Skip to content

“Beli Lelaki” di Budaya Ranah Minang

by pada 14 Desember 2012

Oleh Reytna Antesny

New Picture (17)

Di Pariaman, keluarga mempelai pengantin perempuan yang menjemput pengantin lelaki (Foto: Ist)

Terlontar pertanyaan yang pernah menggelitik di hati saya, ketika saya berkenalan dengan seseorang. Kenalan baru saya itu  bertanya. “Aslinya orang mana?”.  Saya menjawab, “Saya orang Jakarta, tapi keturunan Padang.” Lalu kenalan saya tersebut bertanya lagi. “Kalau di Padang laki-laki dibeli yah?”
Hmm…

Pertama kali saya mendapat pertanyaan seperti itu, ketika saya SMP. Tentu saya hanya bingung, karena tidak mengetahui apa maksudnya. Respon saya saat itu adalah bengong, karena belum mengerti.

Setelah mendapat pertanyaan itu, saya bertanya kepada orang-orang di sekitar rumah yang mayoritas berasal dari Padang. Juga membaca buku tentang budaya Minang, di antaranya yang berjudul “Budaya Minangkabau.”

Berbeda dengan pernikahan orang Minang pada umumnya, di Bukit Tinggi Payakumbuh dan Solok. Pariaman memiliki ciri khas dalam adat pernikahan, keluarga mempelai pengantin perempuan yang menjemput pengantin lelaki. Dalam perjodohan pun, pihak perempuan (Pamannya atau biasa disebut Mamak) yang berinisiatif mendekati Mamak pihak lelaki yang ditaksirnya.

Singkatnya, dalam adat Pariaman, Mamak si Gadis akan mendekati Mamak si Jejaka, seraya bertanya, “Kamu mau meminang anak saya? Berapa saya harus bayar?”

Sementara, dalam adat Minang yang lain, Mamak si Jejaka akan mendekati Mamak si Gadis, dan berkata, “Saya mau meminang anak kamu, tapi saya mau kamu bayar seharga ini”.

Bayar atau biasa disebut ‘beli lelaki’ adalah nama lain “uang jemputan”. Ini bukan mahar, tetapi biaya yang dikeluarkan pihak perempuan untuk membawa lelaki itu tinggal di keluarga perempuan. Uang jemputan wajib hukumnya, tak bisa ditiadakan. Namun, jumlah uang jemputan tergantung kesepakatan. Semakin tinggi pendidikan si lelaki, biasanya semakin besar uang jemputan.

Sepintas, hal ini mengundang banyak pertanyaan. Apakah adat ini merendahkan lelaki dan meninggikan perempuan. Namun benarkah demikian?

Lebih Berat dari Uang Jemputan

Sebelum menjawab, saya terlebih dahulu mengorek keterangan dari ayah dan ibu saya yang asli Minang. Orangtuaku kemudian mengisahkan tentang pernikahan saudara sepupuku, Elly. Uang jemput calon suami Elly cukup besar, lebih dari 10 juta rupiah. Namun pihak keluarganya, ibu dari Elly sudah menyiapkan segalanya ketika dia masih kecil. Ya, karena Elly akan menjadi si pembawa marga.

“Bagi orang Pariaman, anak perempuan istimewa. Ketika dia lahir, Amak atau Ibu akan mempersiapkan semuanya. Mulai kamar tidur di rumah, juga tabungan sebagai bekal mereka  menikah nanti,” kata ibu Asny, orangtua saya.

Kenapa semua dipersiapkan? “Karena setelah menikah, anak perempuan lah yang punya rumah. Rumah itu akan ditinggalinya bersama sang suami. Anak perempuan yang meneruskan keluarga, menjaga tanah dan rumah. Dia yang akan mempertahankan adat dan kehidupan di Pariaman bersama suaminya,” lanjut ibu.

Sepintas, dibenakku timbul  pertanyaan. Kok, enak ya jadi lelaki Pariaman atau Minang pada umumnya? Bayangkan saja. Ketika hendak menikah, dia diberi uang jemputan. Saat akad nikah, pihak perempuan yang menjemput pihak lelaki ke rumah pihak perempuan untuk melangsungkan akad nikah. Setelah itu pihak perempuan yang mengantarkannya pulang.

Apalagi ketika memakai baju pernikahan, si mempelai wanita meringis kesakitan saat memakai suntiang di kepala yang beratnya mencapai 3,5-5kg (hampir sama dengan berat laptop). Astaga, sungguh menakutkan!

Pada malam menjelang pernikahan, lagi-lagi mempelai perempuan dan keluarganya pergi ke rumah mempelai lelaki membawa penganan, seperti jodah dan aneka makanan. Di rumah pihak lelaki, pihak perempuan dijamu makanan. Sebelum pulang, nampan berisi makanan dari pihak perempuan diganti aneka hadiah –seperti kain dari pihak lelaki– yang biasa disebut penyirihan.

Pulang menjalang, mempelai perempuan dan keluarganya pulang sendiri. Baru keesokan harinya, mempelai perempuan dan keluarganya datang. Menjemput mempelai lelaki, untuk tinggal dalam rumah mempelai perempuan.

Sungguh perlakuan kepada mempelai laki-laki, seperti penghormatan kepada Raja. Rajakah laki-laki Pariaman? Ya, begitulah aku berpikir. Kelak laki-laki yang dipinang ini akan menghidupi dan menjaga istri dan keluarga istrinya. Dia akan memberi istrinya keturunan yang bakal melestarikan orang-orang Pariaman. Bahkan dia akan mengatur keponakan dari pihak istrinya sebagai Mamak. Sungguh berat tugasnya. Lebih berat dibanding uang jemputan yang dibayarkan.

Kebanyakan laki-laki Minang lebih suka merantau, ketimbang tinggal di kampung. Padahal Ninik Mamak berharap kampungnya akan tetap hidup, lestari, dan anak keturunannya tidak punah. Maka adat ‘membeli lelaki’ bisa dimengerti sebagai penghargaan akan keberadaan lelaki, yang mau tetap tinggal di kampung untuk melestarikan tradisi.

Budaya yang Baik

Alasan pertama. Karena memang seperti biasanya, ketika seorang laki-laki menikah dengan perempuan –disadari atau tanpa disadari– dia akan menjadi milik pihak keluarga perempuan. Dalam kehidupan keluarga, istri memegang peranan yang cukup besar, baik dari segi ekonomi maupun dalam segi lainnya. Apa yang dikemukakan, yang dirunding dan yang diputuskan untuk urusan pengelolaan rumah tangga menjadi urusan pihak istri.

Alasan kedua. Biasanya sebagai perempuan, kita harus menunggu disunting orang, agar bisa menikah. Tapi di Pariaman, jangan salah, perempuan lho yang mencari jodoh. Memang bukan kita pribadi, biasanya diwakilkan ninik mamak kita. Nantinya mencarikan laki-laki, yang sekiranya cocok dengan keluarga. Kemudian, mereka bertanya pada kita. Masalah mau atau tidaknya, tergantung kepada pribadi kedua pihak.

Nah, setelah memilih, para ninik mamak akan berunding untuk melamar ke keluarga laki-laki tersebut. Untuk memastikan laki-laki tersebut mempertimbangkan, biasanya pihak keluarga lelaki meminta foto si perempuan untuk penjajakan.

Alasan ketiga, saya suka dengan adat ini karena bisa memilih laki-laki yang kita suka..

Ya, inilah tradisi adat Pariaman. Walaupun menurut saya agak merepotkan, tetapi saya bangga menjadi dari bagian suku ini. Adat pernikahan ini paling berbeda di seluruh penjuru Indonesia, bahkan di dunia.

Oleh karena itu, kita tidak boleh memandang jelek suatu adat karena mungkin ada hikmah lain di balik itu semua. Ini hanya opini saja. Boleh setuju atau tidak pun, it’s oke..

From → Feature Budaya

2 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Reytna, penjelasanmu tentang budaya “Beli Lelaki” ini cukup detail. Memang budaya ini selalu saja mengundang tanya, bagi mereka yang bukan berasal dari Minang. Karena tata cara adat istiadat pernikahannya, sungguh bertolak belakang dengan budaya suku-suku lain di Indonesia. Padahal setelah membaca tulisanmu, baru lah dapat dipahami. “Merajakan Lelaki” ternyata tidak berarti merendahkan perempuan. Barangkali, pandangan ini yang belum tersosialisasi sepenuhnya kepada masayarakat umum.

    Dari teknis penulisan, terasa ringan dan mengalir. Tak ada kesan menggurui, karena dengan cukup jenaka, dirimu –sebagai seorang perempuan Minang– menyetujui dan suka menerima perlakuan ini. Dengan referensi yang cukup, segala ke-“aneh”-an itu akhirnya menjadi wajar. Hanya mungkin kaidah EYD dan beberapa pengulangan, yang perlu dicermati.

    Jadi, sudah kah dikirim ke media massa?

  2. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Senin 14 Januari 2013 pukul 21.01 WIB (lihat disini:http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3071/2013/%E2%80%9CBeli-Lelaki%E2%80%9D-di-Budaya-Ranah-Minang).

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi untuk Reytna. Ayo, siapa menyusul?

    Semoga hal ini menjadi langkah awal bagi keberhasilan Reytna dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: