Skip to content

Kisah Unik di Balik Rendang

by pada 16 Desember 2012

rendangOleh Nurul Aini

Siapa yang tak kenal rendang? Makanan khas Minangkabau ini memang menggugah selera. Cita rasa bumbu kaya rempah-rempah, tak pernah luput memanjakan lidah. Tapi tahukah Anda, di balik kelezatan tersebut tersimpan filosofi unik masyarakat Minang?

Dalam tradisi Minangkabau, rendang adalah hidangan yang wajib disajikan dalam setiap perhelatan istimewa, seperti berbagai upacara adat Minangkabau, kenduri, atau menyambut tamu kehormatan. Begitu pula dalam tradisi Melayu, baik di Riau, Jambi, Medan, atau Semenanjung Malaya, rendang adalah sajian istimewa yang dihidangkan dalam kenduri khitanan, ulang tahun, pernikahan, barzanji, atau perhelatan keagamaan, seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Rendang memiliki posisi terhormat dalam budaya Minangkabau, Sumatera Barat, karena di dalam rendang terkandung musyawarah dan mufakat yang menjadi filosofi bagi masyarakatnya Empat bahan pokok melambangkan keutuhan masyarakat Minang, yaitu:

  1. Dagiang (daging sapi), lambang dari Niniak Mamak (para pemimpin suku adat)
  2. Karambia (kelapa), lambang Cadiak Pandai (kaum intelektual)
  3. Lado (cabai), lambang Alim Ulama yang pedas, tegas dalam mengajarkan syariat agama
  4. Pemasak (bumbu), lambang dari keseluruhan masyarakat Minangkabau

*******

Sebagai masakan tradisi, rendang diduga lahir sejak orang Minang menggelar acara adat pertamanya. Kemudian seni memasak ini berkembang ke kawasan serantau berbudaya Melayu lainnya. Mulai dari Mandailing, Riau, Jambi, hingga ke seberang di Negeri Sembilan, yang banyak dihuni perantau asal Minangkabau. Karena itulah rendang dikenal luas, baik di Sumatera dan Semenanjung Malaya.

Sejarawan Universitas Andalas, Prof. Gusti Asnan menduga, rendang telah menjadi masakan yang tersebar luas sejak orang Minang mulai merantau dan berdagang ke Malaka pada awal abad ke-16. “Karena perjalanan melewati sungai dan memakan waktu lama, rendang mungkin menjadi pilihan tepat saat itu sebagai bekal,” ujar Gusti Asnan. Hal ini dikarenakan rendang kering sangat awet, tahan disimpan hingga berbulan lamanya, sehingga tepat dijadikan bekal kala merantau atau dalam perjalanan niaga.

Rendang juga disebut dalam kesusastraan Melayu klasik, seperti Hikayat Amir Hamzah, yang membuktikan rendang dikenal dalam seni masakan Melayu sejak 1550-an (pertengahan abad ke-16).

10:4 … Buzurjumhur Hakim pun pergi pula ke kedai orang merendang daging kambing, lalu ia berkata: “Beri apalah daging kambing.”

10:7 “… kambing rendang ini barang segumpal,” sahut orang merendang itu. “Berilah harganya dahulu,” kata Khoja Buzurjumhur.

Hikayat Amir Hamzah

*******

Tetapi, rendang ternyata bukanlah nama makanan yang kita kenal saat ini. Rendang merupakan teknik memasak daging berbumbu dalam kuah santan, hingga mengering. Jika ditinjau dari kandungan cairan santan, terdapat tiga tingkat tahapan. Mulai dari yang terbasah (gulai), berkuah (kalio), hingga yang terkering (rendang). Dari pengertian ini, rendang yang kita kenal adalah rendang dengan kandungan cairan paling rendah. Akan tetapi secara umum, dikenal dua macam jenis rendang: rendang kering dan basah.

Rendang kian terkenal dan tersebar luas jauh melampaui wilayah aslinya, berkat budaya merantau suku Minangkabau. Banyak orang Minang yang merantau, berwirausaha membuka rumah makan Padang. Hal ini membuat masakan khas Minang dikenal luas, bahkan hingga ke mancanegara. Situs travel.cnn.com pada September 2011, bahkan menominasikan rendang sebagai makanan terlezat pertama dari 50 makanan di dunia.

From → Feature Budaya

7 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Nurul, tulisanmu ini singkat namun sangat mednarik. Bagi sebuah makanan yang amat terkenal,segala informasi yang terkait di baliknya menjadi magnet bagi pembaca untuk mengetahuinya. Terlebih karena rahasia filosofi, yang pastinya belum diketahui banyak orang..

    Dari sisi penulisan sudah bagus, sangat sedikit editing yang dilakukan. Agaknya masih terkesan sangat informatis, kurang memuat suasana yang “sesuatu” sehingga pembaca dapat lebih takjub tanpa disadari setelah membacanya..

    Jadi dengan kejelianmu mencari tema ini, sudahkah dikirim ke media massa? Ayo..

  2. joni rusdiana permalink

    membaca tulisannya nurul saya jadi kepikiran menulis artikel yang menghubungkan popularitas rendang dengan jiwa merantau orang minang. atau ada yang mau nulis ya?

  3. azhmyfm permalink

    Monggo wae, Om Joni.. Kan bisa jadi bahan referensi untuk kita semua.. Pasti menarik dan manfaat, terlebih belum ada yang menuliskan..Setidaknya bisa menjadi acuan semangat bagi mereka yang gemar merantau dan berpetualang.. Yuk..

  4. boleh di repost ga ke portal describeindonesia.com??
    sumber n writter tetep an sini..

    • azhmyfm permalink

      Boleh Riyan, silakan saja.. Selama sumber dan nama penulis tetap dicantumkan dalam link situs.. Kita berbagi informasi, semoga manfaat..

  5. oia ni gua alumni TGP 2009, ada info loker buat content writer di Desribeindonesia.
    male / female. lebih diutamakan sih cewe
    kalo ada yang minat bisa email: adiya@describeindonesia.com
    ASAP yah..

Trackbacks & Pingbacks

  1. In Memoriam: Nurul Aini | Xpression Journalism

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: