Skip to content

Fana atau Kekal?

by pada 22 Desember 2012
Dibongkar, demi perbaikan pasar Pondok Gede? (foto.detik.com)

Dibongkar, demi perbaikan pasar Pondok Gede? (foto.detik.com)

Oleh Btari Puspita Rini

Rintik air jatuh ke bumi dengan hati-hati dan datang bersama awan kelabu di langit Pasar Pondok Gede, Bekasi. Tercium aroma wewangian yang biasanya ada di taman pemakaman. Terasa sedikit horor, namun karena penasaran, saya telusuri ke arah wangi itu berasal. Wangi apakah itu?

Hiruk pikuk yang terjadi di Pasar Pondok Gede, memang tak jauh berbeda dengan keadaan pasar tradisional lainnya. Lapak-lapak kecil berdampingan dengan beragam barang dagangan yang mereka tawarkan. Suara yang gaduh, jelas menggambarkan betapa tingginya tingkat kompetisi di pasar. Tanah yang becek, serta berbagai aroma yang terhirup sangat menyesakkan. Hmm, agaknya saya mencium bau yang tak biasa. Wangi yang terasa lebih segar, namun sedikit membuat bulu kuduk merinding. Udara yang cukup pengap, membuat saya mempercepat langkah ke arah aroma itu berasal.

Entahlah, ini hanya halusinasi atau wewangian itu benar-benar ada. Saya tetap melangkahkan kaki ke arah sumber wangi. Alas kaki yang sudah berlumuran lumpur, peluh yang membasahi kening bercampur rintikan air hujan, tak menghalangi saya untuk tetap menelusuri ke arah wewangian itu berasal. Tak terasa cukup jauh kaki saya melangkah, barulah mendapati sebuah lapak kecil dengan tumpukan bunga-bunga yang biasa terlihat di taman pemakaman, lengkap dengan perlengkapan makam lainnya.

Bunganya, Mbak?” sapa ibu paruh baya penjual bunga tabur dan perlengkapan makam, sambil mengibaskan tangannya ke arah tumpukan bunga. Senang sekali rasanya berhasil menemukan sumber aroma yang terasa lebih wangi, bila dibandingkan dengan kondisi sekitar pasar. Tidak terdengar teriak-teriakan dari arah lapak ini. Ibu penjual bunga ini tidak perlu menghabiskan suaranya, untuk berteriak menawarkan dagangannya.

Wong Ibu ndak teriak aja, Mbak’e udah dateng ke sini, kok,” ujarnya dengan santai.

Bunga-bunga yang dijual di lapak Ibu Ami cukup beragam. Mulai bunga mawar, sedap malam, kenanga, melati, serta bunga tabur yang biasanya ditabur di atas makam. Tak hanya itu, perlengkapan makam yang lain pun menjadi barang dagangan Ibu Ami. Air mawar, pandan yang sudah diiris tipis, bahkan kendi yang terbuat dari tanah liat pun menjadi barang dagangannya.

Saya jualan buat orang yang masih hidup sama yang udah mati. Biar nanti kalo saya mati, se-enggak-nya saya udah pernah bantu orang yang lebih dulu mati. Dan, saya bisa mati dengan tenang,” ujar Ibu Ami dengan logat Jawa, yang masih terdengar sangat kental.

“Di pasar ini, kan, kebanyakan jualan buat kebutuhan hidup aja. Giliran kebutuhan mati, pada lali.

Ucapan Ibu Ami membuat batinku tersentil. Benar saja, yang terjadi selama ini, manusia berlomba-lomba untuk memenuhi kebutuhan hidup dan lupa akan matinya. Padahal, kehidupan yang abadi akan terjadi setelah kematian. Kehidupan di bumi ini hanyalah sementara. Segalanya yang ada di dunia ini, hanya fana belaka.

“Wong daganganku yang paling laku ya mawar merah itu, apalagi kalo malem Minggu, anak muda pada beli buat pacarnya,” ucap Ibu Ami sambil menunjuk ke arah depan lapaknya.

Lagi-lagi, ucapannya membuat saya bercermin diri. Selama ini, menurut kawula muda, aktivitas bermalam Minggu merupakan kegiatan yang wajib dan cukup sakral untuk dilakukan. Terlebih lagi, cemoohan yang sering terdengar di lingkungan dan terlontar untuk para pemuda yang tidak memiliki pasangan, akan terasa sangat memalukan. Karenanya para pemuda berlomba-lomba menunjukkan, seberapa rutinnya mereka melakukan kegiatan sakral tiap malam Minggu, demi kepentingan horizontal dan lupa akan kegiatan sakral lainnya yang bersifat vertikal.

“Lantas, bagaimana dengan barang dagangan lainnya?” tanyaku penasaran.

“Ya pasti laris juga, wong tiap orang kan pasti mati, jawab Ibu Ami sambil membungkus bunga tabur dan memberikannya kepada pembeli lain.

Sungguh, jawaban Ibu Ami kali ini benar-benar menusuk batin. Semua yang ada di dunia ini pasti akan kembali kepada-Nya. Sudah pasti. Tidak bisa ditawar lagi.

Tak terasa langit kian gelap, saya ambil setangkai bunga mawar merah dan kemudian membayarnya. Saya kembali ke hunian yang letaknya tidak begitu jauh dari Pasar Pondok Gede. Selama di perjalanan, saya memikirkan jawaban demi jawaban yang terlontar dari bibir manis Ibu Ami.

Ucapannya benar-benar membuat saya introspeksi diri atas yang selama ini terjadi. Dewasa ini, manusia lebih mementingkan kebutuhan hidup dan merekatkan hubungan horizontal. Sedikit, atau bahkan lupa akan kebutuhan mati dan merekatkan hubungan vertikal.

 Sungguh, saya merasa sedikit tidak percaya ketika menemui ibu paruh baya ini. Mungkin, beliau malaikat yang menjelma sebagai manusia dan menyampaikan pesan yang benar-benar membuat saya termenung.

Jika pedagang bunga saja memiliki pemikiran sejauh itu, lantas, bagaimana dengan kita?

One Comment
  1. azhmyfm permalink

    Btari, tulisanmu ini menyadarkan. Sungguh, perenungan atas kematian, tidak melulu dilakukan di tengah kesunyian. Bila memang kita menyadari keberadaan diri yang fana, dalam kejadian apa pun, kapan pun, di mana pun, semua dapat kita ambil hikmahnya. Inilah sisi menarik dari tulisanmu, di tengah pasar yang hiruk pikuk, dirimu dapat memetik perenungan dari sebuah percakapan bersahaja di kios sederhana..

    Dari teknis penulisan, bagus. Nyaris tak ada editan berarti pada tulisanmu ini. Logika bahasamu sudah tertata, meski kadang kalimatnya terlalu panjang. Pemisahan dialog dengan teks narasi, perlu dilakukan agar pembaca tak rancu dan mudah memahaminya.Juga perbendaharaan kata agaknya masih perlu ditambah, supaya tulisan lebih hidup dan tak menjemukan.

    So, mengapa belum dikirim ke media massa? Bersegeralah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: