Skip to content

Cerpen: Kekhawatiran yang Menjadi Nyata

by pada 21 Desember 2012

Oleh  Linda (Pb 1A)

(merdeka.com)

(merdeka.com)

Sore itu, aku membuat janji dengan Habi, kekasihku untuk bertemu di terminal Kp. Rambutan. Seperti biasa hal pertama yang kulakukan saat bertemu dengannya, aku mencium tangannya kemudian dia mengelus lembut kepala dan mencubit kedua pipiku. Dengan melihat senyum hangat Habi, aku merasa begitu nyaman bersamanya.

Kami habiskan waktu dengan makan bersama dan bertukar cerita semua yang dialami selama tak berjumpa. Bahkan sempat juga bermain gunting, batu, sampai kertas, meski aku selalu kalah. Suasana kegembiraan sangat tergambar kala itu, walau beberapa hal memaksaku menjadi lebih serius. Namun keseriusan tak dapat bertahan lama, aku malah tertawa saat melihat wajahnya yang amat serius. Sehingga apapun yang menjadi bahan obrolan, aku selalu tertawa dan tertawa.

Heuhh, waktu terasa begitu cepat. Hari semakin sore dan si raja siang begitu cepat kembali ke peristirahatannya. Dia mengantarku sampai di pertigaan yang dekat dengan tukang ojek. Pertemuan hari itupun berakhir dengan kucium tangannya dan ia membalas dengan mengelus kepalaku. Sungguh, kehangatan seakan mengalir ke setiap relung tubuhku.

Kami saling pandang saat kunaiki motor ojek. Seulas senyumannya mengantarku pulang. Lambaian tangannya semakin menjauh seiring roda motor yang berputar cepat, hingga aku tak dapat melihatnya lagi. Keharuan pun membasah, namun sebuah kekuatiran menyergap ketika mengingat kampusnya yang cukup jauh. Segera kuketik pesan singkat sekaligus menyampaikan terima kasih.

Tak lama kemudian dia membalas pesanku, “Sama-sama. Ya, tenang aja. :)”

Alhamdulillah, kalau begitu,” balasku lega.

Oke, kamu langsung istirahat ya, biar besok fit lagi :)”

Sesampainya di rumah, aku langsung beristirahat, ditemani hembusan angin semilir dari sebuah kipas kecil. Sedang nikmatnya merasakan nyaman, ponselku bergetar tanda pesan masuk. Tertera nama di layar ponsel, “aa habi.” Dengan semangat, langsung kubuka smsnya.

“Aa udah nyampe di Jayabaya, nih :) ”.

Aku langsung membalasnya, “Syukur, deh, Pokoknya aa hati2-hati.. :) Aku mau mandi dulu, ya.. :D.”

Tak lama ia membalasnya, “Ya, yang bersih dan wangi, ya. :)”

“Sip, :)” singkatku.

Sms itu mengakhiri pembicaraan kami. Hari semakin gelap, suara adzan berkumandang di setiap penjuru bumi. Sebelum shalat Maghrib, kusempatkan mengirim sms menanyakan keberadaannya. Namun hingga selesai membaca beberapa halaman Al Qur’an, tetap tak ada balasan. Perasaanku tak enak, pikiran kacau. Aku begitu mengkhawatirkannnya. Untuk menepis semua pikiran yang membebani, kuputuskan menelponnya.

“Tut.. tut.. tut…”

Tersambung, hanya saja dimatikan. Perasaanku makin kalut. Berbagai pertanyaan menyelimuti pikiranku, kegundahan menguasai raga ini. Tapi upayaku tak berhenti, kucoba meneleponnya lagi. Hingga panggilan yang ketiga, baru diangkat. Aku langsung tercengang, saat mendengar suara dari ponsel kekasihku. Air mata tak dapat kubendung, detak jantung kian tak menentu, perasaanku pun kalang kabut.

Dengan kekuatan seadanya, kucoba berdialog dengan suara tersebut. Orang yang berbicara denganku hanya memberikan jawaban sangat konyol, yang membuatku menangis. Beberapa saat kemudian, terdengar suara perempuan. Kalimatnya, sungguh, membuatku tersentak.

Elo jangan macam-macam, ya! Lo ga tau, kalo pacar lo lagi gue apain di sini!”

Mendengarnya, tubuhku terhempas lemah di kasur dengan mekena yang masih melekat. Teleponnya  terputus begitu saja. Aku tak tahu harus berbuat apa. Tak ada yang bisa kulakukan untuknya. Saat itu bagai mimpi buruk, ingin rasanya aku cepat terbangun. Mimpi yang menghabiskan banyak tenaga.

Beberapa saat kemudian kusadar, yang dialami kekasihku memang benar terjadi. Kekhawatiran yang selama ini selalu hadir di benakku, kini telah terjadi. Dua jam sudah dan air mataku mengalir. Tiba-tiba ponselku bergetar, dari sebuah nomor yang terlihat asing. Kubuka smsnya lalu, “Neng, ini aa.”

Aku tak langsung membalasnya, karena takut hanyalah tipuan penjahat yang menyandera kekasihku. Beberapa saat kemudian, dengan memberanikan diri, kubalas pesan tersebut, “aa siapa?”

“Ya lah, ini aa Habi, neng :(”

Tanpa pikir panjang, langsung kutelepon nomor tersebut. Kekhawatiranku akhirnya terhapuskan. Aku mendengar suara yang selama ini selalu menemani saat kuterbangun di malam hari. Suara yang begitu lembut saat membangunkanku, suara yang begitu ceria saat menghiburku, dan suara yang selalu aku rindukan.

Aku lega saat mengetahui keadaan yang sebenarnya, karena kabar itu kudengar langsung dari bibirnya. Kemudiandia menceritakan semua yang dialaminya saat perjalanan pulang. Alhamdulillah kekasihku baik-baik saja. Hanya saja dia harus mengikhlaskan handphone, yang diambil orang yang tak bertanggungjawab.

Biarlah, yang penting kekasihku selamat. Meski kekhawatiranku dulu, sempat menjadi kenyataan..

From → Cerpen

One Comment
  1. ikhsan permalink

    keren…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: