Skip to content

Mengembalikan Budaya yang Hilang

by pada 15 Desember 2012

Oleh Mega Bayoe PutriNew Picture (18)

Berlari, bersembunyi, melompat, melempar dan mengejar. Ah, saya teringat masa lalu. Ketika saya bebas berkumpul dan bermain bersama kala itu.

Mengingatnya, serasa membuat saya ingin kembali ke masa silam. Ya, permainan tradisional. Masih ingatkah kalian dengan permainan itu? Permainan tempo doeloe adalah bagian dari kekayaan budaya negara kita, Indonesia. Menjadi salah satu budaya yang diwariskan turun temurun oleh nenek moyang kita

Sejauh mata saya memandang terlihat rumah, gedung dan tak jauh bahkan terdapat apartemen menjulang tinggi. Ah, Kota Jakarta. Tanah lapang kini semakin berkurang. Ya, lapangan. Tempat saya bermain masa itu, kini telah dibangun rumah. Dulu setelah pulang sekolah, saya bermain di sana bersama teman-teman.

Berjalan sedikit, terlihat Sekolah Dasar saya, SDN Cipulir 05 pagi. Dulu sekolah ini memiliki lapangan yang cukup luas untuk bermain. Kini yang tampak adalah kemegahan bangunan baru dengan hanya sedikit lahan terbuka, untuk digunakan berolahraga sekaligus tempat upacara. Lahan yang tak cukup luas untuk bermain berbagai permainan tempo doeloe. Kasihan mereka –generasi masa kini dan berikutnya– tak lagi bisa memanfaatkannya, seperti generasi saya dulu. Kasihan pula budaya dan nenek moyang kita. Sungguh kasihan..

*******

Tak hanya itu, seiring berkembangnya zaman, teknologi terus berkembang. Anak-anak sekarang lebih suka bermain permainan modern, seperti PS (Play Station). Apalagi beberapa tahun terakhir, peralatannya booming dengan berbagai pernik pendukung dan rilisan terbaru semisal Play Station 3.  Permainan yang pertama kali dikeluarkan di Jepang ini adalah permainan elektronik yang dilengkapi dengan visual berupa video. PS memang permainan yang sangat menghibur, terutama bagi anak-anak. Sayang, pengaruhnya pada anak cenderung negatif.

Seperti kita ketahui, anak-anak kecil belum bisa mengontrol diri maupun membedakan hal yang baik dan tidak baik. Akibatnya PS akan berdampak negatif –seperti kecanduan yang menjadikan mereka malas belajar– sehinghga permainan ini dapat menyebabkan prestasi belajar anak terpuruk. Dampak lainnya anak-anak menjadi boros, akibat keinginan yang tak terbendung untuk terus membeli keping (compact disk) permainan maupun menyewa di kios rental bila belum memilikinya sendiri.

Selain itu, PS juga dapat mengganggu kesehatan yang disebabkan radiasi. Paparan X-ray (sinar X) ini akan menyebabkan gangguan fisik, seperti lensa mata menjadi minus dan keluhan lainnya. Pertumbuhan tulang pun tidak bagus, karena anak-anak sering duduk dan biasanya cenderung membungkuk.

Serupa tetapi tak sama. Tidak hanya PS, tapi juga berbagai game online lainnya. Ternyata, kemajuan teknologi dalam permainan, sudah menjadi candu bagi anak-anak. Pada akhirnya, kedua jenis permainan ini boleh jadi membuat anak-anak lebih individual dan anti sosial. Hal itulah yang menjadikan empati mereka kurang peka terhadap penderitaan orang lain maupun semua yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

*******

Berbeda dengan permainan tradisional, yang justru memiliki dampak positif dalam melatih fisik dan mental anak. Secara tidak langsung anak-anak akan dirangsang kreativitas, ketangkasan, kecermatan, dan kerjasama, seperti pada permainan “bentengan” dan “galasin.” Pada permainan ini, anak dilatih untuk bekerja sama dalam satu tim untuk mengalahkan lawannya. Sayangnya, permainan ini butuh lahan cukup luas yang kini semakin jarang.

Ada juga “petak umpet”, jenis permainan yang melatih kesiagaan anak. Betapa tidak, anak penjaga benteng harus mencari lawan-lawan yang bersembunyi, sekaligus waspada mempertahankan tempat yang dapat direbut setelah keluar dari persembunyian untuk mengalahkannya.

Dampak positif lainnya terdapat pada permainan congklak dan kelereng (gundu), yang bermanfaat untuk mengembangkan logika. Pada permainan congklak, pemain harus pandai mengatur langkah agar tak hanya sekadar mengisi lubang yang kosong. Sementara permainan kelereng melatih anak menggunakan teknik tertentu, supaya berhasil memenangkan permainan.

Ada juga permainan tradisional untuk melatih motorik. Kebanyakan permainan tradisional dilakukan di luar ruangan, sehingga saat memainkannya motorik anak secara tak langsung menjadi sangat terlatih. Misalnya, permainan “lompat tali” (lompat karet). Karet yang digunakan adalah karet gelang yang dirangkai menjadi tali, kemudian digerakkan secara berputar oleh 2 anak dan anak lainnya pun melompat. Dari berbagai permainan yang disebutkan, rata-rata membutuhkan gerakan motorik. Minimal, berlari dan meloncat

Itulah sebagian kecil permainan tradisional kita. Begitu kaya warisan nenek moyang kita, bukan? Hanya saja, permainan tempo doeloe masih perlu perhatian lebih dari pemerintah, agar tidak kehilangan nilai-nilai luhur yang menjadi kebanggaan.

Mari kita lestarikan dan cintai budaya Indonesia!

From → Feature Budaya

3 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Mega, karyamu ini bukan main.. Dirimu begitu detail menjabarkan manfaat maupun dampak negatif permainan anak-anak.. Bukan saja secara sosial, tapi juga lebih personal yang memang belum banyak diketahui masyarakat. Juga perbedaan permainan tradisional dan modern serta dalam kaitannya dengan kehidupan maupun budaya Indonesia..

    Secara keseluruhan tulisanmu sudah bagus, meski masih terdapat pengulangan sebagian kata pada kalimat berikutnya dan sentuhan rasa yang membuat tulisan mengalir saat dibaca. Pemisahan dua pokok pikiran yang mengisahkan tentang permainan tradisional dan modern, agaknya perlu dilakukan dengan cara penggunaan model blok dalam metode struktur penulisan. Hal ini akan membjuat tulisan menjadi lebih lugas..

    Jadi, mengapa tak coba dikirim juga ke media massa?

  2. Terimakasih atas komentar dan sarannya, Pak :)
    saya akan terus berlatih agar tulisan saya lebih baik lagi dan tidak terjadi pengulangan kata disetiap kalimat.
    sekali lagi terimakasih, Pak.

  3. Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Majalah Potret Indonesia pada Jumat 11 Januari 2013, pukiul 09.55 WIB (lihat disini:http://www.majalahpotretindonesia.com/index.php/budaya/1817-mengembalikan-budaya-yang-hilang).. Ayo, siapa lagi menyusul?

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi untuk Mega.

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Mega dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: