Skip to content

Tari Topeng Betawi Punah

by pada 18 Desember 2012
Seiring berjalannya waktu, Tari Topeng Betawi telah mengalami perubahan yang signifikan.(anneahira.com)

Seiring berjalannya waktu, Tari Topeng Betawi telah mengalami perubahan yang signifikan.(anneahira.com)

Oleh Anisa Febrianti

Lenggak-lenggok penari diatas panggung yang menggunakan pakaian khas berdominasi warna merah pasti membuat decak kagum siapapun yang melihatnya. Penari tersebut menggunakan sebuah topeng berwarna putih dengan raut muka yang datar. Tariannya yang lincah dengan diiringi alunan musik yang riang membuat semua penonton terpukau karenanya. Ah, itu mungkin hanya terjadi di tahun 70-an.

Masyarakat asli Jakarta atau suku Betawi mempunyai banyak kesenian, salah satunya adalah topeng Betawi. Dalam kesenian Topeng Betawi sedikitnya ada 3 unsur penting yang pasti ada. Unsur tersebut yaitu, musik, tari dan teater. Unsur tari yang terkandung inilah yang disebut Tari Topeng Betawi.

Lalu, mengapa harus menggunakan topeng?

Bagi masyarakat Betawi dulu, topeng merupakan benda yang memiliki kekuatan magis. Topeng dapat menghalau bala dan mampu menghilangkan kesedihan atau duka karena kematian, sakit atau petaka lainnya. Masyarakat Betawi juga memiliki pendapat yang berbeda mengenai topeng. Mungkin, bagi masyarakat atau orang lain topeng hanya sekadar penutup wajah. Namun, tidak untuk masyarakat Betawi. Mereka menganggap topeng adalah benda untuk sebuah pertunjukan.

Jadi,  Tari Topeng Betawi dapat diartikan pertunjukan dalam bentuk teater yang mengandung aspek tari, bernyanyi, narasi dengan dialog maupun monolog. Para penari  Tari Topeng Betawi menggunakan topeng yang mirip dengan Tari Topeng Banjet Karawang, Jawa Barat. Namun, dalam pertunjukkannya berbeda dari segi bahasa yang digunakan, Topeng Betawi menggunakan bahasa Betawi.

Tari Topeng Betawi biasanya dapat dijumpai pada acara pernikahan atau khitanan masyarakat Betawi. Pada kedua acara tersebut, Tari Topeng Betawi digelar untuk memeriahkan pesta. Selain itu, masyarakat Betawi dulu menggelar pagelaran Tari Topeng Betawi dengan tujuan membayar nazar. Meskipun harus membayar mahal untuk sebuah pertunjukan Tari Topeng Betawi, namun rasanya hal itu tidak menjadi persoalan.

“Biar tekor asal kesohor” salah satu ungkapan kalangan masyarakat Betawi tertentu untuk menjaga image status sosialnya. Nah, bila si empunya hajat ingin menggelar Tari Topeng Betawi, ia terlebih dahulu harus membayar panjer (uang muka) pada grup yang akan mengisi acaranya. Setelah panjer dibayar dan terjadi kesepakatan, sisa pembayaran akan dilunasi setelah acara usai.

Namun, saat ini Tari Topeng Betawi jarang dijumpai di acara-acara tersebut. Tari Topeng Betawi sekarang dijadikan sebagai sebuah pertunjukan pelengkap untuk acara-acara tertentu. Misalnya acara-acara yang bersifat nasional seperti sambutan bagi tamu asing yang mampir di Indonesia, khususnya Jakarta.

Seiring berjalannya waktu Tari Topeng Betawi telah mengalami perubahan yang signifikan. Seperti masyarakat Betawi tidak lagi menganggap topeng sebagai hal yang sakral dan magis dan tak lagi menjadi motivasi bagi yang punya hajat. Tari Topeng Betawi tidak lagi menjadi lingkup tradisi seperti khitanan atau pernikahan melainkan acara yang bersifat nasional.

Durasi pertunjukan yang pada tahun 70-an berakhir pada pukul 4 pagi, kini Tari Topeng Betawi berakhir pada pukul 3 pagi. Ini dikarenakan orang-orang harus bersiap-siap untuk menunaikan solat Subuh. Narasi pagelaran Tari Topeng Betawi juga sudah berubah. Dulu tema yang diangkat adalah tentang kemiskinan di wilayah-wilayah tuan tanah, sekarang beralih menjadi isu-isu nasional yang bisa menjadi legitimasi kepentingan politik tertentu.

Mengapa Tari Topeng Betawi ini seperti akan punah?

Ketidakpedulian masyarakat Betawi terhadap warisan budayanya ini sangat mengkhawatirkan. Mungkin, Tari Topeng Betawi ini harus diambil oleh negara tetangga dahulu baru masyarakatnya berbondong-bondong mengangkatnya kembali. Atau harus ada orang asing yang meminta pertunjukan Tari Topeng Betawi baru ia ditampilkan. Kemana jiwa cinta budaya Indonesia itu pergi?

Sebagai pemuda dan penerus bangsa seharusnya kita semua melestarikan budaya yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Ini tentu bertujuan untuk memperkuat identitas bangsa dimata dunia. Agar masyarakat dunia bisa tahu dan mengakui budaya Indonesia. Globalisasi itu baik jika kita tetap melestarikan budaya Indonesia. Jangan sampai beberapa tahun ke depan anak dan cucu kita tidak bisa menikmati lagi kebudayaan khas Betawi ini.

From → Feature Budaya

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: