Skip to content

Novelet: Satu Hari di Antara 365 Hari (bagian 1)

by pada 23 Desember 2012

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan Minggu Tenang. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran..

Oleh Vania Rahmayanti (Pb 3B)

(miemora.blogspot.com)

(miemora.blogspot.com)

Bagian Pertama

Setiap tahunnya, mulai tahun lalu, aku tak lagi menganggap salah satu hari di dalamnya terhitung dalam hidupku.  Aku sangat tidak mengharapkan hari itu akan datang lagi. Sebab aku akan kembali mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan. Dan mendapati umurku di dunia makin berkurang.

Ya, itulah hari ulang tahun. Hari yang selalu ditunggu-tunggu setiap orang. Hari yang selalu membuat setiap orang bahagia, karenanya. Tapi, tidak bagiku. Aku takut, karena akan mendapati diriku rapuh. Lalu, menangis pilu. Serta menyadari, kalau aku hanya sendirian.

Bukan hanya itu, aku juga tak suka melihat kue ulang tahun. Sebuah hadiah di hari apapun, atau mendengar lagu yang biasa dinyanyikan ketika acara ulang tahun. Bisa dikatakan, aku amat membenci hari ulang tahun dan apapun yang berhubungan dengannya.

*******

Aku ingat, saat itu aku dan empat teman pergi refreshing seusai ujian akhir semester. Kami pergi lupa waktu, baru keluar dari sebuah mall pukul 09.00 malam. Tak tega melihat teman-temanku pulang larut malam, aku pun menawarkan mereka menginap di kost-ku yang tak jauh dari mall.

“Yah udah malem banget, yakin mau pulang? Rumah kalian kan jauh,” tanyaku lantaran khawatir.

“Ya, mau gimana lagi, Sya?” tanya Tami, salah satu temanku.

Gmana kalau kalian nginep aja di kost aku? Cukup kok buat tidur bareng,” usulku penuh harap.

“Nah! Boleh, tuh. Kost Marsya kan emang gede,” sahut Gita, yang spontan disusul anggukan lainnya.

“Tapi aku ngga bisa, deh. Ibuku pasti marah,” kata Jessy, temanku yang lain.

“Terus kamu mau pulang sendiri, gitu, jam segini?” kataku dengan nada sedikit tinggi, karena khawatir.

“Mau ngga mau, Sya. Maaf ya, ngga bisa ikut bareng kalian. Pasti seru, deh.”

“Ya sudah, kalau mau kamu begitu.Tapi kamu hati-hati, ya, Jess.”

“Iya. Aku duluan, ya, teman-teman,” pamit Jessy seraya berlalu dengan sepeda motornya.

“Ayo, kita pulang ke kost Marsya. Aku sudah capek, ingin tidur,” kata Ana dengan wajah lesunya.

“Oke, deh,” sahutku, diikuti oleh yang lainnya.

*******

Sesampainya di kost-ku, kami langsung beristirahat. Ternyata teman-temanku tak benar-benar beristirahat, semua sibuk dengan ponselnya masing-masing. Awalnya aku tak curiga ketika satu persatu dari mereka selalu bergantian keluar kamar, ada yang beralasan ke kamar mandi atau ada pula yang pergi ke supermarket membeli keperluannya. Namun aku hanya diam, tak sedikitpun bertanya. Aku pun lambat laun terlelap, begitu pula teman-teman yang satu persatu berada dalam kamar lagi.

Tepat pukul 12 malam, aku dikejutkan ketukan pintu kamar. Tapi, entah mengapa, hanya aku yang mendengarnya. Sedangkan teman-temanku tidak, padahal ketukan itu cukup keras. Dengan perasaan takut, aku mulai berjalan ke arah pintu dan membukanya. Sungguh di luar dugaanku. Jessy datang membawa kue ulang tahun!

Happy birthday Marsya!” kata Jessy, yang disusul nyanyian ulang tahun dari lainnya. Mereka tidak tidur, hanya berpura-pura. Kejutan ini ternyata sudah mereka rencanakan terlebih dahulu.

Aku hanya terdiam. Jantungku berdetak cepat, mungkin akan segera lompat dari tempatnya, akibat pandanganku tertumbuk pada sesuatu. Baru aku sadari, ada seseorang di belakang Jessy. Seseorang yang pernah menjadi teman hidupku selama dua tahun. Seseorang yang masih kuharapkan hingga saat ini, meski dia telah meninggalkanku karena perbedaan kami yang tak bisa disatukan sedari dulu. Ya, dia Vino. Dia mantan terindah dalam hidupku.

Lho? Kenapa ada Vino, Jess?” tanyaku heran.

Udah tiup lilin, potong kue sama buka kado dulu aja, ya,” jawab Jessy, dengan wajah yang tak biasa.

Ingin rasanya aku pergi, merasa ada yang tidak beres. Tapi, aku tidak tahu apa. Namun kuikuti ‘perintah’ Jessy, karena begitu ingin tahu jawaban pertanyaan yang kulontarkan tadi. (Bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: