Skip to content

Keroncong, Riwayatmu Kini

by pada 12 Desember 2012
(gantaranews.com)

Bagaimana kabar keroncong sekarang? (gantaranews.com)

Oleh Risa Anandita

“Bengawan Solo riwayatmu kini. Sedari dulu jadi perhatian insani. Musim kemarau tak seberapa airmu. Di musim hujan, air meluap sampai jauh..” Apa kabar lagu ini? Mungkin lagu ini sangat diketahui oleh generasi bapak ibu kita, tetapi bagaimana dengan generasi kita?

Lagu yang diciptakan tahun 1940 oleh Gesang ini merupakan jenis musik keroncong. Jenis musik yang diminati pada era penjajahan Jepang. Berkat lagu ini, Gesang dikenal di mancanegara bahkan dicintai di Jepang. Lagu ini pun telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa asing.

Gesang ketika itu sedang duduk di tepi Bengawan Solo. Ia yang selalu kagum dengan sungai tersebut, kemudian terinspirasi untuk menciptakan sebuah lagu. Proses penciptaan lagu ini memakan waktu sekitar 6 bulan.

Musik keroncong sendiri adalah musik yang berasal dari Indonesia. Namun, musik ini berakar dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado dan diperkenalkan ke Nusantara oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16. Melalui daratan India (Goa), musik ini singgah pertama kali di Malaka yang kemudian dimainkan para pekerja dari Maluku.

Bentuk awal keroncong disebut moresco (seperti polka sejenis musik pengiring tarian asal Spanyol, tetapi agak lamban ritmenya). Dalam perkembangannya, dikombinasikan dengan sejumlah unsur musik tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan. Masa keemasan keroncong berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik-musik popular seperti musik rock dan Beatles pada 1961.

Alat-alat musik pada musik  Keroncong –dalam komposisi paling awal– diiringi oleh piranti berdawai, seperti biola, ukulele, serta selo. Saat ini, alat musik yang dipakai dalam orkes keroncong adalah ukulele cuk yang berdawai 3 (nilon), ukulele cak berdawai 4 (baja), gitar akustik (ukulele dan gitar menggatikan sitar), biola (menggantikan rebab), flute (mengantikan suling bambu), selo, kontra bass (menggantikan gong).

Generasi Muda dan Keroncong

Bagaimana kabar keroncong sekarang? Apakah televisi banyak mengekspos kekayaan kita yang satu ini? Apakah radio turut ikut serta? Bagaimana kabar generasi penerus dan para penjaga kelestariannya?

Sayangnya, kini lagu-lagu keroncong kurang diminati generasi muda. Generasi yang seharusnya justru menjadi ujung tombak kelestarian kekayaan budaya kita. Musik yang dianggap kuno dan identik dengan musik orangtua, kalah pamor dengan musik-musik yang mengikuti tren. Padahal, musik keroncong merupakan musik yang tak akan ada matinya. Ciri khasnya yang kuat membuat semua orang langsung tahu, yang didengarnya ini adalah keroncong, Ya, musik asli Indonesia.

Minimnya minat perusahaan rekaman yang memproduksi lagu-lagu keroncong, menyebabkannya kian tenggelam dalam pusaran tren musik terbaru. Perusahaan rekaman tentu mengutamakan permintaan pasar dan keuntungan semata, mereka melihat minat masyarakat terhadap keroncong tidak seantusias pada jenis musik lainnya. Miris sekali, melihat blantika musik di Indonesia selalu diramaikan musik-musik kontemporer dan cepat usang.

Degradasi peminat musik khas nusantara ini akan terus terjadi pada generasi penerus budaya, jika mereka tidak menjaga dan melestarikannya. Lantas bagaimana cara kita melestarikannya?

Kita bisa memulai dengan memperkenalkan keroncong kepada para generasi muda, yang berarti mengajak mereka untuk lebih mencintainya. Beberapa komunitas pecinta keroncong kini mengawalinya di sekolah, mulai dari SD sampai Perguruan tinggi telah mencicipi pendidikan musik ini. Jika dari kecil kita sudah dibiasakan mengenal keroncong, tak dipungkiri kelak muncul penyanyi-penyanyi baru yang dapat saja membangkitkan kembali musik ini.

Sesungguhnya, kelestarian keroncong bukanlah hanya tanggungjawab para pemusiknya. Ia akan mampu bertahan, jika para pemain dan penggemar keroncong terus diregenerasi. Ini disadari betul oleh para pecinta keroncong, yang tak ingin budaya negeri ini hilang. Untuk melestarikan pemain keroncong, mungkin tak sesulit meregenerasi penggemarnya. Karenanya, mereka memulai memperkenalkan kembali melalui sekolah.

Kini Lebih Bebas Mengeksplorasi

Keberadaannya, memang, masih eksis sampai saat ini. Tetapi karena tidak banyak yang menyanyikannya lagi, pesona keroncong kian hari semakin meredup. Sangat disayangkan, jika jenis musik yang abadi ini terpkasa punah ditelan perkembangan zaman.

“Musik keroncong itu unik dan berbeda dari lainnya. Keroncong memiliki 28 bar, sedangkan yang lain tidak lebih 12 bar. Cengkok-nya pun khas, memadukan unsur Timur dan Barat. Saya berani bilang, musik keroncong adalah pencapaian tertinggi musik Indonesia,” ujar Erwin Gutawa.

Hebatnya, dewasa ini musik keroncong tak hanya dimainkan dengan gaya biasa. Kini keroncong dapat dikawinkan dengan musik apapun. Kemampuan untuk bersatu dengan musik lain menjadi nilai tambah, yang seharusnya tetap dijaga. Beberapa musisi telah mencoba melestarikan dan menghidupkan kembali musik keroncong dengan perpaduan musik lain, seperti Bondan & Fade 2 Black yang memadukan keroncong dengan sentuhan rap. Juga pada 2008 dalam Solo International Keroncong Festival maupunHarmony Chinese Music Group yang memasukan unsur musik tradisional Tionghoa pada keroncong dan kemudian dinamai “Keroncong Mandarin”.

Sundari Soekotjo pun turut menegaskan, “Musisi keroncong sekarang sudah berani, mereka lebih bebas dalam mengeksplorasi. Kalau dulu kan lebih hati-hati membuat keroncong, sekarang bukan zamannya lagi. Kita mulai sadar, musik keroncong yang lembut (slow), ternyata bisa dikawinkan dengan musik lain.”

Bagaimana pun keadaannya sekarang, musik keroncong dan para pelakonnya adalah warisan budaya bagi bangsa. Kita sebagai generasi penerus, punya andil dalam mempertahankan budaya kita. Tidak mampu berperan sebagai pemain keroncong, dapat saja menjadi penikmat serta turut menjaganya melalui berbagai aspek.

Semoga peninggalan budaya ini, tidak punah dimakan zaman. Agar anak cucu kita tahu, Indonesia memiliki jenis musik yang mendunia.

=========================================================================================

Referensi:

From → Feature Budaya

One Comment
  1. azhmyfm permalink

    Duh Risa, tak sangka.. Ternyata dirimu seorang “Keroncong Mania”. Cukup detail kamu gambarkan jatuh bangun musik era orangtua kita ini, selain teknis komposisi alat musiknya. Juga upaya-upaya para pecinta “Gesang and the gank”, yang menghidupkan kembali musik memukau di kalangan generasi muda melalui sekolah.Miris memang, bila warisan budaya ini terpaksa punah..

    Dari teknis penulisan, sudah bagus. Meski sebenarnya dapat dipersingkat, tanpa harus kehilangan rincian penjabaran. Sebab bila dicermati, beberapa pokok pikiran berulang pada alinea di bawahnya. Suasana dapat lebih di-“hidup”-kan, dengan membuat rasa lebih bermain. Penggunaan subjudul yang proporsional pada sejumlah alinea, dengan menggunakan gaya penulisan berbeda.

    Hanya satu tanya saya, mengapa tak segera dikirim ke media massa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: