Skip to content

Unik dan Tidak Biasa

by pada 11 Desember 2012
Ki Samuel sedang mendalang (Foto: Ist.)

Ki Samuel sedang mendalang (Foto: Ist.)

Oleh Sara Agustriana

Aku memperhatikan dengan seksama tiap bagian dalam pertunjukkan ini. Aneh, itu yang aku pikirkan saat pertama kali melihatnya. Benar pertunjukkan wayang bukan, sih? Heranku masih berlabuh dalam pikiran

Yang membuatku menjadi heran pada pertunjukkan “Wayang Beber Metropolitan” di Taman Ismail Marzuki ini, karena  menggunakan barang-barang bekas, seperti galon air mineral dan piring seng untuk musiknya.  Lalu lagu-lagu yang dimainkan pun adalah lagu berbahasa melayu bukan bahasa jawa. Mereka juga membuat musik plesetan dengan lirik jenaka.

Tak lupa, yang membuatku semakin heran adalah dalang —orang yang menceritakan kisah wayang saat pertunjukan —menggunakan media gambar untuk menceritakan kisah tersebut. Latar dan setting yang diceritakan pun tidak seperti pertunjukkan wayang pada umumnya, melainkan menggunakan latar di kota metropolitan yang ternyata merupakan ciri khas wayang tersebut. Meskipun begitu, mereka tetap tidak meninggalkan pakem yang ada.

Yap, ini adalah Wayang Beber yang mengalami perkembangan menjadi kontemporer dan dipelopori “Wayang Beber Kota” di Solo dan “Wayang Beber Metropolitan” di Jakarta. Dinamakan wayang beber, karena berupa lembaran-lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh-tokoh dalam cerita wayang.

Suasana pertunjukan (Foto: Ist)

Suasana pertunjukan (Foto: Ist)

Wayang beber menggunakan gambar-gambar yang dilukiskan pada selembar kertas atau kain, gambar dibuat dari satu adegan menyusul adegan lain, berurutan sesuai narasi cerita. Cara memainkan wayang tersebut dengan membeberkan gulungannya.

“Wayang Beber Metropolitan” adalah jenis wayang khas dan unik di antara jenis lainnya, karena komunitas ini berisi anak-anak muda yang ingin menunjukkan peran nyata mereka dalam mengapresiasikan seni budaya bangsa.

Cara mereka agar anak-anak muda menyukai seni budaya wayang adalah salah satunya dengan menggelar pertunjukkan ini. Ketika melihat sekeliling, aku baru menyadari ternyata cara mereka pun cukup jitu. Anak remaja pun ingin belajar mengenal wayang.

Wayang Bagi Kehidupan Masyarakat

“Kami berasal dari berbagai kalangan, ada yang dari pramuniaga, tukang kayu sampai pengamen. Kami membentuk komunitas ini untuk menjawab kegelisahan kami terhadap semua kejadian di kota Jakarta dengan karya yang indah, bukan tindakan-tindakan yang anarkis,” tutur sang dalang, Ki Samuel, dengan  rendah hati.

Kami bukan kaum muda yang memang sudah menggeluti dunia wayang sebelumnya, lanjutnya lagi, tetapi kami tertarik pada seni budaya wayang dan belajar sedikit demi sedikit untuk mengenalkan pada khalayak tentang seni tradisi yang hampir punah dan harus dilestarikan.

Aku pun menjadi penasaran. Apa yang membuat mereka tertarik terhadap wayang, sebagai salah satu ornamen budaya. Karena aku pun menyadari, hanya sendikit anak muda yang melirik seni budaya tersebut.

Inilah Komunitas Wayang Beber Metropolitan (Foto: Ist)

Inilah Komunitas Wayang Beber Metropolitan (Foto: Ist)

Ternyata ada banyak hal, yang membuat anggota di komunitas ini tertarik terhadap wayang beber. Mulai dari cerita-ceritanya, cara menceritakan yang berbeda dengan wayang lainnya, karakter gambar di dalam wayang beber, sampai esensi atau makna cerita “panji” yang bisa diaplikasikan dalam proses kehidupan.

Cerita yang disuguhkan “Wayang Beber Metropolitan” jauh dari kesan tradisonal, kuno dan membosankan. Sebab cerita yang dibawakan dimodifikasi sedemikian rupa tentang seputar kehidupan kaum urban metropolitan. Mulai dari  pergerakan urbanisasi itu sendiri, sampai masalah kehidupan di ibukota.

“Jika kalian tadi menonton pertunjukkan kami yang mengangkat cerita tentang Negeri Amnesia, merupakan contoh cerita yang diambil dari kehidupan masyarakat kita. Tidak hanya untuk para pemimpin, tetapi kita juga pun kadang seperti tokoh Pak Bimbang tersebut,” ujar Ki Samuel. Karena, menurutnya, fungsi utama wayang selain sebagai tontonan juga menjadi tuntunan untuk masyarakat.

Melalui pertunjukkan wayang ini, Ki Samuel dan teman-teman dari komunitas “Wayang Beber Metropolitan” berharap, wayang dapat menjadi media lintas generasi untuk menyampaikan pesan-pesan positif sesuai zamannya. Selain itu, seni pertunjukkan wayang beber —seni tradisi tertua di dunia perwayangan— dapat terus dilestarikan agar tidak hilang begitu saja.

Semoga ya..

From → Feature Budaya

2 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Sabtu 05 Januari 2013 pukul 17.12 WIB (lihat disini: http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3042/2013/Unik-dan-Tidak-Biasa).. Ayo, siapa lagi menyusul

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi. Sara cukup datang untuk tandatangan berita ujian saja, tanpa harus mengikuti ujian. Ayo, siapa lagi menyusul?

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Sara dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

  2. azhmyfm permalink

    Sara, tulisanmu ini luar biasa. Baik pilihan tema maupun manfaatnya. Karena apresiasi anak muda terhadap wayang, memang termasuk cerita langka. Terlebih yang penuh kreasi dan membumi seperti ini. Sudah begitu komunitas Wayang Beber Kota/Metropolitan ini juga jarang dieskpos media, sehingga gaungnya pun kurang ..

    Teknis penulisan sudah baik, hanya mungkin perlu lebih cermat dalam pengulangan subyek. Atmospher-nya juga masih kurang kental, coba lebih ekspresif dalam menyampaikan kekagumanmu .. Dalam feature, sah-sah aja kok..

    Oke, teruslah jeli dalam memilih tema, tuangkan dengan hati dan kirimkan ke media massa ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: