Skip to content

Antara Pasar, Sampah, dan Pedagang

by pada 14 Desember 2012
sampah pasar

(fokus.news.viva.co.id)

Oleh Lina Suryati Wulandari

Siang hari sekitar jam satu, orang-orang terlihat ramai. Ada yang wara wiri membawa barang dagangan dan ada yang sibuk menata barang dagangan yang akan dijual. Dimana-mana terdengar kicauan dari para penjual yang bermaksud untuk menawarkan dagangan mereka.

Tak jarang pula ada beberapa anak kecil yang menawarkan kantung plastik untuk berbelanja. Letak kios atau tempat berjualan tidak beraturan. Tempat tersebut kumuh, ruwet, dan aroma tidak sedap tercium dimana-mana. Begitulah aktivitas serta suasana yang terekam di Pasar Citayam.

Pasar tempat yang kumuh. Sebagian orang beranggapan seperti itu jika teringat dengan pasar. Begitupun di Pasar Citayam. Pasar ini terlihat kumuh. Yang paling ‘khas’ dari Pasar Citayam yaitu tumpukan sampah yang menggunung. Pemandangan ini dapat dilihat di dalam area pasar yang letaknya dekat jalan raya. Tumpukan sampah itu menimbulkan aroma tidak sedap. Di dekat tempat tumpukan sampah terdapat beberapa orang penjual dari mulai penjual celana, sandal, sampai penjual makanan.

Salah satu pedagang yang berjualan di dekat tumpukan sampah itu adalah Yuli. Perempuan lanjut usia ini menjual makanan matang di pasar citayam sudah hampir satu tahun. Bu yuli menjual berbagai makanan matang seperti buntil, telur balado, oseng-oseng kacang panjang, dan sebagainya. Ia tidak memiliki atau menyewa kios, tetapi ia berjualan dengan menggelar terpal yang ia bawa sendiri dari rumah. Setiap hari, dari Senin sampai Minggu, ia berjualan disana.  Mulai jam 6 pagi, ia sudah siap berjualan. Biasanya ia diantar oleh cucunya ke Pasar Citayam dengan membawa dagangannya.

Namun, tempat Bu Yuli berjualan tidak meyakinkan untuk menarik pembeli. “Habis gimana lagi, neng? Ini saja sudah Alhamdulillah. Yang penting saya punya tempat jualan”. Ungkapan Bu Yuli itu terdengar pasrah. Ia mengaku rela berjualan dari pagi yaitu untuk menghidupi kedua cucunya. “Biarkan saja saya jualan sampai malam, asalkan bisa dapat duit buat ngasih makan cucu-cucu saya,” lanjutnya.

Awalnya Bu Yuli menjual makanannya mengunakan wadah yang terbuka. Namun semenjak tumpukan sampah semakin menggunung, dagangannya menjadi semakin tidak laku. Akhirnya, ia membungkus makanan yang dijualnya dengan plastik supaya tetap terjaga kebersihannya dan tidak tercemar aroma sampah. Semenjak itu, sedikit demi sedikit tempat dagang Bu Yuli mulai ramai oleh pembeli yang mencari sarapan maupun lauk untuk makan siang.

Walaupun berjualan di dekat tumpukan sampah, ia tetap menjaga kebersihan komposisi makanannya. “Saya tetap jaga kebersihannya. Makanannya juga nggak pakai pengawet. Ini mah, bener-bener saya nyari nafkah buat hidup, neng. Nggak pakai cara yang aneh-aneh,”  ungkapnya dengan wajah yang terlihat lelah sekaligus tegar dalam menjalani kehidupannya bersama kedua cucunya itu.

Bu Yuli tidak mengeluh jika harus berjualan dari pagi sampai siang atau bahkan sampai sore jika dagangannya belum habis. Ia berusaha untuk menarik pembeli untuk membeli makanan yang ia jual walaupun ia berjualan di tempat yang tidak baik, dekat tumpukan sampah.

Permasalahan sampah memang kerap kali menjadi permasalahan juga bagi pedagang yang lain. Aroma tidak sedap yang ditimbulkan tumpukan sampah yang ada di Pasar Citayam sangat mengganggu. Apalagi bagi mereka yang menjual makanan seperti Bu Yuli. Namun mereka bisa bilang apa? Karena disanalah tempat mereka mencari nafkah.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: