Skip to content

Memetik Nilai Kehidupan Sang Pengemis

by pada 9 Desember 2012
(flickr.com)

(flickr.com)

Oleh Devi Septiningtyas

Tua dan renta, adalah kesan pertama  ketika melihat sesosok nenek, yang berdiri di sudut pasar. Dengan wajah kusamnya, nenek tua itu berjalan  di antara lalu-lalangnya orang dan berharap ada yang memberinya uang. Sungguhkah ia seorang pengemis atau penjahat bertopeng pengemis?

Lastri (68) di usianya yang telah senja, keterpaksaan membuat dirinya terjun menjadi pengemis. Ia mengatakan tak ada pilihan lain, sehingga memutuskan menjadi pengemis. Dengan kerentaan tubuhnya,  ia terpaksa hanya mengandalkan belas kasihan pengunjung pasar.

Setiap hari ketika sang surya mulai mengintip pagi, ia sudah berada di pasar. Nenek yang tiap harinya menggantungkan hidupnya di Pasar Becek ini mengaku, ia mulai mengemis jam 6 pagi hingga jam 5 sore. Ia berjalan sambil mengangkat tangan, menunggu siapa saja yang akan memberinya uang. Panas terik dan hitamnya asap kendaraan pun tak terhiraukan.

Penghasilan yang ia terima tidak menentu, sekitar enam sampai delapan ribu rupiah saja. Hasil jerih payahnya seharian itu cuma cukup untuk makan. Ia mengaku, saat ini hidupnya sebatang kara.”Sejak tujuh tahun yang lalu, suami saya telah meninggal. Anak juga entah kemana, tidak ada yang berbakti,” ujarnya lirih.

Sosok nenek asli Betawi ini cukup bersahaja, ia tetap bersyukur kepada Tuhan atas semua yang dilimpahkanNya. “Walaupun serba kekurangan, saya bersyukur masih diberikan kesehatan,” terangnya.

Dengan demikian, jangan pernah memandang sebelah mata profesi seseorang. Ternyata sosok pengemis yang selama ini dianggap sebagai sampah masyarakat, bisa mengajarkan nilai kehidupan. Sederhana, memang, tapi nyatanya ucapannya mengajarkan kita untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan.

Bukankah Tuhan akan menambah nikmatNya, jika kita pandai bersyukur?

One Comment
  1. azhmyfm permalink

    Devy, kok singkat tulisanmu? Padahal saya yakin, bil;a kamu gali lebih dalam melalui wawancara dengan Mak Lastri, tentu akan sangat banyak nilai kehidupan yang kita dapat petik darinya. Selain kebersahajaan, juga ketegaran dan kemandirian. Belum lagi pengalamannya yang sudah lama “makan asam dan garam” kehidupan, tentu melahirkan nilai-nilai yang dapat kita teladani..

    Dari teknis penulisan, sudah cukup baik. Hanya beberapa kata yang berulang dan mubazir, perlu lebih teliti dicermati. Andai saja dirimu lebih sering berlatih, tentu hal ini bisa diatasi..Jangan lupa, ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: