Skip to content

Kehidupan Malam Pasar Kemiri

by pada 19 Desember 2012
(Foto: Ist)

Rian bangun pukul 2 pagi untuk menjajakan gemblong di pasar ini (Foto: Ist)

Oleh Ani Lestari

Apa yang Anda banyangkan saat mendengar pasar tradisonal? Becek, bau, jorok, dan pastinya panas. Pagi ini saya mencoba untuk berbelanja di Pasar tadisional Kemiri Muka atau yang lebih dikenal dengan pasar kemiri.

Pasar yang dikelilingi gedung pusat perbelajaaan Modern seperti ITC dan D’ Mall ini masih memiliki posisi favorit bagi pelanggan setia pasar traditional. Lokasi yang terhimpit gedung-gedung mewah ini memiliki banyak kisah dan keunikan.

Suasana pasar yang riuh oleh pedagang dan pembeli saling bersahutan menyabut saya sesaat sampai di pintu masuk. Terlihat dengan jelas oleh pandangan saya saat seorang wanita paruh baya tengah tawar menawar dengan penjual ikan basah. Sepanjang mata memandang saya cukup takjub karena pasar ini masih ramai dikunjungi oleh masyarakat kalangan bawah hingga atas.

Meskipun lokasinya terhinpit oleh dua pasar modern, pasar ini masih banyak peminatnya oleh karena itu, pedagang Pasar Kemiri mengaku tidak takut kehilangan pelanggan dengan adanya gedung-gedung pusat perbelanjaan modern saat ini. Dilihat dari kesegaran sayuran dan harga, di Pasar Kemiri masih bisa dikatakan unggul.

Salah seorang pelanggan membandingkan pasar kemiri dengan pasar modern dari kualitas sayuran serta ikan yang masih segar karena produsen langsung mengirim barang tersebut ke pasar. Bersyukur karena saya bisa melihat langsung saat penurunan sayur bayam, kangkung, kacang panjang dan sayuran hijau lainnya dari atas mobil pick up yang dilakukan langsung oleh distributor dari sawah di daerah Grogol, Depok.

Sayuran yang baru diturunkan langsung disortir dan disebar ke beberapa penjual di pasar. Pedagang di pasar ini bukan hanya mendapatkan sayuran dari para produsen tapi juga ada sebagian pedagang menjual sayuran dari hasil berkebun di tanah yang mereka miliki.

Selain sayuran, ikan serta barang-barang yang dijual dengan keadaan segar, pedagang di pasar ini juga menawarkakan harga yang murah apalagi barang kita beli untuk dijual lagi. Seperti Ibu Tutik, wanita paruh baya ini salahsatu pelanggan setia pasar kemiri ia membeli bermacam sayuran, ikan, tahu, tempe, dan bahan-bahan lainnya untuk dijual kembali pada pelanggannya di rumah.

Pada umumnya pasar induk sayuran di malam hari seperti ini yang saya ketahui hanya ada penjual sayuran dan pembeli sayuran. Namun, di pasar ini, saya menemukan berbagai macam pedagang seperti, penjual makanan, barang pecah belah, pakaian, sepatu, tas hingga boneka yang dijajakan pada malam hari.

Sisi lain yang saya temukan dan membuat saya tertarik dari pasar ini yaitu kisah seorang anak penjual gemblong. Saat teman-teman sebayanya tengah tertidur lelap di balik selimut tebal didalam kamarnya, justru Rian (8) tengah sibuk berkelilig pasar menjajakan gemblong buatan ibunya.

Ia bangun pukul 2 pagi untuk menjajakan gemblong di pasar ini, sekitar pukul 6 pagi Rian harus bergegas untuk menuntut ilmu di sekolah. Sepulang dari sekolah anak yang kini duduk di kelas tiga sekolah dasar ini harus bergegas untuk kembali membatu sang ibu berjualan di pasar.

Rasa iri terhadap teman-teman  sering menyelimuti diri Rian, karena mereka bisa bermain sepualngnya dari sekolah. Mereka juga terkadang membawa uang saku yang cukup sedangkan Rian hanya menggenggam uang seribu rupiah. Bagi Rian itu sudah cukup karena ia hanya menempuh perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki.

Namun, ia tidak boleh merasa  iri terhadap teman-teman di sekolah karena nasib setiap manusia berbeda. Hal itu yang sering dikatakan oleh sang ibu sehingga Rian memiliki tekat yang kuat dan tidak merasa malu. Rian memiliki impian yang sangat sederhana yaitu, setelah besar dan sukses nanti ia tidak akan membiarkan sang ibu bejualan di pasar lagi.

Warna warni kehidupan malam di pasar ini membuat saya berpikir bahwa tidak seharusnya kita bangga dapat membeli sayuran ataupun barang-barang di toko swalayan. Ya, karna dengan membeli sayuran di pasar tradisional kita bisa membantu petani Indonesia serta pedagang kecil di pasar. Selain itu juga kita bisa mendaptkan berbagai nilai kehidupan dari pedagang seperti Rian.

2 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Minggu 06 Januari 2013 pukul 09.57 WIB (lihat disini: http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3043/2013/Kehidupan-Malam-Pasar-Kemiri).. Ayo, siapa lagi menyusul

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi. Ani Lestari cukup datang untuk tandatangan berita ujian saja, tanpa harus mengikuti ujian. Ayo, siapa lagi menyusul?

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Ani Lestari dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

  2. Ani Lestari permalink

    iya, terimakasih atas doanya pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: