Skip to content

Pemodernisasian, Batik Warisan Budaya

by pada 15 Desember 2012
(batik-pantura.blogspot.com)

Batik keraton merupakan awal mula dari semua jenis batik yang berkembang di Indonesia. Motifnya mengandung makna filosofi hidup. (batik-pantura.blogspot.com)

Oleh Oktarina Dwi Purwanti

 Apa yang Anda pikirkan seputar batik? Sudah pasti, batik adalah salah satu hasil budaya Indonesia yang harus dilestarikan.

Mereka, kumpulan mayoritas wanita berusia remaja hingga dewasa itu, duduk berjam-jam. Raut wajah dipenuhi gambaran kesabaran dan ketelitian. Dimulai dari matahari terbit hingga terbenam. Masing-masing memegang kain putih. Berbekal kepiawaian tangan, melukiskan goresan-goresan yang membentuk batik nan indah. Mereka Pengrajin batik.

Sejarah Batik

Kata “batik” sendiri secara etimologis berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa yaitu “amba”, yang bermakna “menulis” dan “titik” yang bermakna “titik”. Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian.

Sejarah perkembangan batik tidak lepas dari pengaruh masyarakat dahulu, sebagaimana diteliti, batik Indonesia berhubungan erat dengan kerajaan Majapahit. Batik Indonesia mulai berkembang pada abad ke-18 dan 19, mula-mula berkembang di pulau Jawa.

Mulanya batik itu hanya berkembang di linkungan keraton saja, yang dikerjakan dan digunakan oleh warga di lingkungan keraton saja. Lama-kelaman batik meluas sampai keluar dari lingkungan keraton, yang menjadi pekerjaan wanita rumah tangga untuk mengisi waktu senggang mereka. Dahulu batik hanya digunakan oleh masyarakat keraton. Setelah itu meluas dan digunakan oleh seluruh masyarakat. Beberapa tahap  perkembangan batik indonesia, yaitu:

Pada zaman Majapahit, batik telah menjadi kebudayaan. Dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulunggung. Ciri khas batik ini hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua.

Saat berkecamuknya tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan pangeran Diponegoro, sebagian dari pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri ke arah timur (sekarang bernama Majan). Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala desanya seorang kyai yang statusnya turun -temurun. Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro itu.

Batik Indonesia selanjutnya berkembang pada masa perkembangan islam yaitu di daerah Ponorogo. Pembawa islam ke daerah Ponorogo ini yaitu Raden Kotong (adik Raden Patah). Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan keraton. Putri kraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiringnya. Di samping itu banyak pula keluarga keraton Solo belajar di pesantren ini.

Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari keraton menuju ke Ponorogo. Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia I yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nilai yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo.

Pembatikan di Jakarta, sejak zaman sebelum Perang Dunia I (PD I), Jakarta telah menjadi pusat perdagangan antar daerah di Indonesia. Setelah PD I (saat proses pembatikan cap mulai dikenal), produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru.

Daerah pemasaran untuk tekstil dan batik di Jakarta yang terkenal yaitu Tanah Abang, Jatinegara, dan Jakarta. Batik produksi daerah Solo, Yogya, Banyumas, Ponorogo, Tulungagung, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis dan Cirebon serta lain-lain daerah bertemu di Pasar Tanah Abang. Dari sini baru dikirim ke daerah-daerah di luar Jawa.

Oleh karena pusat pemasaran batik sebagian besar di Jakarta, khususnya Tanah Abang, dan juga bahan-bahan baku batik diperdagangkan di tempat yang sama, maka timbul pemikiran dari pedagang-pedagang batik itu untuk membuka perusahaan batik di Jakarta. Tempat yang dipilih berdekatan dengan Tanah Abang.

Pengusaha-pengusaha batik yang muncul sesudah PD I (perang dunia 1), terdiri dari bangsa Cina, dan buruh-buruh batiknya didatangkan dari daerah-daerah pembatikan Pekalongan, Yogya, dan Solo.

Pembatikan di Luar Jawa. Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum PD I, terutama batik-batik produksi Pekalongan, Solo, dan  Yogya. Di Sumatera Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal tenun Silungkang dan tenun Plekat. Pembatikan mulai berkembang di Padang setelah pendudukan Jepang.

Sejak hubungan antara Sumatera dengan Jawa waktu pendudukan Jepang putus, persediaan batik yang ada pada pedagang batik sudah habis. Ditambah lagi setelah kemerdekaan Indonesia, hubungan antara kedua pulau bertambah sulit. Semua ini akibat blokade-blokade Belanda. Maka pedagang-pedagang batik yang biasa berhubungan dengan pulau Jawa mencari jalan untuk membuat batik sendiri.

Dengan hasil karya sendiri dan penelitian seksama, dari batik-batik yang dibuat di Jawa, ditirulah pembuatan pola-pola dan diterapkan pada kayu sebagai alat cap. Obat-obat batik yang dipakai juga hasil buatan sendiri yaitu dari tumbuh-tumbuhan seperti mengkudu, kunyit, gambir, dammar, dan sebagainya. Bahan kain putihnya diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan.

Perusahaan batik pertama muncul yaitu daerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 yaitu Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Payakumbuh tahun 1948 Sdr. Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab.

Corak dan Motif batik Indonesia

Corak dan motif batik Indonesia sangat membeludak, ada yang merupakan motif asli dari nenek moyang bangsa kita dan ada juga yang merupakan akulturasi dengan bangsa lain.

Batik keraton merupakan awal mula dari semua jenis batik yang berkembang di Indonesia. Motifnya mengandung makna filosofi hidup. Batik-batik ini dibuat oleh para putri keraton dan juga pembatik-pembatik ahli yang hidup di lingkungan keraton. Pada dasarnya motif itu terlarang untuk digunakan oleh orang biasa seperti motif Parang Barong, Parang Rusak termasuk Udan Liris, dan beberapa motif lainnya.

Batik sudagaran, motif larangan dari kalangan kraton merangsang seniman dari kaum saudagar untuk menciptakan motif baru yang sesuai selera masyarakat saudagar. Mereka juga mengubah motif larangan sehingga motif tersebut dapat dipakai masyarakat umum.

Desain batik sudagaran umumnya terkesan berani dalam pemilihan bentuk, stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi warna soga dan biru tua. Batik sudagaran menyajikan kualitas dalam proses pengerjaan serta kerumitan dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta batik sudagaran mengubah batik keraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta batik yang amat indah.

Batik petani, batik yang dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di rumah di kala tidak pergi ke sawah atau saat waktu senggang. Biasanya batik ini kasar dan kagok serta tidak halus. Motifnya turun temurun sesuai daerah masing-masing dan batik ini dikerjakan secara tidak profesional karena hanya sebagai sambilan. Untuk pewarnaan pun diikutkan ke saudagar.

Batik belanda, warga keturunan Belanda banyak yang tertarik dengan batik Indonesia. Mereka membuat motif sendiri yang disukai bangsa Eropa. Motifnya berupa bunga-bunga Eropa, seperti tulip dan motif tokoh-tokoh cerita dongeng terkenal di sana.

Batik jawa hokokai, pada masa penjajahan Jepang di pesisir Utara Jawa lahir ragam batik tulis yang disebut batik hokokai. Motif dominan adalah bunga seperti bunga sakura dan krisan. Hampir semua batik jawa hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang sangat detail seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya masih diisi lagi, misalnya motif bunga padi.

Menilik dari sejarahnya, batik telah mengakar dalam sejarah bangsa Indonesia. Batik tidak hanya tumbuh dan berkembang di pulau Jawa, tetapi juga di luar pulai Jawa seperti Padang di pulau Sumatera. Corak dan motif batik yang sangat beragam, menunjukkan kekhasan masing-masing daerah. Motif-motif tersebut tidak hanya menjadi ciri khas daerah, tetapi juga menjadi simbol budaya daerah tersebut.

Di Jawa Timur saja, misalnya, motif dan warna dasar batik Surabaya, berbeda dengan batik Malang atau Mojokerto. Motif-motif batik Surabaya mewakili budaya Surabaya sebagai daerah pesisir, sementara batik Malang tentu saja menggambarkan budaya masyarakat Malang yang sejuk.

Ada lagi batik solo, batik banyumas, batik purwokerto, batik pekalongan, batik cirebon yang dikenal salah satu motif kerajinan batik tulisnya paling dikenal adalah motif mega mendung. Kain batik tulis ini sangat cocok digunakan sebagai suvernir maupun di pakai secara langsung sebagai busana. Selanjutnya yaitu batik betawi, batik madura, batik papua, batik padang, batik aceh, b

atik bengkulu, batik bali, batik lampung, batik toraja, batik palembang, batik jambi, batik indramayu, batik garut, batik tegal dan batik bojonegoro. Sejak lama Bojonegoro sangat kaya dengan motif batik. Beberapa motif di antaranya siap dipatenkan. Motif batik asli Bojonegoro, mengambil tema dari budaya lokal yang cukup arif dan potensi Bojonegoro yang cukup terkenal. Di antaranya motif mliwis putih, sapi, jagung, kahyangan api, tembakau, minyak, wayang tengul, padi dan motif batik Jati.

Hingga saat ini pasar produksi batik tersebut kini telah sampai di Singapura. Tak hanya itu, ada batik purbalingga. Sekilas memang mirip batik dari Banyumas, karena Purbalingga memang pernah saru karisidenan dengan Banyumas.

Selain itu, terdapat berbagai corak Batik Indonesia menandakan adanya berbagai pengaruh dari luar mulai dari kaligrafi Arab, burung phoenix dari China, bunga cherry dari Jepang sampai burung merak dari India atau Persia. Tradisi membatik diturunkan dari generasi ke generasi, batik terkait dengan identitas budaya rakyat indonesia dan melalui berbagai arti simbolik dari warna dan corak mengekspresikan kreatifitas dan spiritual rakyat Indonesia.

Pemordenisasian Teknik Pembuatan Batik dan Modelnya

Batik bisa mengacu pada dua hal. Pertama, teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Kedua, kain atau busana yang dibuat dengan teknik dan penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan.

Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009.

Malaysia pernah mengklaim batik sebagai warisan budaya mereka. Namun, klaim itu sendiri dapat berfungsi sebagai pelopor tumbuhnya kembali jiwa nasionalisme bangsa kita yang sempat tersurut. Harus diakui bahwa klaim Malaysia atas batik sangat meresahkan perajin batik Indonesia. Klaim tersebut secara tidak langsung menjadi pemicu lahirnya Forum Masyarakat Batik Indonesia di Jakarta. Sudah saatnya pengrajin batik bersatu, menunjukkan bahwa batik adalah warisan budaya Indonesia.

Batik telah mendarah daging dalam perjalanan bangsa Indonesia. Maka wajar jika kemudian kita marah, bahkan sangat geram, terhadap klaim Malaysia atas batik. Namun, kata kuncinya kelalaian. Lalai tak mengenal budaya sendiri. Alih-alih mengurus hak kekayaan intelektual dan hak cipta.

Sementara Malaysia, yang bangga atas kemajuan ekonomi, bermasalah ketika tidak memiliki identitas budaya. Padahal sebuah bangsa menjadi besar jika memiliki identitas yang kuat. Untuk menghindarkan klaim negara lain terhadap produk budaya nasional, Indonesia perlu segera mematenkannya di lembaga internasional.

Kalau lalai, negara lain seperti Malaysia akan mengklaimnya sebagai produk budaya mereka. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya urgensi dan proaktifnya pendataan dan perlindungan hak cipta atas karya pribadi dan hak paten atas karya manual. Kalau lalai tidak hanya kekayaan budaya hilang, bahkan berakibat buruk hilangnya identitas budaya.

Teknologi pembuatan batik di Indonesia pada prinsipnya berdasarkan Resist Dyes Technique atau teknik celup rintang. Untuk membuat motif batik umumnya dilakukan dengan cara tulis tangan menggunakan canting tulis (batik tulis atau batik painting), cap dari tembaga disebut (batik cap), dibuat motif pada mesin printing (batik printing), dibordir disebut batik bordir, serta dibuat dengan kombinasi. Motif unik itu bisa mengambil bentuk-bentuk bangunan bersejarah, flora, fauna dan keindahan alam di Indonesia.

Perkembangan batik di Indonesia sudah dimodernisasi. Memasuki era globalisasi, metode pembuatan batik pun mengikuti kemajuan teknologi. Beberapa metode pembuatan batik yaitu dengan menggunakan cap dan cetak seperti sablon, printing, serta software yang dapat digunakan pengrajin untuk mendesain batik dengan beragam motif.

Tidak hanya metode pembuatan batik, desain dan model baju batik juga terus mengalami perkembangan. Zaman dahulu di era 90-an corak batik terlalu kuno. Kain batik terkesan hanya untuk orang-orang dewasa. Sekarang, pakaian batik sudah banyak mengalami revolusi. Ada banyak sekali desain baju batik yang telah mengalami perubahan ke model baju batik modern  untuk dapat mengimbangi fashion. Desain lebih indah dan modis mulai dibentuk.

Perkembangan batik ini telah mendapat tempat yang baik di masyarakat. Sekarang, orang-orang pergi ke pesta mewah sekalipun telah menggunakan batik sebagai pakaian maupun gaunnya. Bahkan para pejabat Negara, pegawai negeri, siswa sekolahpun di wajibkan untuk memakai seragam batik pada hari-hari tertentu. Alih-alih, corak baru muncul untuk semakin memperkaya pilihan kepada para konsumen. Dengan menggabungkan konsep tradisional dan modern, batik mampu membuat gebrakan mode di tanah air Indonesia. Bahkan sekarang batik dibuat juga dalam bentuk jaket, sandal, tas, dan masih banyak lagi.

Batik Warisan Budaya Dunia

Pada 2 Oktober 2009 lalu, UNESCO mendeklarasikan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Seyogianya, inilah tantangan bagi kita untuk mengangkat batik sebagai salah satu pilar ekonomi rakyat. Deklarasi itu ternyata mampu membangkitkan spirit “berbatik ria” di masyarakat Indonesia.

UNESCO mengakui bahwa Batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia mulai dari lahir sampai meninggal, bayi digendong dengan kain batik bercorak simbol yang membawa keberuntungan, dan yang meninggal ditutup dengan kainbatik.

UNESCO memasukkan Batik Indonesia ke dalam Representative List karena telah memenuhi kriteria, antara lain kaya dengan simbol-simbol dan filosofi kehidupan rakyat Indonesia. Guna tetap menjaga dan mengembangkan batik sebagai warisan budaya Indonesia, masyarakat yang mewakili enam unsur kepentingan mendeklarasikan terbentuknya Masyarakat Batik Indonesia (MBI) yang sebelumnya bernama Forum Masyarakat Batik Indonesia.

Menurut Ketua Yayasan KADIN Indonesia Iman Sutjipto Umar di Universitas Indonesia, Depok, hal tersebut menjadi penting mengingat batik sebagai warisan budaya masyarakat Indonesia perlu tetap dipelihara kelestariannya, terutama kepada generasi penerus berikutnya.

Perkembangan batik yang marak dalam beberapa tahun terakhir ini juga telah ditunjukkan dengan akan dibangunnya Galeri Batik dalam kurun waktu antara satu hingga dua tahun ke depan, yang akan diselaraskan dengan perkembangan Museum Tekstil di Tanah Abang, Jakarta.Sementara untuk keberadaan Museum Batik di Pekalongan saat ini, rencananya akan dipindah ke gedung Eksresiden Pekalongan Pekalongan.

Guna memadukan secara sinegis seluruh daya dan kemampuan bangsa memajukan batik Indonesia. Pakaian dengan corak sehari-hari dipakai secara rutin dalam kegiatan bisnis dan akademis, sementara itu berbagai corak lainnya dipakai dalam upacara pernikahan, kehamilan, juga dalam wayang, kebutuhan nonsandang dan berbagai penampilan kesenian. Kain batik bahkan memainkan peran utama dalam ritual tertentu.

Selanjutnya seluruh komponen masyarakat bersama pemerintah melakukan langkah-langkah secara berkesinambungan untuk perlindungan termasuk peningkatan kesadaran dan pengembangan kapasitas termasuk aktivitas pendidikan dan pelatihan.

Dalam menyiapkan nominasi, para pihak terkait telah melakukan berbagai aktivitas, termasuk melakukan penelitian di lapangan, pengkajian, seminar, dan sebagainya untuk mendiskusikan isi dokumen dan memperkaya informasi secara bebas dan terbuka. Pemerintah telah memasukkan Batik Indonesia ke dalam Daftar Inventaris Mata Budaya Indonesia.

Mempatenkan Batik

Menurut undang-undang nomor 14 tahun 2001 tentang Paten, Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada inventor atas hasil penemuannya di bidang teknologi. Paten diberikan untuk selama waktu tertentu karena melaksanakan sendiri penemuannya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya.

Kita sambut gembira masuknya batik Indonesia dalam 76 warisan budaya nonbenda dunia. Hal ini memiliki makna bahwa kita telah mempatenkan batik sebagai warisan budaya Indonesia. Meskipun dari 76 seni dan budaya warisan dunia yang diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), Indonesia hanya menyumbangkan satu, sementara China 21 dan Jepang 13 warisan. Jumlah ini jangan menyurutkan rasa gembira dan rasa syukur kita.

Cintai dan penggunaan terhadap produk batik dalam negeri memiliki banyak sisi positif sehingga patut dilakukan. Disarankan pula agar tidak membeli dan menggunakan produk dalam negeri begitu saja, akan lebih baik bila disertai pula dengan rasa cinta tanah air sehingga dapat menjadi sikap nasionalisme yang baik.

Dengan demikian, semoga kedepannya masyarakat lebih mengenal dan mencintai budaya nasional warisan leluhur seperti batik. Masyarakat bisa menjaga dan memahami serta mempertahankan kesenian dimiliki Indonesia sejak dulu.

From → Feature Budaya

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: