Skip to content

Malaikat Itu Bernama Ibu

by pada 23 Desember 2012

Oleh Azuwit Tri Yanti Gani

Tentu kita semua menyadari, ibu adalah seseorang yang sangat berjasa dalam hidup seorang anak. Ibu melakukan banyak hal untuk anaknya. Sebagai anak, apa yang telah kita lakukan untuknya? Pernahkah kita mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah dilakukannya?

(cerpennyaakido.wordpress.com)

Jika mau sebentar saja memikirkan kesulitan yang ibu hadapi untuk menjadikan kita seperti ini, mungkin kita akan menangisi semua kesalahan yang pernah diperbuat.(cerpennyaakido.wordpress.com)

Seorang ibu tak pernah lelah berjuang untuk kebaikan anaknya. Segala hal dilakukan untuk anaknya, meski harus mengorbankan banyak hal. Anak seolah menjadi bagian dari diri seorang ibu sejak sang anak berada dalam rahimnya, hingga sepanjang umur sang ibu.

Selama kurang lebih sembilan bulan, ibu mengandung kita dalam rahimnya. Kemudian melahirkan kita dengan taruhan nyawanya sendiri. Ibu melawan rasa sakit yang mungkin tak pernah dapat kita bayangkan, untuk mengantarkan kita melihat dunia ini.

Perjuangannya tak berhenti hingga kita beranjak dewasa. Sepanjang hidupnya, seorang ibu tidak akan berhenti memikirkan nasib anaknya. Tentu kita sering mendengar, cerita seorang ibu yang terus mengkhawatirkan keadaan anaknya sekalipun sang anak telah beranjak menua.

Karena mungkin, bagi seorang ibu kita tetaplah putra-putri kecilnya seperti dahulu. Oleh sebab itu, ibu tetap memperlakukan kita layaknya seorang anak kecil. Tidak peduli berapa usia kita, ibu menjaga dan mengkhawatirkan kita, seperti saat kita masih kanak-kanak. Cinta tulus melebihi pada dirinya sendirilah yang membuat kita selalu yang pertama baginya.

Cinta itu jugalah yang membuatnya tak pernah menghiraukan rasa lelah, putus asa, dan tak berdaya yang hinggap di hatinya. Saat kita sakit, ibu akan terjaga sepanjang malam. Ia akan datang saat kita membutuhkan sesuatu. Selelah apa pun ia, ibu tidak akan menunjukkannya. Ibu akan datang dengan tatapan lembut dan sentuhan hangatnya. Saat kita pergi jauh untuk beberapa saat, ibu tidak akan pernah berhenti mendoakan agar selamat dalam perjalanan. Jika ia tidak mendengar kabar, ia akan sangat mencemaskan keadaan kita.

Saat kita berada dalam kesulitan, ibu akan mengetahuinya. Saat wajah kita murung, ibu akan selalu dapat merasakan kesedihan yang kita alami. Ia akan ikut bersedih dan menangis saat kita menangis. Ibu akan menganggap semua masalah anaknya adalah masalahnya sendiri. Ia mungkin tidak akan dapat tidur karena memikirkan masalah yang menimpa anaknya.

Saat kita sibuk melakukan sesuatu, ibu akan datang membawakan makan siang. Ia tidak akan membiarkan kita jatuh sakit. Karena, semua sakit yang dirasakan anaknya adalah rasa sakitnya sendiri. Ibu menjaga kita dengan sepenuh hatinya, melebihi menjaga dirinya sendiri.

Saat masih kanak-kanak, ibu mungkin telah memikirkan masa depan kita. Ia telah memikirkan hal-hal yang akan kita hadapi atau hal-hal yang akan menimpa kita. Ibu akan melakukan segala usaha untuk memberikan yang terbaik untuk kita. Ia tidak ingin kita hidup dengan cara yang sama sulitnya seperti dia.

Semua yang disebutkan di atas, hanyalah sebagian kecil dari ketulusan cinta, kasih sayang, dan perhatian seorang ibu yang tak pernah berbatas. Banyak hal lain yang ibu lakukan untuk kita, tanpa pernah kita sadari. Kita tidak hanya tak menyadari cintanya, tetapi terkadang mengabaikan dan tak memedulikannya.

Kita terkadang menganggap semua perhatiannya adalah larangan atau hukuman. Kita juga mudah sekali melupakan perjuangan, semua doa, dan tangisnya untuk kita karena sebuah masalah. Padahal, untuk menghadirkan kita ke dunia ini, seorang ibu telah memberikan semua usaha terbaiknya, bahkan dengan taruhan nyawanya sendiri. Akan tetapi, kita dapat melupakannya dalam sekejap.

Jika kita mau memandang wajahnya, mungkin kita dapat melihat guratan kelelahan di wajah tanda kerja kerasnya. Kita dapat melihat uban di rambutnya yang mungkin menunjukan pikirannya tak pernah berhenti bekerja. Jika kita mau membayangkan seperti apa rasanya menjadi seorang ibu, mungkin kita akan menyadari betapa besar andilnya.

Jika kita mau sebentar saja memikirkan kesulitan yang ibu hadapi untuk menjadikan kita seperti ini, mungkin kita akan menangisi semua kesalahan yang pernah kita perbuat. Kita mungkin akan menyesali semua yang bahkan tak pernah kita lakukan untuknya.

Kita mungkin akan menyesal karena tidak pernah membantu dan memperhatikannya. Kita akan menyesal karena kita tak pernah mengatakan betapa kita menyayanginya. Menyesal, karena tak sekali pun pernah mengucapkan terima kasih untuk segala hal yang telah ibu lakukan.

Sekalipun ibu tak membutuhkan ucapan terima kasih atau lainnya, karena cinta dan kasih sayangnya tulus tanpa mengharapkan pamrih. Karena, ibu adalah malaikat tak bersayap yang memberikan seluruh cinta dan kasih sayangnya tanpa syarat pada kita. Ibu adalah orang pertama yang mencintai kita dengan apa adanya.

Tenaganya melemah dan rambutnya mulai memutih setelah semua kerja kerasnya untuk kita. Kerutan di wajahnya kian bertambah dan urat-urat tangannya mulai menampakkan diri, mengiringi semua perjuangannya untuk kita. Akan tetapi, setua apa pun seorang ibu, saat kita membutuhkannya, ia akan datang dan menolong. Kita tak pernah luput dari pikirannya. Oleh karena itu, untuk semua yang telah ibu berikan dan lakukan, kita seharusnya menunjukkan rasa hormat dan cinta padanya. Ibu tentu akan bahagia, jika kita memperhatikan dan menunjukkan rasa terima kasih padanya.

Kita mungkin dapat mengucapkan betapa cintanya kita pada ibu. Kita dapat menunjukkan rasa hormat dan terima kasih untuk cinta dan jasanya yang begitu luas. Karena kita tidak dapat membalas seluruh jasa dan cintanya, setidaknya kita dapat menunjukkan rasa hormat, cinta, dan terima kasih yang dalam untuk ibu tercinta.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: