Skip to content

Jilbab, Budaya atau Keharusan?

by pada 17 Desember 2012
(muslimdaily.ne)

(muslimdaily.ne)

Oleh Windari Subangkit

Aceh. Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar nama tersebut? Kota yang pernah mengalami bencana tsunami dahsyat 26 Desember 2004 silam? Atau daerah yang sangat kental dengan syari’at Islam? Ya, siapa yang tak kenal dengan kota “Serambi Makkah” itu.

Nanggroe Aceh Darussalam, kota bernuansa Islam yang asri dengan masyarakatnya yang ramah. Berkeliling kota Aceh, Anda akan dihadapkan dengan pemandangan berbeda yang tak didapat di kota-kota besar lainnya. Mengapa saya mengatakan berbeda? Pasalnya semua perempuan di sini memakai jilbab layaknya di kota Makkah, Arab Saudi.

Aceh menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang cukup variatif juga unik dalam budaya dan tradisi. Sejak mendapat sentuhan Islam dari pedagang Arab di abad 13 M, Aceh terus tumbuh kembang dengan pesat dengan beragam budaya dan tradisi Islam yang terus dipertahankan hingga kini.

Sejarah menunjukkan, bagaimana rakyat Aceh menjadikan Islam sebagai pedoman dan ulama mendapat tempat terhormat. Pelaksanaan syari’at Islam sebagai inti keistimewaan Aceh, yang sebelumnya hanya merupakan slogan, mendapat legalitas dan landasan formal dalam Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 mengenai Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh.

Syari’at Islam di Aceh tercermin pada kebiasaan masyarakatnya dalam cara berpakaian, setiap kaum Hawa di Aceh harus menutup kepalanya dengan berhijab. Layaknya budaya yang sangat melekat, para wanita dengan sendirinya memakai jilbab. Kesadaran berjilbab memang kuat dipatuhi masyarakat di sini, kalau tidak seakan malu! Semua orang berjilbab, apa alasan untuk tidak berjilbab?

Tetapi, budaya memakai jilbab kini mulai meluntur. Terlihat jelas setelah tsunami, yang meluluhlantakkan kota dan menewaskan lebih 200.000 jiwa pada 2004 silam. Ya, bencana yang telah menghancurkan 15 dari 21 kota di Aceh dan memusnahkan hampir seluruh rumah penduduknya. Banyak anak menjadi yatim piatu, tak memiliki ayah dan ibu. Sanak keluarganya pun hilang ditelan tsunami.

Tak banyak diketahui masyarakat, budaya Aceh yang tak terlepas dari budaya Islam, kini sedikit demi sedikit mulai bergeser. Sebelumnya masyarakat Aceh tabu melihat wanita berjalan tanpa jilbab, yang menutupi kepala hingga ke bahunya. Pergeseran budaya seperti melihat wanita tanpa berjilbab, sudah tak aneh lagi. Tak ada orang yang menegur, tak ada lagi yang peduli.

Para wanita terlihat santai menelusuri jalan, tanpa memakai jilbab. Tampak di ibu kota Banda Aceh, mereka sudah berani berboncengan motor yang dikendarai pria yang bukan muhrim tanpa mengenakan jilbab. Padahal, sebelumnya mereka selalu memakai jilbab. Ironis!

Sewaktu syari’at Islam dicanangkan untuk diterapkan di negeri Serambi Makkah itu, para wanita serentak menyambut dengan memakai busana muslim dan jilbabnya. Nanggroe Aceh Darussalam merupakan daerah yang istimewa, sebab pemerintah mengesahkannya sebagai daerah yang boleh menjalankan syari’at Islam.

Sebagai seorang muslim, berjilbab merupakan kewajiban yang harus dikenakan oleh setiap wanita muslimah. Namun, bagaimanakah dengan masyarakat Aceh? Apakah jilbab sebagai suatu keharusan ataukah sudah menjadi bagian dari budaya rakyat?

Hati saya tergelitik, ketika menemui seorang wanita asal Aceh yang kini bermukim di Depok. Ia tak mengenakan jilbab, layaknya saat berada di kota asalnya itu. “Di Aceh, saya tetap pakai jilbab. Di sini saya tidak pakai jilbab, karena merasa lebih bebas saja jika tidak memakainya,” ujar Mawar (nama samaran –pen) dengan malu-malu.

Barangkali, untuk mengatasi “kenakalan” rakyatnya, pemerintah provinsi Aceh pun membuat peraturan daerah yang isinya berdasarkan syari’at Islam. Perda ini bernama Qanun. Perda yang nampaknya membuat para wanita di Aceh mengalami keterpaksaan dalam mengikuti syari’at Islam, mengenakan kerudung.

Budaya luar menjadi faktor utama, memudarnya kesadaran masyarakat Aceh dalam memakai jilbab. Penduduk setempat lupa akan budaya awal yang sudah lama mereka lakukan. Karena beberapa hal itu, mereka merasa tidak berdaya. Kemudian memutuskan untuk melepas penutup aurat mereka, jilbab.

Budaya Islam di Aceh sengaja dipeloporkan generasi pendahulu, karena mereka menilai tradisi Islam sangat penting untuk dipertahankan. Tak ada salahnya kita tetap mengikuti budaya tersebut, selama tak berdampak negatif bagi kehidupan masyarakatnya. Mempertahankannya berarti kita menjaganya, dan melupakannya berarti kita sedang menghancurkannya.

Jadi, masih terpaksakah mengenakan jilbab?

From → Feature Budaya

2 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Windari, dampak negarif sebuah kota yang berkembang menjadi Metripolitan, memang kadang berpengaruh bagi tercerabutnya budaya asal suatu daerah. Namun membaca tulisanmu ini, sungguh kita menjadi miris, Bagaimana wilayah yang dikenal sebagai “Serambi Makkah” kini mulai bersinggungan dengan budaya permisif dan serba boleh, yang agaknya dapat merusak tatanan “adat bersendikan agama” yang ditaati dan dibanggakan berpuluh tahun silam..

    Dari sisi teknik penulisan, mungkin akan lebih akurat kalau kamu memperbanyak referensi. Baik melalui dokumentasi maupun observasi dan wawancara langsung dengan pihak terkait, sehingga asumsi bukan sebatas dugaan penulis. Tetapi benar merupakan rangkaian fakta yang tak dapat dibantah. Juga logika bahasa mungkin dapat lebih baik, jika dirimu mau membaca ulang lagi setelah tulisan jadi, sehingga tulisan menjadi lebih mengalir..

    Jadi, teruskanlah berlatih dan berlatih.. Jangan lupa kirimkan ke media massa ya..

  2. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Senin 14 Januari 2013 pukul 11.45 WIB (lihat disini:http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3069/2013/Jilbab,-Budaya-atau-Keharusan?).

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi untuk Windari. Ayo, siapa menyusul?

    Semoga hal ini menjadi langkah awal bagi keberhasilan Windari dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: