Skip to content

Menjabat Bagai Benalu

by pada 16 Desember 2012
Azhmy F Mahyddin

Azhmy Fawzi My

Oleh Azhmy Fawzi My

Tidak adil, sungguh! Begitu yang terlintas dalam pikiran Tresnowati. Ia baru saja mendengar isu akan ada pembatasan rekrutmen pegawai negeri sipil. Betapa tidak, ia sudah menjadi guru honorer SMUN sejak tahun 2009 di kota yang tidak terlalu jauh dari megapolitan ibukota. Semua kegundahannya ini, karena menuruti pesan mendiang ayahnya.

“Kalau kamu sudah menikah nanti dan diizinkan suamimu, lanjutkanlah berkarier, Kalau bisa, sih, jadilah pegawai negeri, biar dapat melakukan semua peranmu,” pesan ayahnya, yang mantan guru SMU.

Saat itu Tres –begitu panggilan akrabnya– baru saja diterima di perusahaan media sebagai wartawan. Magister bidang ekonomi yang diperolehnya tiga bulan lalu –dan wajah cantik, kata teman-temannya– mempercepat terkabul keinginan menggebu dalam dirinya memperoleh predikat wartawan, yang memang sangat dikagumi sepak terjangnya.

Ayahnya tahu itu. Sejak SMU telah terlihat bakat Tres dalam hal menulis. Juga kegemarannya bertanya dan berlagak bagai seorang wartawan, yang tengah mewawancarai nara sumbernya. Namun, demi mengangkat kehidupan ekonomi keluarganya yang serba pas-pasan, perlahan Ayah mendorong minat putrinya ke bidang ekonomi. Bidang yang menjanjikan untuk mendapatkan pekerjaan bagus, dengan gaji tinggi tentunya. Untunglah anaknya memiliki multitalenta., sehingga tanpa disadari Tresnowati pun makin menikmati pergelutannya dalam urusan ekonomi makro maupun mikro.

Hati Ayah pun membuncah. Siapa yang tak bangga menyaksikan darah dagingnya, kini telah menjadi seorang master. Bidang ekonomi lagi. Terbayang putrinya duduk sebagai salah satu Board of Director sebuah bank ternama. Atau menjadi petinggi Kementerian Keuangan seperti Sri Mulyani, yang kini telah melejit sebagai salah satu pejabat di IMF. Atau pejabat BUMN bagai Direktur Utama Pertamina yang akhirnya menjadi menteri. Yang jelas, masa depannya pasti cerah dan jauh lebih baik dari ayahnya. Ah, senyum Ayah pun terus tersungging, menandakan keriangan hatinya. Doanya telah terkabul. Tresnowati mengikuti kehendaknya, menekuni bidang ekonomi.

*****

“Ayah sibuk, ya?” Tres terlihat masih terengah-engah, setelah setengah berlari menghampiri ayahnya yang sedang menyelesaikan penilaian hasil ujian tengahsemester anak didiknya.

“Ada apa, sayang?” ujar sang ayah seraya meletakkan kacamata baca.

“Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin Tres sampaikan. Tapi..?”

“Sampaikanlah, Nak. Pasti Ayah senang mendengarnya,.”

“Tres diterima bekerja. di majalah yang Ayah langgani selama ini..”

Oh, Tres memilih pekerjaan yang tak diduganya. Menjadi wartawan. Masya Allah, sesal ayah di dalam hati. Serta-merta dunia seolah berputar. Wajahnya pun kian pucat pasi.

“Ayah sakit?” tanya Tres penuh perhatian. “Kok, wajah Ayah pucat, kenapa?” Istirahatlah. Ayah barangkali kurang tidur,” pinta Tres bertubi-tubi.

“Tidak, Nak. Ayah memang cuma kurang tidur. Tak apa,” sahut ayahnya dengan bijak, berusaha menyembunyikan kegalauan hati yang kini mendera.

Alhamdulillah, selamat sayang! Sudah beritahu ibumu?” tutur ayahnya berusaha tetap gembira.

“Terima kasih, Ayah. Kini cita-cita Tres sedari kecil, ternyata terwujud. Gusti Allah baik sekali pada Tres, ya, Yah?” Betapa riang putrinya.

Dengan sigap, diraihnya tangan Ayah yang terjulur untuk memberi selamat.

“Tapi ingat, tugas kodratimu sebagai wanita, tetap diutamakan, ya! Kamu harus tetap menjadi wanita yang mampu mengurus rumah tangga kelak. Sebagai istri bagi suamimu, menjadi ibu untuk anak-anakmu. Kalau kamu sudah menikah nanti dan diizinkan suamimu, lanjutkanlah berkarier. Kalau bisa, sih, jadilah pegawai negeri biar kamu tetap dapat melakukan semua peranmu,” petuah Ayah panjang lebar, merasa harapannya telah pupus.

“Duh, Gusti Allah! Kenapa Kau-balikkan hatinya lagi,” pekik ayah, meluapkan kekecewaannya langsung pada malam itu juga. “Gusti, bagaimanakah rencana-Mu?” gugat ayah dalam tahajud. “Bertahun-tahun hamba tumbuhkan minat ke dalam pikirannya, sampai ia berhasil meraih gelar pascasarjananya. Bahkan tiada terlihat sedikit pun guratan penyesalan di wajahnya. Duh Gusti, tak bolehkah hamba mengecap kesejahteraan di ujung usiaku ini? Masih berlikukah kebahagiaan sempurna yang ingin kuraih? Tolong Gusti Allah, hamba bermunajat kepada-Mu. Hanya kepada-Mu..”

*****

Di usianya yang mencapai 34 tahun sekarang, Tresnowati nelongso. Dunia kewartawanan dia tinggalkan. Kini ia menjadi guru menuruti kehendak ayahnya.

Setelah tiga tahun menikah dan belum dikaruniai anak, ia merasa jemu di rumah. Suaminya, seorang pengusaha mandiri yang cukup sukses, telah mengizinkannya kembali berkarier –yang ditinggalkannya sejak menikah– agar ia mempunyai kesibukan. Alhamdulillah, karena telah cukup soal finansial dari suaminya, Tres memilih mendarmabaktikan ilmu yang dimilikinya untuk dunia pendidikan. Sekaligus, dalam pertimbangannya, kehidupan dirinya tetap akan ‘ramai’ dengan anak-anak..

Tapi, sungguh, kebijakan pemerintah baru ini membuat Tres bingung. Apa alasannya? Tidak berkompeten? Rasa-rasanya gelar S2 ditambah pengalaman bekerjanya dahulu, cukup menunjang profesinya sebagai guru. Sungguh, bukan disebabkan keinginan besarnya gaji. Namun sebagai manusia biasa, Tres juga ingin kepastian profesional. Ia harus menunggu untuk diangkat menjadi PNS.

Ngomongin tentang gaji, Tres tak habis pikir, kalau dakatakan gaji pegawai negeri menyedot anggaran negara. Coba saja bayangkan, gaji PNS perorang tidak sampai satu persen gaji pejabat negara, apalagi pejabat BUMN. Belum lagi tunjangan dan lain-lainnya, seperti yang diperoleh Anggota Dewan. Padahal, beban tugas mereka tidak kalah banyaknya. “Kok, bisa, ya, dianggap begitu?” tanya Tres di dalam hati, bagai beretorika.

Di sisi lain Tres ingat yang sekarang juga didengung-dengungkan– guru harus memiliki kompetensi profesional. Sementara –ya itu tadi– gaji atau honornya, tak pernah ikut digolongkan sebagai profesional. Mereka tahu, guru sudah cukup bahagia, bila disanjung sebagai ‘pahlawan’ –meski tanpa tanda jasa. Seorang guru yang memilih karena tuntunan jiwa, pastilah nrimo pandhum. Bahagia dengan apa adanya. Meski sebagai manusia, kebutuhan hidup mereka tidak terlalu berbeda. Guru yang pintar karena mencerdaskan anak bangsa, lebih banyak di-‘bodohi’ sikap para Pemangku Kebijakan. “Dunia memang tidak adil!” protes Tres.

*****

“Mengabdi kepada negara, ternyata tak mudah. Padahal, ia tidak termasuk mereka yang telah menjadi pegawai negeri dan tidak berkompeten. Malah –sebagian dari mereka– telah merusak negara dengan perilaku korupsi yang memalukan dan tidak Engkau ridhai, namun tetap selamat menjabat bagai benalu yang merusak induk pohonnya. Kenapa, Gusti..?” bisik Tres dalam tahajud-nya..

Di kejauhan, lamat-lamat terdengar lantunan ayat Al-Qur’an menjelang Subuh. Membacakan Surah Al-Ahzab ayat 17, yang artinya: “Katakanlah, siapa yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah, jika Dia menghendaki bencana atasmu, atau menghendaki rahmat untuk dirimu. Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong, selain Allah..”

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: