya mengaji. Tidak heran apabila Gerakan Mari Mengaji yang diprakarsai Menteri Agama, cuma sebatas slogan dan hilang gaungnya..

    Dari sisi penulisan sudah cukup baik, meski beberapa konsistensi aturan penulisan kata masih perlu diperhatikan. Begitu juga penggunaan kata mubazir dan pengulangan, sedapat mungkin dihindari. Judul seharusnya menarik, tapi penggunaan awalan “ter” pada “erosi”, membuatnya menjadi “aneh”. Benar begitu kah, menurutmu?

    Jadi, teruskan produktivitas menulismu, tentu dengan membiasakan diri selalu membaca ulang seusai tulisan rampung disusun.. Oke?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: