Skip to content

Goresan Pena Tentang Asa

by pada 19 Desember 2012
(anneahira.com)

Diperlukan kejelian penyair untuk membaca situasi dan mengamati gejala yang sedang terjadi dalam masyarakat umum (anneahira.com)

Oleh Vania Rahmayanti

Aku tertawa, aku merasa bahagia. Aku tersedu, aku merasa pilu. Aku bergetar, aku merasa tak cukup tegar. Aku berkeluh kesah, aku merasa gelisah. Ku tumpahkan segala asaku pada selembar kertas dengan goresan pena di atasnya.

Aku gemar menulis. Aku giat bermain kata. Aku suka puisi. Aku menulis tentang cinta, bahagia, kecewa, rindu, cemburu, marah, serta kesepian yang selalu mengisi relung hatiku silih berganti. Aku pun mulai mencari tahu. Kepada siapapun dan apapun, yang menurutku bisa menjawab segala pertanyaanku mengenai puisi, penyair ataupun buku. Itu aku lakukan untuk mengasah kemampuanku dalam hal menulis puisi.

Sebuah puisi itu berisi pesan singkat yang sederhana, jelas, dan gamblang, ditujukan untuk diri sendiri (penulisnya). Sekaligus sebagai pesan moral kepada pembaca, siapapun akan mengalami hal yang serupa.

Aku pernah bertemu beberapa penyair saat sedang bertugas di Gedung Kesenian Jakarta. Gayanya yang khas, bahkan terkesan cuek. Rambutnya yang menjuntai panjang, walaupun itu laki-laki. Terkadang mereka akan berbicara dan tertawa sendiri. Mereka tidak gila! Mereka punya dunianya sendiri. Dunia Imajinasi.

*******

Tanpa berfikir panjang, aku mulai mencari tahu mengenai puisi, “Berbicara tentang puisi sebagai cermin peradaban, maka hal pertama dan utama yang perlu dipahami, puisi bukan sekedar untaian kalimat ‘indah’ yang ditata ke dalam bait. Oleh karenanya, untuk menciptakan sebuah puisi yang benar-benar puisi, diperlukan serangkaian kerja keras,” jelas Sutardji Calzoum Bachri.

Mulai dari pemilihan tema, maksud dan tujuan penciptaan, pilihan bahasa. Dan harus ada juga adalah pesan moral, yang hendak dituangkan ke dalam bait-bait kalimat yang diciptakan. Pesan moral ini penting, masih lanjut Sutardji, karena di sinilah subtansi sebuah puisi perlu hadir dan diciptakan.

“Sebuah puisi yang baik akan mampu menggiring khalayak ke dalam sebuah perenungan yang mendalam, introspeksi diri, dan hati tergetar. Ada semacam kontak batin yang luar biasa pada diri pembaca, sehingga puisi yang hebat akan menjadi ‘kitab suci’ kedua bagi pembaca, setelah Kitab Suci yang sesungguhnya,” tandas Sutardji.

Pada titik inilah puisi menjadi cermin peradaban. Puisi mampu mempengaruhi jiwa, pikiran, dan hati pembacanya, dan karena sebuah puisi ‘wajib’ mengandung pesan moral, mau tidak mau pengaruhnya menjadikan pembaca lebih bermoral.

Mengingat begitu pentingnya puisi sebagai bagian kehidupan yang membawa perubahan pada moral manusia, hendaknya setiap orang bersepakat untuk kembali merenungi diri sendiri.

*******

Ingat dengan “Catatan Seorang demonstran”? Karya sastra tersebut (meski masih berjenis autobiografi) lahir karena kegelisahan seorang pemuda bernama Soe Hok Gie (Gie) atas kondisi sosial di negara tempat ia hidup, Indonesia. Gelisah karena pemerintah yang cacat menurutnya. Kegelisahan itu dituangkannya dalam sebuah karya di bawah ini:

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

-Soe Hok Gie-

Kegelisahan Gie itu tertuang dalam puisi dan akhirnya puisi yang merupakan karya sastra itu menjadi contoh bahwa karya sastra memengaruhi perubahan sosial di dalam masyarakat. Tentu saja! Terlihat saat pergolakan politik pada tahun 1950-an, secara tidak langsung mempengaruhi pola pikir So Hok Gie tentang pemerintahan.

*******

Berpaling sejenak dari keindahannya. Ternyata puisi kurang mendapat antusiasme masyarakat. Puisi seperti tidak mampu beradaptasi, ketika berada di tempat-tempat umum. Daya hidupnya hanya terbatas di habitatnya saja, di tengah penikmat puisi, khususnya penyair. Selain jumlahnya tidak banyak, keberadaannya juga tidak tersebar secara merata dalam masyarakat.

Mereka pada umumnya tergabung dalam sebuah wadah khusus –berupa komunitas– yang sengaja dibentuk sebagai tempat untuk mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan puisi. Puisi bersifat pasif,  sehingga eksistensi puisi tidak bisa secara langsung bersentuhan dengan masyarakat awam (umum).

Perlu pendekatan yang intens terlebih dahulu untuk bisa mengapresiasi puisi, harus melalui proses yang memakan waktu tidak sedikit. Sedangkan kebanyakan masyarakat awam adalah orang-orang yang memandang sebuah karya seni hanya dari sisi praktisnya saja, tanpa perlu bersusah payah untuk bisa memahaminya. Apalagi dalam masyarakat awam dengan minat baca rendah, akan semakin sulit bagi puisi untuk beradaptasi.

*******

 “Ada beberapa cara yang telah dicoba untuk mempopulerkan puisi. Ada yang membawakannya dengan cara berorasi, mengemasnya dalam bentuk musikalisasi, atau memasukannya ke dalam adegan film. Promosi puisi masih membutuhkan bantuan dari media lain, seperti audio atau visual supaya bisa diterima secara luas, belum ada yang bisa menarik peminat yang banyak dengan hanya mengandalkan media teks saja,” tutur Acep Zamzam No’or

Meskipun terbukti efektif, sambungnya lagi, cara-cara seperti itu lama kelamaan bisa menimbulkan ketergantungan yang berdampak buruk bagi perkembangan puisi secara tekstual. Apresiasi terhadap teks bisa berkurang sehingga dengan sendirinya kualitas puisi juga akan ikut menurun, karena teks adalah media utama dalam penciptaan dan pendokumentasian puisi.

Eksplorasi penyair terhadap teks dikhawatirkan akan kurang maksimal, sehingga diksi yang dihasilkan menjadi monoton dan maknanya kurang mendalam. Karena kekuatan teks tidak lagi dijadikan prioritas utama dan kelemahannya bisa ditutupi, dengan kelebihan pada instrumen seni yang lain.

“Misalnya sebuah puisi yang kualitas teksnya rendah bisa ditutupi bila dikemas dengan iringan musik yang indah, karena perhatian penonton akan terbagi dan tidak lagi terfokus pada teksnya saja. Akibatnya, puisi tidak lagi berdiri sendiri sebagai sebuah karya seni yang utuh, karena penyampaiannya tergantung pada bantuan karya seni yang lain,” jelas Acep Zamzam No’or panjang lebar.

*******

Usaha untuk mempopulerkan puisi dengan cara-cara seperti itu adalah sebuah hal yang dilematis. Di satu sisi bisa berdampak positif, karena eksistensi puisi akan dikenal secara luas, tidak terbatas di habitatnya saja. Sedangkan di sisi lain bisa berdampak negatif, karena kualitas puisi tidak lagi dinilai dari teksnya saja, sudah terdistorsi dengan adanya bantuan dari instrumen seni yang lain.

Kendala utamanya adalah diksi puisi yang sudah terlanjur mendapat cap rumit sehingga sulit dimengerti oleh masyarakat awam. Jargon yang digunakan tidak biasa dipakai secara umum, hanya orang-orang tertentu yang bisa langsung tahu artinya. Orang awam yang ingin tahu harus membuka kamus terlebih dahulu, sehingga dari sana bisa timbul keengganan karena mereka merasa direpotkan.

Kendala lainnya adalah kata-kata dan alur puisi yang terlalu panjang dan bertele-tele, sehingga tidak bisa dinikmati hanya dalam sekali baca, apalagi dihafalkan di luar kepala. Padahal syarat untuk menjadi karya populer adalah yang bisa langsung dimengerti dan cepat diserap oleh masyarakat awam, tapi bukan berarti kualitasnya tidak diperhitungkan.

Masyarakat awam mempunyai kriterianya sendiri, dalam menentukan mana karya yang bisa mereka terima dan mana yang tidak. Tenang. Damai. Aman. Tentram. Serta segalanya mengenai jiwa.

Mereka tidak sembarang menerima karya begitu saja. Ada ukuran yang tidak secara sengaja mereka sepakati bersama, yang mereka terapkan dalam menyeleksi sebuah karya: apakah bisa memenuhi selera mereka atau tidak. Karenanya, diperlukan kejelian penyair untuk membaca situasi dan mengamati gejala yang sedang terjadi dalam masyarakat umum.

*******

Aku selalu ingat Atsar Sahabat, “Ajari anakmu sastra, maka yang takut akan jadi berani!” Aku tidak berkata bahwa aku bisa menciptakan puisi, aku masih belajar. Tapi, aku juga tidak berkata bahwa aku tidak bisa, sebab aku suka menulis dan bermain kata.

Puisi memang terlihat rumit. Namun, jika setiap orang terjun lebih dalam lagi di dunianya, akan terasa yang sesungguhnya.

From → Feature Budaya

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: