Skip to content

Hidup Pasar Tradisonal, Hidup Rakyat

by pada 17 Desember 2012
(infopublik.kominfo.go.id)

(infopublik.kominfo.go.id)

Oleh Adinda S. Rahayu

Pasar tradisional. Ramai dengan para penjual yang tanpa lelah menawarkan dagangannya, begitupun dengan pembeli yang tak lelah menawar harga barang incarannya.

Genangan air terasa di kaki tiap kali saya tak hati-hati berjalan. Bahkan, terkadang bau tak sedap dari buah dan sayur yang mulai membusuk menguar di udara, menyergap setiap hidung manusia yang ada di sana. Tak hanya itu, bahaya pun mengintai mereka yang tak waspada dari berbagai sudut, entah itu jambret, preman, atau copet.

Namun, di pasar tradisonal lah kita dapat merasakan dan terlibat dalam denyut kehidupan sehari-hari masyarakat. Terutama masyarakat menengah ke bawah. Bayangkan, segala macam manusia dari berbagai latar belakang berkumpul, bertemu di sana untuk melakukan transaksi jual beli. Mulai dari makanan hingga pakaian.

Sedihnya, tak jarang kita saksikan belakangan ini bahwa tampaknya pembangunan pusat perbelanjaan modern semakin gencar saja di ibukota. Mirisnya, terkadang mal, supermarket, atau sejenisnya itu berada tak jauh dari pasar tradisional. Berbelanja di tempat seperti itu memang benar nyaman, serta relatif aman dari ancaman tindak kriminal. Meskipun soal harga tak semiring di pasar tradisonal. Tak heran, pasar tradisonal saat ini dinilai semakin terpinggirkan akibat ekspansi pasar modern yang kian marak di tanah air.

Tak jarang pula mal atau pusat perbelanjaan modern yang letaknya dekat atau bahkan bersebelahan. Padahal, lokasi pasar modern tidak boleh dekat dengan pasar tradisional. Pasar modern seharusnya berjarak minimal dua kilometer dari pasar tradisional.

Zahra (46), seorang pedagang sayur di Pasar Minggu, Jakarta Selatan mengatakan, ”Nggak masalah ada mal bagus atau nggak, yang penting saya tetap bisa berdagang untuk membiayai hidup.” Pedagang yang akrab disapa Mbak Jaroh ini sudah berjualan sayur di Pasar Minggu sejak belasan tahun. Sejak bercerai dengan suaminya, ia mulai berdagang sayur untuk menyambung hidupnya dan anak-anaknya. “Saya nggak tahu gimana kalau nanti orang-orang hampir semuanya beralih ke pasar modern. Tapi untuk sekarang  alhamdulillah saya selalu merasa cukup,” ungkapnya.

Hal serupa dinyatakan oleh Jul, penyedia jasa reparasi jam tangan di Pasar Minggu, “Orang yang mau benerin jambisa aja dateng langsung ke rumah saya, tapi kalau di pasar pasti yang datang lebih banyak. Nggak terbayang kalau orang-orang  nggak ada lagi yang mau dateng ke pasar .”

Meskipun demikian, pasar tradisional tak akan kehilangan konsumennya. Sepanas apa pun persaingan antara pasar tradisonal dan modern, pasar tradisonal tak akan mati. Ia sudah berada sejak puluhan tahun lalu dan tentunya sudah lebih akrab bagi masyarakat. Masalah yang dimiliki pasar tradisional mungkin hanya lah ketidaktersediaan fasilitas yang menambah kenyamanan berbelanja para pengunjung. Fasilitas seperti parkir kendaraan, tempat berteduh, toilet, atau musala masih luput dari perhatian pengelola pasar.

Pasar tradisonal haruslah diberdayakan. Lebih dari itu, hidup pasar tradisional adalah hidup rakyat, karena hampir seluruh elemen masyarakat menggantungkan hidupnya pada kegiatan jual beli di sana.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: