Skip to content

Kiprah Jamu di Tengah Dunia Medis

by pada 24 Desember 2012
jamu

((myherbalku.blogspot.com))

Oleh Deasy Amalia

Penjual jamu gendong lazim ditemui di banyak kota. Dalam kesehariannya, jamu ini sudah banyak digunakan oleh tenaga kesehatan profesional. Namun, apakah jamu dapat digunakan dalam pengobatan formal?

Indonesia sejak dahulu kala sudah kaya akan tanaman obat. Sekitar 9.500-an jenis tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat, hadir di Ibu Pertiwi. Sejak puluhan, bahkan ratusan tahun lalu, nenek moyang bangsa kita telah terampil meracik jamu dan obat-obatan tradisional. Racikan tersebut dipakai secara turun menurun dan sudah terbukti khasiatnya.

Jamu telah berkiprah mendorong perkembangan perekonomian Indonesia. Ia turut berkontribusi dalam peningkatan devisa negara, pendapatan daerah dan pendapatan petani. Tak hanya itu, jamu juga telah membangun citra dan pengakuan budaya nasional.

Meski telah diakui kemanjurannya oleh sebagian masyarakat, hingga kini jamu belum dapat menjadi resep dokter. Hal ini terjadi karena beberapa produk jamu belum mendapat pembuktian secara ilmiah, mengenai manfaat dan keamannya bagi kesehatan. Berbagai potensi ini rasanya sayang sekali, kalau tidak dimanfaatkan secara optimal.

Berangkat dari itu, para pembuat maupun penggemar jamu boleh tersenyum lega sekarang. Kabar menggembirakan datang dari Ikatan Dokter Indonesia dan Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, beberapa waktu lalu. Ia telah mendorong para dokter untuk meresepkan jamu dalam menangani pasiennya.

Saintifikasi jamu, begitulah mereka menyebutnya. Ini merupakan kebijakan pemerintah untuk menjadikan jamu sebagai tuan rumah di negeri sendiri dan digunakan dalam sistem pelayanan kesehatan formal. Melalui Peraturan Menteri Kesehatan No. 003/MENKES/PER/I/2010 tentang Saintifikasi Jamu (SJ), pemerintah benar-benar berharap agar ketergantungan masyakat pada bahan baku obat kimia dapat dikurangi.

Program ini tentunya akan melibatkan para dokter. Dokter tersebut dijadikan sebagai ikon kesehatan yang dapat mengangkat harkat jamu serta penggunanya. Industri jamu telah membuktikan secara ilmiah, obat berbahan alami memberi manfaat klinik untuk pencegahan atau pengobatan penyakit serta tidak menimbulkan efek samping dan aman dikonsumsi.

Dalam saintifikasi, yang paling mendasar harus dilakukan adalah pencatatan medis secara lengkap dan cermat. Selain itu, harus diadakan pembuktian secara ilmiah kalau obat tradisional berbahan alami, memberikan manfaat klinis untuk pencegahan atau pengobatan penyakit serta tidak menimbulkan efek samping. Ketersediaan bahan baku tanaman obat untuk pemenuhan saintifikasi jamu, benar-benar harus terpenuhi dalam jumlah yang cukup dan berkesinambungan. Tanaman obat juga harus memenuhi persyaratan mutu, yang telah ditetapkan agar khasiatnya dapat diperoleh secara optimal.

Penelitian tentang pengobatan herbal penting dilakukan, agar ada bukti ilmiah kalau berbagai herbal yang ada di Indonesia memang berkhasiat bagi kesehatan. Satu penelitian menarik yang telah dilakukan, tentang penggunaan ekstrak temulawak. Ternyata tanaman ini mengandung Curcumin dan Xanthorrhizol yang berfungsi sebagai anti inflamasi (anti radang) dan anti platelet agregasi.

Pengobatan yang menggunakan herbal memang akan terus ditingkatkan melalui budidaya tumbuhan dan penelitian, sehingga masyarakat memiliki alternatif untuk membantu proses perawatan kesehatan.

Tantangan yang Dihadapi

Meski program saintifikasi telah berlangsung, tetap saja hingga kini belum semua dokter mau mempraktikkan kombinasi obat medis modern dengan jamu (terapi komplementer). Dokter-dokter belum sepenuhnya menerima jamu sebagai alternatif pengobatan. Ironisnya, saat ini baru tujuh uji klinis jamu yang memenuhi kriteria fitofarmaka yang boleh diresepkan, tiga diantaranya adalah stimunotensiguarddiabmeneer. Karenanya, penelitian terhadap herbal memang harus ditingkatkan dan diperbanyak.

Minimnya data studi klinik, data penelitian budidaya dan pascapanen, dan praktisi kesehatan juga menjadi suatu kendala dalam berlangsungnya saintifikasi jamu. Pemetaan tanaman obat pun masih terbatas dan masih rendahnya minat petani untuk menanam tanaman obat.

Kondisi ini bisa terjadi karena pendidikan kedokteran konvensional (medis barat) belum memasukkan kurikulum jamu. Sehingga, para dokter tidak punya kompetensi meresepkannya. Hal ini bisa dicegah jika jamu tersebut sudah melalui uji klinis berdasar kaidah Evidence Based Medicine (kedokteran berdasarkan bukti).

Berbagai tantangan tersebut perlu regulasi yang kuat serta didukung kebijakan nasional. Penyediaan bahan baku yang berkualitas dan riset secara terus-menerus juga perlu demi peningkatan dan penjaminan mutu. Ini menjadi tantangan tersendiri untuk menciptakan akses terhadap jamu yang aman dan berkhasiat serta penggunaan jamu yang rasional. Di sinilah pemerintah, Komnas SJ dan kita semua harus berperan aktif.

Pengembangan jamu merupakan salah satu bagian yang terintegrasi dalam sistem pelayanan kesehatan nasional, yang didukung oleh kegiatan berbagai institusi pemerintah maupun swasta. Di samping itu, pengembangan jamu sebagai obat asli Indonesia harus didukung dengan regulasi yang mengatur proses dari hulu ke hilir.

Diharapkan melalui program saintifikasi jamu, penggunaan obat herbal atau jamu oleh kalangan medis dapat disejajarkan dengan pengobatan modern dan akan meningkatkan penggunaan jamu di kalangan profesi kesehatan.

3 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Deasy, jabaranmu tentang ;Saintifikasi Jamu ini besar manfaatnya. Banyak masyarakat modern yang masih memandang sebelah mata terhadap kemampuan jamu dalam pengobatan penyakit. Terlebih hanya sedikit sekali perusahaan jamu yang dikelola secara hygenis, sehingga kredibilitasnya masih saja ada yang meragukan. Padahal kandungannya tidak kalah, bahkan jauh lebih aman.

    Dari teknis penulisan, terlihat banyak kemajuan. Untuk tulisan ini, sungguh, hanya sedikit editing yang dilakukan. terus tingkatkan ya. Dan uji pendapat publik, dengan mengirimkan ke media massa..

  2. deasyamalia permalink

    Alhamdulillah. Terimakasih banyak ya Pak atas koreksi dan komentarnya. Baik, akan saya coba kirimkan lagi ke media masa :D

  3. Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Majalah Potret Indonesia pada Sabtu 12 Januari 2013, pukul 09.21 WIB (lihat disini: http://www.majalahpotretindonesia.com/index.php/kesehatan/1837-kiprah-jamu-di-tengah-dunia-medis). .

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi untuk Deasy, terlebih ini merupakan tugas kedua yang dimuat di media massa. Ayo, siapa lagi menyusul?

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Deasy dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: