Skip to content

Hitam Putihnya Generasi Musik

by pada 13 Desember 2012
tielman

Dulu Indonesia sangat bangga padanya, sebagai inspiratormya grup musik,rock yang mendunia (gedubraxxx.wordpress.com)

Oleh Karlina S. Dewi

Banyak orang, suka membanding-bandingkan fenomena perkembangan industri musik Indonesia dari masa ke masa. Namun sepertinya, musik memang perkara selera. Sulit, bisa diukur kadar mahaseninya. Setiap sudut pandang, pasti memiliki sisi yang berbeda.

Di sela iklan acara musik di stasiun televisi Indonesia, Ayah (47), bergumam sendirian di samping anaknya (17), yang masih khusyu memelototi layar televisi. Anaknya tampak bersorak riang, saat nama boyband idolanya tampil tadi.

Ayah menghela nafas panjang dan bertanya kepada anaknya. Mengapa anaknya sangat menyukai boyband itu? Setiap kali mereka muncul di televisi, pasti anaknya tidak pernah absen menonton.

Si anak menjawab sekenanya. Dia menyukai boyband itu, karena kualitas musik dan salah satu personilnya tampan.

Penasaran, Ayah kembali bertanya kepada anaknya. Mengapa penyanyi sekarang beraninya keroyokan? Lebih banyak menari pula, daripada menyanyinya! Sebenarnya mereka ingin menjadi penyanyi atau penari?

Konsep bernyanyi boyband dan girlband memang diperlukan banyak anggota. Karena perlu ada pembagian tarian dan menyanyi agar tercipta harmonisasi, kata si anak menjawab dengan sabar.

Ayah menggeleng-gelengkan kepala. Sebenarnya dia bingung, melihat wajah-wajah pendatang baru bermunculan secara bersamaan. Saling berlomba-lomba adu tari dan menyanyi. Mencoba menjadi grup yang lebih dulu cepat populer.

Ayah mengemukakan pendapatnya. Kalau lagu-lagu mereka memang mudah dicerna, tetapi mudah pula terbuang dalam memori. Sekarang ini banyak pemusik dan karyanya cepat hilang dan timbul. Musikalitasnya juga kurang memadai. Tidak ada efek inspirasi dari pemusik, yang ditularkan kepada pendengar. Tidak seperti zaman dulu.

Si anak menimpali. Sekarang juga cukup banyak pemusik yang memiliki karya membanggakan bagi Indonesia, seperti Agnes Monica dan band “Noah.” Mereka bisa memberi ruang eksistensi musik Indonesia di negeri orang.

Ayah membenaarkan perkataan anaknya, lalu bercerita. Dulu Indonesia sangat bangga dengan adanya “Koes Plus” dan “Panbers,” yang mampu  menyaingi selera musik barat. Kita pernah punya “The Tielman Brothers”, inspiratornya band-band rock yang telah mendunia. Selain itu, ada band rock yang melegenda hingga ke luar negeri, seperti “God Bless” dan “Slank.”

Sesaat perhatian si anak tertuju pada layar televisi, yang menampilkan iklan telepon seluler dengan layar sentuh. Dia berkomentar, musik diibaratkan seperti telpon seluler. Zaman dulu, teknologi menelepon tercanggih, hanya bisa menggunakan pager. Sedangkan sekarang, tipe telepon seluler berjamur di mana-mana. Dari yang memiliki tombol ketik, hingga layar sentuh. Setiap bulannya, pasti ada tipe terbaru dan tercanggih dari berbagai merek dagang.

Menggunakan suara lantang, si anak berseru. Begitu juga dengan musik! Tidak bisa disamakan musik zaman dulu dan sekarang. Generasi, teknologi, dan pemahamannya memiliki pembeda. Semuanya memiliki sisi hitam dan putihnya.

From → Feature Budaya

One Comment
  1. azhmyfm permalink

    Karlina, tulisanmu keren. Berkisah tentang plus minus perkembangan musik dulu dan sekarang dgn gaya bertutur.. jadi mirip cerpen, tapi kandungan faktanya kuat. Siapa pun pasti senang membacanya. Terlebih dengan atmosfir yang beragam, ada senang, sebel, berdebat, kecewa, ngotot dan gembira.. Tanpa dissadari, informasi langsung masuk yang membuat orang manggut-manggut..

    Dari teknis penulisan pun, rasanya tak perlu diedit lagi.. Jadi kalau sudah lengkap begini cara penulisanmu, mengapa tak produktif dan mengirimkan ke media massa? Ayoo..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: