Skip to content

Upacara Tiwah: Antarkan ‘Mereka’ Menuju Surga

by pada 10 Desember 2012
tiwah

inilah bentuk kasih sayang terhadap mereka yang telah meninggal (anacantik-anah.blogspot.com)

Oleh Dina Lathifa Horman

Arwah-arwah itu masih ada, menunggu untuk diseberangkan oleh keluarga mereka yang masih hidup menuju surga.

Mitos itu hidup dalam budaya suku Dayak dengan sistem kepercayaan Kaharingan. Untuk menyeberangkan mereka yang telah wafat, keluarga serta sanak saudara mereka harus melakukan sebuah ritual yang bernama Upacara Tiwah.

Sebelum melakukan upacara ini, ada beberapa ritual yang harus dilewati. Pada hari kematiannya, jenazah masih didiamkan di rumah keluarga selama 3-7 hari. Tujuannya untuk menunggu kedatangan saudara jauh. Selama berada di rumah, gong serta gendang dimainkan, membentuk irama kematian. Sedangkan keluarga dan kerabat menangisi kepergiannya. Mencekam.

Pada hari terakhir, misalnya hari ketujuh, jenazah kemudian dikeluarkan dari rumah untuk dibawa ke tempat penguburan. Akan tetapi tidak dengan cara normal, jenazah dikeluarkan lewat dinding rumah, tidak boleh lewat pintu atau jendela. Dinding tersebut dibongkar, lalu peti jenazah pun dikeluarkan.

Hal unik lainnya, apabila suku Dayak Kaharingan tinggal di atas tebing, mereka meluncurkan peti mati itu ke bawah menuju tepi sungai. Kemudian, dihanyutkan hingga sampai ke tempat penguburannya di pohon-pohon besar. Ya, di pohon dalam hutan belantara, jenazah tersebut disemayamkan. Ada yang menggantung peti mati di dahan, ada pula yang menyandarkannya di batang pohon tersebut.

Bermain dengan hewan persembahan (olohngaju.wordpress.com)

Bermain dengan hewan persembahan (olohngaju.wordpress.com)

Pada hari itu juga, keluarga serta sanak saudara pun melakukan ritual Usik Liau, yang berarti memainkan arwah. Mereka meminum tuak. Mabuk, menangis, berteriak. Bahkan menari-nari mengikuti gemuruh suara gendang dan sejenisnya, bagai kerasukan arwah. Tidak hanya keluarga, juga seluruh anggota sukunya pun ikut melakukan, malah sampai mengundang suku tetangga. Ramainya malam itu, namun dengan suasana pilu dan menegangkan.

Bila tidak kuat mengikuti suasana Usik Liau, janganlah mendekati keramaian orang yang sedang mabuk. Salah-salah, akan ditarik dan memaksa ikut terbuai bersama mereka. Bagi penduduk di luar suku Dayak kaharingan –selama diadakannya ritual– mereka membuka bermacam-macam warung jajanan serta tempat berjudi.

Acara bisa berlangsung sampai pagi. Pada keesokan harinya, mereka yang ditinggalkan tidak boleh melakukan kegiatan apapun dan menyalakan api. Seperti hari raya Nyepi, dari matahari terbit hingga malam tiba.

Terakhir, barulah keluarga melakukan Upacara Tiwah. Untuk melaksanakannya, pihak keluarga harus mempersiapkan dana dengan sangat matang, karena acara ini berlangsung sekitar 15 sampai 30 hari. Terkadang, bisa lebih dari biasanya.

Banyak binatang yang akan dikorbankan dalam upacara ini, minimal seekor kerbau dan empat ekor babi. Lebih banyak jumlah yang disembelih, upacara akan makin besar dan kian banyak orang yang datang diundang. Karena itu, tak jarang ada pihak keluarga yang menunggu waktu berbulan-bulan untuk menyelanggarakan upacara ini.

Perbedaan pelaksanaan upacara di beberapa suku pun mempengaruhi lamanya waktu tunggu. Contohnya, untuk suku Dayak Siang, selepas upacara mereka tidak memindahkan tulang-belulang jenazah ke rumah makam. Sedangkan untuk suku Dayak Kahayan, mereka memindahkannya ke sebuah rumah makam mewah di akhir acara. Dengan begitu, warga suku Dayak Kahayan harus menunggu jenazah menjadi tulang-belulang terlebih dahulu, lantas melaksanakan upacara. Hal ini memakan waktu bertahun-tahun.

*******

Mengapa suku Dayak Kaharingan harus melaksanakan upacara ini? Selain dari budaya yang mendarah daging dari nenek moyang, kabarnya arwah tersebut tidak akan bisa pergi ke surga sebelum di-tiwah. Mereka masih bergentayangan atau berada di dunia kita. Setelah dilakukan upacara, barulah arwah tersebut hidup tenang di alamnya.

(Island-borneo.blogspot.com)

Sesepuh suku membacakan jampi-jampi dan berbicara kepada arwah (Island-borneo.blogspot.com)

Hari pertama pelaksanaan Upacara Tiwah, dilakukan secara tertutup hanya untuk keluarga. Mereka mendatangkan Sesepuh Suku demi membacakan semacam jampi-jampi dan berbicara kepada arwah keluarganya. Konon, saat Sesepuh berdialog dengan arwah keluarga yang akan di-tiwah, terdengar olehnya suara tangisan dan rengekan arwah-arwah lain meminta ikut diseberangkan juga. Arwah-arwah yang menangis itu adalah mereka yang belum ditiwah oleh keluarga mereka.

Setelah hari pertama selesai, hari berikutnya dibuka untuk umum. Orang-orang satu suku maupun dari suku lain berdatangan, memeriahkan ritual terakhir ini. Penduduk yang bukan suku Dayak Kaharingan pun turut hadir, ada yang ikut dalam pelaksanaan ritualnya, ada pula yang memanfaatkan peluang dengan membuka kedai minuman dan lapak berjudi. Ramai sekali. Terlihat sebagai pesta rakyat, namun memang beginilah suasana upacarasaat tengah berlangsung.

Dalam Upacara Tiwah, keluarga dan mereka yang datang kembali melakukan Usik Liau. Tentunya sama seperti sebelumnya, bermabuk-mabuk ria dan menari-nari bak kerasukan dengan diiringi pukulan gendang dan gong.

Di hari terakhir sebagai puncak acara, mereka bermain dengan para babi dan kerbau dalam keadaan mabuk. Menusuk-nusuk binatang persembahan itu dengan tombak, membuatnya mengamuk. Kemudian, barulah korban tersebut disembelih. Darah yang mengalir dari tubuh binatang itu pun dijadikan sebagai air mandi pihak keluarga, dengan tengkorak kepala sebagai gayungnya. Darah segar pun dibasuhkan, dan selesailah ritual Upacara Tiwah.

*******

Hiasan penuh warna, upacara kian memikat mata (aneh.us)

Hiasan penuh warna, upacara kian memikat mata (aneh.us)

Pada perkembangannya, terdapat beberapa perubahan dalam pelaksanaan upacara. Pertama, umbul-umbul yang dipajang sebagai hiasan untuk Upacara Tiwah. Masyarakat Dayak Kaharingan yang menetap di kota menghias tempat acara dengan umbul-umbul berwarna-warni, sehingga memikat mata penduduk sekitar dan juga turis. Sebab upacara ini sekaligus menjadi ajang temu keluarga dengan suadara jauh, berkumpulnya orang-orang satu suku, serta pertemuan warga antar suku.

Juga, pemakaian tengkorak kepala sebagai gayung. Dahulu, tengkorak yang digunakan haruslah tengkorak baru. Maksudnya, membunuh orang dan mengambil tengkoraknya. Namun kini, hanya perlu memakai tengkorak yang sudah ada.

Bagi orang-orang yang bukan suku Dayak Kaharingan, ritual-ritual ini akan terasa sangat menyeramkan. Juga merepotkan. Tapi, inilah bentuk kasih sayang terhadap mereka yang telah meninggal. Sebagai tanggung jawab warga yang masih hidup kepada keluarganya yang telah wafat.

Kepercayaan atau suku lain pun pasti memiliki tradisi yang berbeda. Bukankah menyayat hati bila mendengar arwah dari anggota keluarga kita menangis, karena belum sampai ke surga?

From → Feature Budaya

3 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Dina, tulisanmu ciamik. Dirimu berhasil menuturkan kisah upacara ini, seraya membangkitkan imajinasi di kepala pembaca. Seolah-olah kita hadir menyaksikan, bahkan terlibat langsung di tengah keluarga yang tengah melaksanakan upacara Tiwah. Eksplorasi detail dalam untaian kalimat sastra, membuat pembaca makin tercekam.

    Dilengkapi latar belakang sejarah dan muasal mengapa upacara harus dilakukan, telah membuat kita makin paham tentang ritual adat ini. Sayangnya judul masih terlalu biasa, foto juga belum lengkap dengan sudut pandang yang lebih menarik. Bukan sebuah foto mampu menerjemahkan suasana dengan lebih ‘hidup’?

    Tapi tak apa, penutupmu cukup bagus, meski belum menuntaskan kekaguman kita pada kisah. Memang kita harus bangga oleh keragaman budaya kita, dengan cara terus memperbanyak tulisan seperti ini. Agar masyarakat tahu, hakikat makna Bhineka Tunggal Ika dalam posisi seharusnya. Juga untuk terus melestarikan budaya, melalui segenap upaya sepenuh kemampuan kita..

    Kalau bukan kita, siapa lagi?

  2. terima kasih, Pak atas saran dan semangatnya :)
    saya pun berpendapat kurangnya foto pada tulisan ini, hehe.
    susah sekali, Pak mencari fotonya. sebenarnya saya inginnya ambil langsung di tempat.
    dengan membuat tulisan ini, saya juga sekaligus mendalami kehidupan daerah asal saya.

    saya akan terus berlatih membuat kalimat/judul yang memikat pembaca.
    sekali lagi, terima kasih, Pak :))

  3. Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Majalah Potret Indonesia pada Sabtu 12 Januari 2013, pukul 09.17 WIB (lihat disini: http://www.majalahpotretindonesia.com/index.php/budaya/1836-upacara-tiwah-antarkan-mereka-menuju-surga). .

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi untuk Dina, terlebih ini merupakan tugas kedua yang dimuat di media massa. Ayo, siapa lagi menyusul?

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Dina dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: