Skip to content

Ritual Bakar Tongkang, Satu–satunya di Dunia

by pada 9 Desember 2012
(heprasyana.wordpress.com)

(heprasyana.wordpress.com)

Oleh Sophia

Ritual Bakar Tongkang atau Go Cap Lak adalah sebuah ritual tahunan masyarakat Bagansiapiapi yang telah terkenal di mancanegara dan masuk dalam kalender Visit Indonesia. “Go” berarti bulan kelima dan “Cap Lak” berarti enambelas. Perayaan Go Cap Lak jatuh pada tanggal 16 bulan kelima kalender Cina setiap tahunnya.

Tradisi unik yang dipelihara turun temurun ini hanya satu-satunya di dunia, sebagai bagian budaya di Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Kegiatan ini sudah berjalan sekitar satu abad. Tradisi “Bakar Tongkang” dirayakan setiap tahunnya oleh etnis Tionghoa, untuk mengenang leluhur mereka yang telah mengarungi lautan menggunakan Tongkang.

Perayaan yang saat ini sudah dijadikan wisata nasional tersebut, sangat didukung Pemerintah Daerah setempat. Wujud dukungan pemerintah daerah dalam ritual ini, dengan turutsertanya semua Dinas Pemerintahan dalam pawai perayaan.

Sejarah “Bakar Tongkang”

Banyak versi sejarah yang melatarbelakangi ritual unik warga Tionghoa ini. Tradisi “Bakar Tongkang” dimulai sejak hijrahnya 18 orang Tionghoa bermarga Ang ke Bagansiapiapi, karena dikejar penguasa Siam di daratan China. Mereka menggunakan tiga kapal kayu –yang disebut wang kang atau tongkang– untuk bermigrasi ke Desa Songkla di Thailand pada 1825.

Masa migrasi di Thailand tidak berlangsung lama. Pendatang Tiongkok dimusuhi penduduk asli, hingga terjadilah kerusuhan. Karena sadar keberadaannya membawa pertikaian, akhirnya mereka pun pergi. Kemudian kembali berlayar menggunakan tiga kapal tersebut, mencari tempat baru yang aman. Di tengah perjalanan, dua tongkang tenggelam dihantam badai. Hanya satu kapal yang selamat dan sampai di Bagansiapiapi, yang dulu masih berupa hutan. Pada haluan tongkang yang selamat, terdapat patung Dewa Tai Sun dan Dewa Ki Ong Ya.

Tai Sun, dalam kepercayaan Tionghoa, merupakan dewa yang tidak memiliki rumah dan dikenal sebagai pengembara. Menurut kepercayaan, dua Dewa itulah yang mendatangkan keselamatan terhadap para pengembara. Sebagai wujud terima kasih kepada Dewa laut Kie Ong Ya, para perantau memutuskan untuk membakar tongkang yang ditumpangi mereka sebagai sesajen.

Perayaannya Pada Masa Sekarang

Pada masa pemerintahan Orde Baru, perayaan Go Cap Lak sempat vakum selama puluhan tahun. Tahun 2000 perayaan ini kembali digelar, Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir menjadikan ajang tahunan ini sebagai sarana pariwisata. Perayaan ini masuk dalam kalender Visit Indonesia setiap tahunnya.

Ritual “Bakar Tongkang” dilakukan pada tanggal 16 bulan 5 penanggalan China atau Go Ge Cap Lak. Berdasarkan kebiasaan, masyarakat Tionghoa akan membuat replika tongkang berukuran 8 x 2 meter. Sebelum dibakar, tongkang tersebut diarak terlebih dahulu keliling Bagansiapiapi. Warga Bagansiapapi menyambut perayaan ini dengan memasang lampion dan lukisan Dewa di rumah masing-masing.

Setelah diarak, replika tongkang dibawa ke klenteng Eng Hok King, tempat ibadah tertua umat Kong Hu Chu yang terdapat di tengah kota. Mereka memanjatkan doa-doa kepada Dewa, agar kegiatan “Bakar Tongkang” diberkahi, selalu diberi keselamatan dan dilancarkan segala urusan.

Setelah diinapkan semalaman di klenteng, keesokan harinya dilakukan pembakaran tongkang. Masing-masing orang membawa beberapa kertas kuning, berisi doa yang diletakan di sekitar tongkang. Ini bertujuan, agar doa yang mereka tulis di kertas tersebut dikabulkan oleh Dewa. Setelah itu, barulah dilakukan prosesi pembakaran tongkang yang lokasinya tidak jauh dari klenteng.

Acara ini tidak hanya dimeriahkan oleh warga Tionghoa Bagansiapiapi, tapi juga dari luar kota. Bahkan dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, termasuk warga China.

Malam sebelum perayaan “Bakar Tongkang”, masyarakat Kota Bagansiapiapi dihibur dengan panggung hiburan khas Taiwan dan bazaar. Semua artis didatangkan dari Taiwan, lagu dan bahasa yang diperdengarkan juga bahasa Hokkian. 

Kegiatan “Bakar Tongkang” ini, juga diringi dengan perlombaan sampan kotak. Selain warga setempat dan perantau asal Bagansiapiapi –yang sengaja pulang kampung untuk mengikuti ritual ini– juga dihadiri pejabat daerah setempat. Pemerintah daerah berharap, dengan adanya perayaan ini pendapatan daerah juga dapat meningkat.

From → Feature Budaya

One Comment
  1. azhmyfm permalink

    Sophia, tulisanmu ini cukup menarik. Tidak banyak yang tahu tardisi budaya ini, karena jarang dipublikasikan oldeh media. Padahal bersyukur dalam bentuk seperti ini sudah merupakan hal luar biasa unik bagi kebanyakan orang, belum lagi bila menilik sejarah dan keuletannya. Apalagi tongkang juga hampir mirip bentuknya dengan Phinisi Nusantara –meski beda ukuran– sehingga kedekatan tradisi ini memang dapat menyita perhatian.

    Teknis penulisanmu cukup baik, meski kurang dramatis. Jika saja suasana dramatis perayaan dapat digambarkan dalam tulisan, tentu akan lebih menarik. Penggunaan kalimat pendek yang belum konsisten, juga mempengaruhi ‘suasana’ keterbacaan. Cermati pula kata mubazir dan pengulangan kata, yang masih kerap luput dari koreksi dirimu sebagai penulis..

    Teruslah berlatih, dan beranikan diri untuk memulai kirimkan ke media massa.. Jangan putus asa, ya.. Tiada kata bosan dan gagal bagi seorang penulis..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: