Skip to content

Alas Kaki Cerminan Budaya

by pada 10 Desember 2012

Highheel priaOleh Siti Masliyah Hayati

Siapa tak tahu alas kaki? Hasil cipta manusia ini pasti ada dalam hunian Anda. Namun, tahukah Anda, sepatu seringkali hadir sebagai ekspresi budaya sebuah masyarakat?

Seperti yang kita ketahui, alas kaki atau kasut adalah produk seperti sepatu dan sandal yang dipakai untuk melindungi kaki terutama bagian telapak kaki Alas kaki melindungi kaki agar tidak cedera dari kondisi lingkungan, seperti permukaan tanah yang berbatu-batu, berair, udara panas, maupun dingin. Alas kaki membuat kaki tetap bersih, melindungi dari cedera sewaktu bekerja, dan sebagai gaya busana.

Sementara bentuk dan gaya ciptaan alas kaki biasanya juga dipengaruhi kebudayaan atau pola pikir masyarakat dalam lingkungan, tempat sepatu tersebut diciptakan dan digunakan secara masal. Bahkan, sepatu biasanya juga menjadi sebab dari sebuah kebudayaan lain.

Dalam kebudayaan Barat misalnya, orang boleh tidak melepas alas kaki sewaktu berada di dalam rumah. Mereka cenderung menganggap lantai kotor, sehingga berkembang perabot rumah tangga seperti kursi.

Sebaliknya dalam kebudayaan Asia Timur, alas kaki dilepas sewaktu berada di dalam rumah. Hal ini menunjukan masyarakat di Asia Timur berpikiran kalau rumah mereka selalu bersih. KArenanya dulu, dalam kebudayaan Jepang dan di Indonesia sendiri, kursi belum menempati posisi primer.

Jika menilik sejarah, berdasarkan lukisan Mesir Kuno di Thebes, Mesir diketahui rakyat Mesir sudah mengenakan alas kaki sekitar abad ke-15 SM. Dalam lukisan digambarkan, seorang pengrajin yang duduk di kursi pendek.sibuk bekerja membuat sandal, sedangkan seorang lagi sedang menjahit sepatu. Sandal dibuat dari bahan-bahan seperti kain, daun palem, papirus, kulit, atau bahan serupa yang dianyam.

Bagi orang Yunani dan Romawi kuno, alas kaki merupakan salah satu gaya busana yang elegan. Sandal yang disebut baxa atau baxea dibuat dari anyaman daun palem, dipakai kalangan bawah seperti filsuf dan pendeta. Apuleius menulis, pendeta muda memakai sandal dari daun palem seperti yang dikenakan orang Mesir. Masyarakat pada masa ini meletakkan posisi sepatu sebagai pembeda tingkat (kasta)

Prajurit Romawi mengenakan sandal bertali dengan jari-jari yang terbuka. Bila mereka berperang di kawasan perbukitan, bagian bawah sandal dilengkapi dengan gerigi yang tajam atau paku. Sedangkan bentuk dan warna sepatu bot, menunjukkan jabatan dan pekerjaan. Senator Romawi biasanya mengenakan sepatu berwarna hitam dengan hiasan bulan sabit berwarna emas atau perak di bagian atas sepatu. Sementara Kaisar Romawi menghiasi sepatu botnya dengan batu permata dan emas.

Sepatu di kalangan bangsawan Eropa pada abad ke-12 dipenuhi dengan berbagai hiasan mewah. Pada makam Henry VI dari Sicilia yang wafat tahun 1197, ditemukan sepatu dengan bagian atas dari kain emas berhias mutiara. Bagian sol dibuat dari gabus berlapis kain emas. Sepatu menutupi hingga bagian pergelangan kaki, dan dikencangkan dengan kancing kecil.

Sepatu, Kasta, dan Cinta

Sepatu dan sandal, kedua alas kaki ini boleh dibilang merupakan kebutuhan primer yang pastinya selalu ada dalam setiap hunian. Entah berapa banyak pasang sepatu dan sandal yang Anda miliki saat ini. Namun, saya yakin, tak ada yang seaneh sepatu seperti yang lazim di jepang pada masanya.

Okobo

Okobo, Jepang, abad 18 – sekarang

Lama sebelum tahun 1970-an dan sepatu platform lahir, para maiko (geisha magang) selalu mengenakan Okobo atau bakiak. Alasan mengenakannya bukan demi alasan fashion semata, namun juga untuk alasan praktis. Mereka mengenakan Okobo karena tak ingin kimono mahal yang dikenakan, jadi kotor akibat lumpur jalanan. Okobo dibuat dari sebatang kayu yang dibentuk menyerupai tapak sepatu. Biasanya kayu tersebut diselesaikan apa adanya, namun banyak juga yang bahkan tak dipernis sama sekali.

Namun, selama musim panas, maiko biasanya mengenakan Okobo hitam yang telah dipernis. Tinggi sepatu Okobo umumnya mencapai 14 cm, dan sol kayunya diukir cekung, sehingga menimbulkan bunyi tersendiri ketika dipakai berjalan. Faktanya, kata Okobo sendiri diambil sebagai perwakilan dari bunyi yang timbul saat sepatu dipakai jalan. Bentuk tali A V (mirip sandal jepit) biasanya dipilih, sedangkan warna talinya disesuaikan dengan status maiko. Untuk maiko baru akan mengenakan Okobo tali merah, sedang yang hampir menyelesaikan magangnya menggunakan tali kuning.

Tahun 1700-an, stoking menempati posisi yang sama pentingnya dengan sepatu bagi para pria di Eropa. Sebab fashion saat itu, berfokus pada kecantikan area tubuh bagian bawah. Saat ‘demam’ penampilan kaki ramping tiba-tiba mewabah, Louis XIV kemudian tampak mengenakan sepatu high heel bersol merah. Dan tentu saja, ketika sang Raja mengenakannya, tak lama kemudian seluruh rakyat pun turut mengikuti tren tersebut.

Kabkabs

Kabkabs, Libanon, abad 14-17

Perak yang menghiasi cekungan kayu, itulah arti sederhana Kabkabs atau nalins yang pernah dipakai wanita Timur Tengah untuk melindungi kaki mereka dari kotornya debu dan lumpur jalanan. Bagi mereka yang kaya raya, seringkali sepatu kayu ini dihiasi dengan mutiara. Dengan tinggi hak beberapa inci serta sulaman kulit, sepatu ini biasanya dibuat dengan tali pengikat berbahan sutra atau beludru.

Nama Kabkabs sendiri diperoleh dari bunyi yang ditimbulkan alas kaki ketika dipakai berjalan di atas lantai marmer. Bagian atasnya disulam dengan perak, emas, atau kawat pewter (campuran timah putih dan hitam). Untuk acara khusus seperti pernikahan, cekungan kayu tersebut lazim dihiasi seluruhnya dengan perak. Sedangkan secara sosial, sepatu ini hanya dipakai oleh kaum wanita saja.

Sepatu Kulit Pohon

Sepatu kulit pohon, Finlandia, pertengahan abad 20

Pada permulaan abad 20, para wanita mengenakan kulit kayu sebagai alas kaki sehari-hari, tentunya dengan lapisan kain pada bagian dalamnya. Tak hanya itu, kain juga digunakan untuk melindungi lapisan kulit sepatu dari hujan, lumpur, dan salju. Biasanya sepatu ini dibuat dari kulit pohon Birch, namun bisa juga dari kulit pohon kapur atau linden (daunnya berbentuk hati). Norwegia, Swedia, dan bahkan Rusia, memiliki versi masing-masing untuk jenis sepatu ini. Masa hidup sepatu kulit pohon tersebut biasanya hanya sekitar 1 minggu saja.

Chopines

Chopines, Italia, 1580-1620

Hanya sedikit museum yang menyimpan Chopines asli. Meski debutnya dimulai sejak masa Renaissance, namun banyak wanita Italia yang masih mengenakannya hingga permulaan abad 17. Seperti Okobo Jepang, Chopines juga memiliki tingkat kepraktisan tinggi. Tujuan utama penggunaan sepatu ini adalah agar penggunanya tampak menyolok, sebab mampu ‘mengangkat’ tubuh pemakai hingga 18 cm lebih tinggi. Sepatu bernilai mahal ini dibuat dari kayu, yang dilapisi dengan sutra lembut atau beludru. Selain itu, alas kaki ini biasanya juga dipermanis dengan penambahan renda perak, paku payung, dan sulaman sutra.

Padukas

Padukas, India, tahun 1700-an

Padukas termasuk alas kaki tertua dan mewah di India. Lebih dari sekadar sol dengan tonggak dan knop, alas kaki ini umumnya dibuat dari bahan perak, kayu, besi, atau bahkan gading.

Sepatu Pengantin

Sepatu kayu untuk sang pengantin, Perancis, akhir abad 19

Dari lembah Bethmale (sebelah selatan kota Saint Girons, distrik Ariege), muncullah sepatu pengantin unik ini. Dibuat dari sebongkah kayu yang diambil dari pohon walnut beserta akarnya, para pria biasa menciptakan sepatu ini untuk calon pengantinnya kelak. Dikatakan dengan semakin tinggi ujungnya, semakin besar pula rasa cinta sang pria pada calon istrinya.

Alas kaki kontemporer ini mulanya dipakai sebagai jimat saja, namun seiring waktu berjalan, alas kaki ini semakin terkenal dalam dunia fashion, khususnya Jepang. Struktur sepatu ini mirip dengan sepatu balet yang dibumbui dengan hak super tinggi, sehingga tercipta kesan pemakainya dipaksa untuk berjinjit setinggi mungkin, seperti yang dilakukan para balerina saat sedang menari. Ballet boot ini memperoleh popularitasnya pada tahun 1980-an, dan kini masih tersedia di seluruh dunia.

New Picture (6)

Sepatu kuncup teratai, China, abad 10-tahun 2009

Tradisi Han di China yang mengharuskan kaki wanita diikat sehingga tampak kecil seperti kuncup teratai ini berlaku selama ribuan tahun. Sepatu dari wilayah utara, khususnya Beijing, memiliki bentuk mangkuk, dengan sol super cekung. Sebagai bagian dari mas kawinnya, seorang wanita akan membuat beberapa pasang sepatu sebagai bukti ia mampu menjahit. Setelah menikah, mempelai lalu membagikan sepatunya pada saudari ipar dalam upacara khusus. Untunglah kejayaan sepatu mungil tersebut telah berakhir.

Sepatu dan Manifestasi Budaya

Dalam perjalanannya hingga kini, alas kaki, terbukti bukan hanya sekedar pelindung kaki. Tapi juga menyiratkan kasta, ekspresi, bahkan tanda cinta sang pembuatnya. Hal ini terlihat dari sepatu kayu yang berkembang di Perancis sekitar abad ke-19, juga sepatu kuncup teratai dari Cina, dan lain-lain.

Berbeda dengan selera sepatu yang berkembang di masa lalu, kini, orang lebih suka dengan jenis sepatu yang sederhana, nyaman, dan sesuai gaya. Hal ini karena mobilitas di era modern menuntut pergerakan manusia yang serba cepat.

Namun, masih dapat kita jumpai pula sepatu yang tidak lazim digunakan secara massal. Biasanya diciptakan desainer dalam edisi terbatas, seperti Armadillo. Alas kaki semacam ini biasanya lebih mencitrakan ekspresi sang desainer, sehingga—karena bentuknya yang aneh dan cenderung tidak mengikuti bentuk kaki– kenyamanan tidak menjadi hal utama.

Sepatu mencerminkan budaya, karena alas kaki –khusunya sepatu– yang diciptakan melalui pengaruh-pengaruh kedaerahan serta selera masyarakat pada suatu masa dalam suatu negara. Selera ini —tak dapat dipungkiri– pun dipengaruhi berbagai pertimbangan, sesuai pola pikir dan nilai-nilai yang berlaku pada masa sepatu itu diciptakan.

From → Feature Budaya

4 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Siti Masliyah, sungguh saya tak menyangka.. Dari hal kecil (tentang sepatu) yang tadinya saya duga “remeh temeh” dan tak menarik, mampu menjadi tulisan luar biasa yang rinci, lengkap dan memikat.. Ternyata meski temanya sederhana, namun bila kegilaan kita menggali referensi sebanyak-banyaknya dengan fokus dan serius, karyamu ini berhasil memuaskan rasa ingin tahu pembaca dengan baik.

    Ditambah lagi teknis penulisanmu yang cukup baik, membjuat tulisan menjadi lebih menarik. Namun patut diperhatikan penulisan istilah asing yang banyak digunakan agar sesuai ketentuan EYD. Juga penempatan kalimat yang dapat mendramatisir karya lebih pada tempatnya, akan membuat tulisan kian memukau. Di sini perlunya “rasa” bermain saat menulis, dan tentu saja logika bahasa..

    Jadi, dengan kemampuanmu seperti ini, mengapa tak langsung dikirim ke media massa?

  2. Siti Masliah Hayati permalink

    terima kasih, Pak.

    tapi saya kira tulisan ini masih agak rancu, dalam artian, beberapa kalimatnya teralu panjang dan sebagian lain malah sebaliknya, pendek. apakah hal ini dapat digolongkan sastra, Pak?

    oia,
    menurut bapak tulisani ini cocoknya dikirim ke mana?

    • azhmyfm permalink

      Ya, Nimas, tulisan ini tetap feature.. Bukan rancu, tapi memang tergantung pokok pikiran yang dimuat dalam alinea tersebut. Mengenai cocoknya dikirim ke mana, agaknya media gaya hidup paling cocok. Namun tetap ada kemungkinan untuk dimuat di media massa manapun.. Oke, kirim juga yang lainnya ya..

  3. Siti Masliah Hayati permalink

    sip pak :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: