Skip to content

Ma, Kok, Aku Dikurungin, Sih?

by pada 16 Desember 2012
Agar jiwa si anak bersih dan siap menjalani kehidupannya (iblo.us)

Agar jiwa si anak bersih dan siap menjalani kehidupannya (iblo.us)

Oleh Niken Ari Setyowati

Suatu ketika aku membuka album foto masa kecilku. Ada satu foto yang menarik perhatianku, aku berada di dalam kurungan ayam. Lalu kutanyakan pada mama, “Ma, kok aku dikurungin sih?”

Mama menjelaskan bahwa itu adalah upacara masyarakat Jawa yang namanya Tedak Siten. Apa sih Tedhak Siten itu? Mengapa harus dikurung segala?

Tedhak Siten, inilah salah satu tradisi masyarakat Jawa yang mulai digerus zaman. Tedhak Siten sendiri berasal dari kata Tedhak yang berarti menapakkan kaki atau langkah, dan Siten yang berasal dari kata siti berarti tanah. Maka, Tedhak Siten adalah turun (ke) tanah atau mudhun lemah. Lengkapnya, tradisi ini diperuntukkan bagi bayi berusai 7 lapan atau 7 x 35 hari (245 hari).

Jumlah selapan adalah 35 hari menurut perhitungan Jawa berdasarkan hari pasaran, yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. Pada usia 245 hari, si anak mulai menapakkan kakinya pertama kali di tanah, untuk belajar duduk dan belajar berjalan. Ritual ini menggambarkan kesiapan seorang anak (bayi) untuk menghadapi kehidupannya. Biasanya,  kesempatan bahagia ini diselenggarakan pada pagi hari, di bagian depan dari pekarangan rumah.

Acara Tedhak Siten ini di mulai dengan menapaki jadah 7 warna, Jadah disini terbuat dari beras ketan dicampur dengan parutan kelapa muda dengan ditambahi garam agar rasanya gurih. Dan 7 warna disini yaitu hitam, kuning, hijau, biru, merah, putih, jingga. Warna-warna ini memiliki makna sebagai berikut, putih melambangkan watak dasar, biru jati diri, hijau lambang kehidupan, jingga lambang matahari, merah semangat, kuning harapan dapat tercapainya cita-cita, dan hitam lambang keagungan.

Makna yang terkandung dalam jadah ini merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui oleh si anak, mulai dia menapakkan kakinya pertama kali di bumi ini sampai dia dewasa, sedangkan warna-warna tersebut merupakan gambaran dalam kehidupan si anak akan menghapai banyak pilihan dan rintangan yang harus dilaluinya. Jadah 7 warna disusun mulai dari warna yang gelap ke terang.

Selanjutnya si anak menaiki tangga yang terbuat dari tebu jenis Arjuna, yaitu tangga yang dibuat dari batang tebu merah hati dan dihiasi kertas warna- warni. Hal ini dimaksudkan agar dalam menapaki (menjalani) hidupnya, apa yang di lakukan seorang anak diharapkan semakin meningkat. Dan mampu melewati halangan dan rintangan hidupnya kelak. Kemudian diteruskan menapaki pasir, ini dimaksudkan agar dalam dalam menjalani hidupnya dia siap dengan halangan atau rintangan apapun yang menghadangnya.

Setelah menapaki pasir, anak dibimbing di sebuah kurungan ayam yang telah dihias dan didalamnya terdapat beberapa mainan, alat tulis, uang, hp, stetoskop dan sebagainya. Kemudian anak disuruh mengambil barang yang disukainya. Barang yang dipilih si anak merupakan gambaran dari kegemaran dan juga pekerjaan yang diminatinya kelak setelah dewasa.

Prosesi selanjutnya adalah sebar beras kuning yang telah dicampur dengan uang logam untuk diperebutkan (dalam hal ini yang menaburkan adalah diwakili bapaknya), prosesi ini menggambarkan agar si anak kelak menjadi anak yang dermawan, suka bersedekah dalam lingkungannya.

Terakhir anak dimandikan dengan air yang sudah dicampurkan dengan kembang setaman. Hal ini dimaksudkan agar jiwa si anak bersih dan siap menjalani kehidupannya di masa yang akan datang.

From → Feature Budaya

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: