Skip to content

Bicara tentang Cokek

by pada 20 Desember 2012

Oleh Arinda Tara Putri

Siang sedang menyambut petang. Gadis cantik itu bergegas mengganti bajunya dengan kostum dan mengambil selendang. Tiba saatnya ia tampil,  menari dengan iringan rebab dan gendang. Ya, dia siap berdendang.

(unityindiversityindonesia.org)

(unityindiversityindonesia.org)

Dalam pertunjukkan itu dia tak sendiri. Sang gadis menari berpasangan dengan seorang lelaki. Kita pasti kenal atau hanya pernah mendengar, tari yang ia persembahkan adalah Tari “Cokek”.

Tari Cokek” adalah tarian khas Betawi yang merupakan hasil akulturasi dengan budaya Cina. Sebagai etnis yang bersentuhan dengan budaya luar, budaya Betawi memang sering mengalami adaptasi. Apabila kita membicarakan sejarahnya,  tari ini berawal dari pentas hiburan yang diadakan “Tuan Tanah” Tionghoa di daerah Tangerang. Setelah melalui proses,  tarian ini dikenal sebagai salah satu hiburan unggulan dari kultur Betawi dan Cina.

Pertunjukkan dimulai. Penari wanita masuk ke panggung lebih dulu dengan iringan musik yang meriah. Alunan gambang kromong merupakan kombinasi suara yang ditimbulkan oleh rebab dua dawai, suling, kempul, gong, kendang dan kecrek. Setelah sang penari mendengar ketukan musik yang benar, dengan senyum manisnya ia mengangkat tangan lebih tinggi dari bahu dan melangkah maju ke tengah panggung.

Seusai musik mengantar penari wanita ke panggung, giliran penari lelaki yang masuk ke arena. Ia mengulur tangan kanan lurus ke depan dan meletakkan tangan kirinya tepat di belakang badan, sambil mengibas kemejanya hingga sedikit terbuka. Gerakan ini seperti menceritakan keterpanggilan sang laki-laki menari bersama.

Dahulu, tari “Cokek” menjadi tarian pergaulan dengan penari-penari wanita –yang disebut “Wayang Cokek”– untuk mendapat imbalan uang. Para  tamu diberi kesempatan ikut menari bersama, berpasangan dengan para Cokek. Orang Betawi menyebutnya “Ngibing Cokek.” Selama ngibing, biasanya mereka juga berpesta minuman keras demi menambah semangat menari.

Sebelum dimulai, lebih dahulu disajikan wawayangan. Dalam pembukaan ini, para penari “Cokek” berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Tangannya merentang setinggi bahu mengikuti gerakan kaki. Setelah itu para penari mengajak para penonton untuk menari bersama, dengan cara mengalungkan selendang kepada tamu yang dianggap paling terhormat sebagai pilihan pertama.

Tiap pasangan berhadapan dengan jarak yang dekat, tetapi tidak saling bersentuhan. Ada kalanya, pasangan-pasangan itu saling membelakangi. Kalau tempatnya cukup leluasa, pasangan-pasangan itu dapat melakukan gerakan memutar. Setelah selesai ngibing, para penari pria memberi imbalan uang kepada penari “Cokek.”

Dalam perkembangannya sekarang, tari ini biasa digunakan sebagai hiburan pertunjukkan. Tidak ada imbalan uang yang diberikan pada penari wanita. Penari lelakinya juga bukan lagi datang dari penonton, yang spontan ikut menari dengan gerakan bebas. Tapi benar-benar penari yang latihan bersama dengan penari wanita sebelumnya.

Tarian “Cokek” biasanya berpasangan dan menampilkan gerak-gerak lucu. Seperti yang saya lihat di panggung utama. Ada gerakan saling memegang dagu, telinga, atau bahkan saling menunjuk hidung. Tak lupa, biasanya penari juga menunjukkan mimik atau ekspresi setiap gerakannya. Seperti ekspresi senang,  tergoda, geregetan, hingga kesakitan. Duh, lucunya..

Gerak-gerak humor tersebut dilakukan sambil menggoyangkan pinggul ke kiri dan ke kanan secara bergantian serta berangsur-angsur menurun hingga mendekati tanah. Susunan geraknya adalah lenggang, mincid, obah taktak, baplang, kedet dan goyang pinggul serta cindek. Tak jarang, gerakan-gerakan ini membuat penikmat pertunjukkan tertawa-tawa.

Penari wanita di panggung itu memang cantik. Ia mengenakan sanggul,  baju kurung dan celana panjang berbahan sejenis sutra berwarna mencolok, selendang cukin, serta ikat pinggang. Berhias dengan sejumlah tusuk konde yang bergoyang-goyang, hiasan wol yang dikepang, tusuk sanggul, kalung, giwang, gelang serta cincin. Sedangkan penari laki-laki berkostum peci, kaos polos, kain sarung, kemeja yang senada, serta celana.

Begitulah. Alunan musik gambang kromong pun selesai. Para penari juga ikut keluar dari panggung secara bersamaan. Pertunjukkan ini benar-benar memuaskan.

From → Feature Budaya

3 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Arinda, membaca tulisanmu ini saya seperti tengah diarahkan dalam kursus singkat menari “Cokek”. Detail sekali dan jika pun dipraktekkan, pasti langsung bisa gabung di panggung pertunjukkan.. Kepiawaianmu menuliskan tahap-tahapan gerakan tarian dalam tuturan, membuat pembaca tak sadar tulisanmu dapat digolongkan sebagai petunjuk praktis..

    Namun sebagai feature budaya, tentu jabaranmu belumlah lengkap. Misalnya bagaimana proses adaptasi dari sebuah tarian hasil akulturasi. Juga perjalanannya sampai menjadi hiburan pertunjukkan. Dari situ, mungkin banyak cerita menarik yang dapat kamu ungkap. Belum lagi saling pengaruh, antara tarian”Cokek” dengan kehidupan masyarakat Betawi dahulu. Sebab biasanya pasti ada hubungan sebab akibat antara kultur budaya dengan kehidupan masyarakat setempat..

    Andai saja tulisanmu ini dilengkapi, saya yakin akan menjadi karya yang memukau pembaca. Terlebih karena tari “Cokek” saat ini seolah sudah lenyap digusur zaman.. Semoga ya..

  2. Terima kasih, Pak untuk komentar dan koreksinya..
    saya memang sangat tertarik dengan bahasan budaya apalagi tari tradisional.. tapi saat dituliskan ternyata masih banyak yang belum disampaikan.. hehe..

  3. Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Jumat 11 Januari 2013, pukiul 10.51 WIB (lihat disini:http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3062/2013/Bicara-tentang-Cokek).. Ayo, siapa lagi menyusul

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi untuk Arinda.

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Arinda dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: