Skip to content

Ibuku Pejuangku

by pada 15 Desember 2012
(yangpentingnyoba.blogspot.com)

Seringkali aku terbangun di tengah malam dan mengecek kondisi ibuku seperti suhu tubuh dan selang infusnya. (yangpentingnyoba.blogspot.com)

Oleh Rabiah Adawiyah

Ibu adalah pejuang, ibu lebih hebat dari seorang pahlawan, ibu lebih dari sekedar arti deskripsi. Ibu itu penopang jiwa, ibu itu penyejuk hati, ibu itu obat segala penyakit.

Ibuku adalah isteri dari seorang suami yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Ibuku adalah ibu dari enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Aku memandang ibuku sebagai sosok yang kuat, tegar, dan hebat meskipun terkadang terlihat tidak sabaran dalam melakukan sesuatu. Ibuku cantik meski ucapannya memekakkan telinga saat marah. Ibuku juga penyayang meski kasih sayangnya terbagi untuk saudaraku yang lain.

Ibu adalah pejuang. Setiap pagi ibuku membangunkan anak-anaknya, menyiapkan makan dan minum untuk kami semua. Ibuku juga mengantarkan adik bungsuku ke sekolah, kemudian belanja, memasak dan merapikan rumah dibantu oleh seorang pembantu. Usianya yang tidak lagi muda membuatnya tidak mampu mengerjakan semua hal sendiri. Perjuangannya dalam merawat, membimbing dan mendidik anak-anaknya belum berhenti sampai saat ini, meski sekarang ia juga harus memerjuangkan diri melawan sakit yang dideritanya.

Beberapa pekan lalu ibuku dirawat di rumah sakit dan diketahui bahwa ibu mengidap fatty liver dan terdapat batu sebesar 5,8 mm atau sekitar setengah sentimeter. Ibuku dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi.

Bisa dibilang aku seperti merawat bayi, hanya ukurannya begitu besar. Aku menyuapinya makan seperti ia menyuapiku saat sakit. Aku meminumkanya obat seperti ia meminumkan obat untukku. Aku membasuhnya seperti ia membasuhku. Aku juga menggantikan bajunya seperti ia menggantikan pakaianku saat sakit.

Semua aku lakukan sama seperti ia merawatku saat aku sakit beberapa pekan sebelumnya, tepat di kamar sebelah tempat ibuku dirawat sekarang. Aku juga mengantarkannya ke kamar mandi untuk memenuhi semua kebutuhannya. Membelikan serta menggantikan diapers untuknya. Seringkali aku terbangun di tengah malam dan mengecek kondisi ibuku seperti suhu tubuh dan selang infusnya.

Aku tahu apa yang telah aku lakukan untuk ibuku belum bisa membayar jasanya selama ini. Yang aku lakukan hanyalah sebagian kecil dari apa yang pernah ia lakukan untukku. Tetap,i paling tidak aku bisa melakukan apa yang harus aku lakukan saat yang lain tidak dapat melakukannya. Bagiku ini adalah bentuk kecil baktiku kepadanya.

Ibu adalah obat terbaik untukku. Aku ingat dulu ibu pernah membuatkan sebuah puisi untukku saat aku jauh dari dirinya. Di dalam puisi itu ibu menggambarkan dirinya sebagai sebuah busur, dan aku anak panahnya. Ibu memerintahkanku untuk melesat tepat kepada Tuhan sebagai sasaran bidikan. Ibuku begitu puitis, dan  tersebut mampu mengobati rasa sakit dan rinduku saat itu.

Kasih ibu memang sepanjang masa. Tak peduli seberapa lelah dan sakit, seorang ibu tetap menyayangi anaknya sampai kapanpun. Perjuangan seorang ibu tidak hanya sebatas mengandung, melahirkan dan merawat anaknya hingga tumbuh dewasa. Tetapi juga mendidik, menasehati, mendampingi hingga akhir hayat.

Rasa takut kehilangan seorang anak baru terasa jika suatu hal menimpa ibunya. Itulah yang aku rasakan sekarang. Begitu takut tidak dapat hidup tanpanya, karena hidupku yang selalu bergantung kepadanya. Kini, tak sedikitpun aku menyia-nyiakan waktuku bersamanya. Saat ada kesempatan aku selalu mencoba berkata baik dan lemah lembut kepadanya, memeluknya bahkan menciumnya. Tak peduli seberapa ramai tempat aku memeluk dan menciumnya, tak sedikitpun aku merasa malu untuk melakukannya.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: