Skip to content

Ayumi Sang Pedagang Sayur

by pada 18 Desember 2012
Walaupun dalam kondisi hamil, ibu muda ini, selalu mengerjakan pekerjaannya seorang diri (ramadhan.republika.co.id)

Walaupun dalam kondisi hamil, ibu muda ini, selalu mengerjakan pekerjaannya seorang diri (ramadhan.republika.co.id)

Oleh Wardatul Jamilah

Cahaya rembulan  di malam hari adalah temannya beraktifitas. Udara dingin yang menusuk bagai sudah bersahabat. Kala orang lain tengah terlelap tidur. Ayumi sang pedagang sayur memulai aktifitasnya.

Adalah R. Ayumi Satyagraha, wanita kelahiran Seragen, 10 Agustus 1982 ini,  berprofesi sebagai pedagang sayuran di pasar tradesional Kemiri, Depok.  Sejak tahun 2007, ia menekuni pekerjaanya menjadi pedagang sayuran. Meski, terlahir dari keluarga yang mampu Ayumi tidak malu menjalani pekerjaannya sekarang.

“Sebelum aku punya anak, aku ngantor selama 6 tahun. Kenapa sayuran? Karena itu warisan orangtuaku. Dipikir-pikir daripada memulai yang baru belum tentu berhasil lebih baik meneruskan yang sudah ada.” Tutur ibu beranak tiga itu.

Wanita yang sedang mengandung enam bulan ini adalah seorang yang mandiri. Walaupun dalam kondisi hamil, ibu muda ini, selalu mengerjakan pekerjaannya seorang diri. Mulai dari berbelanja sayuran malam hari di pasar Induk Kramatjati untuk di jual pagi hari. Biasanya ia membuka lapak sayurannya pukul 4 pagi sampai dengan pukul 10 pagi. Setelah itu, ia kembali ke rumah untuk mengurus anak-anak yang masih kecil. Begitulah rutinitasnya sehari-hari.

Semangat yang dimilikinya perlu dijadikan contoh. Meskipun, ia dari keluarga berada, tetapi Ayumi tidak mau menjadi orang yang hanya menikmati kekayaan orang tuanya begitu saja. “Aku bukan orang yang praktis, begtu saja menikmati harta orang tua  atau suami saya. Bukankah kalau kita menjalankan prosesnya, itu lebih nikmat saat kita menuai hasil.” Tutur wanita berusia 30 tahun itu.

Selama menjalankan profesinya, Ayumi juga sering mengalami pasang surut. Banyak suka duka yang telah dialami. “suka dukanya kalo berdagang laris manis, trus ga di utang. Dukanya kalo musim hujan sayurannya kurang bagus trus konsumsi masyarakatnya jadi kurang . Orang males ke pasar karena becek.”ujarnya saat ditemui.

Ibu muda yang sedang mengandung anak ketiga ini, berdagang bukanlah menjadi prioritas utama bagi dirinya. Berdagang hanya sebagai pengisi waktu luang. Wanita ini selalu menyempatkan waktu utntuk keluarga kecilnya. Jarak dari rumah ke pasar kemiri hanya 200 meter. “Jarak dari rumah juga deket. Jadi lebih mudah memonitori anak-anak.” Tutur wanita keturunan darah biru itu.

Betapa hebatnya wanita ini, ditengah-tengah harta kekayan yang dimilikinya. Ia masih saja mau terjun langsung menjadi pedagang sayur. Padahal jika ia mau, bisa saja wanita ini bersantai-santai dirumahnya. Tapi tidak dengan ayumi, beliau adalah sosok yang tak kenal lelah.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: