Skip to content

Novelet: Satu Hari di Antara 365 Hari (bagian 2)

by pada 25 Desember 2012

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian kedua dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan Minggu Tenang. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran..

Oleh Vania Rahmayanti (Pb 3B)

(gayahidup.plasa.msn.com)

(gayahidup.plasa.msn.com)

Bagian Kedua

Aku pun meminta beberapa harapan, termasuk harapanku yang begitu menginginkan Vino kembali. Lalu meniup lilin, dilanjutkan memotong kue serta membuka hadiah dari Vino dan teman-temanku.

Pada awalnya aku merasa sangat bahagia. Tapi saat itu juga aku merasa, mungkin hari ini terakhir kalinya aku tertawa. Terakhir kalinya aku merasakan kehangatan bersama teman-teman. Dan, terakhir kalinya pula aku merayakan hari ulang tahunku.

“Vino, kamu ke sini buat aku?” tanyaku penuh harap.

“Iya. Aku dan Jessy yang menyiapkan ini semua. Teman-teman yang lain juga,” jawabnya serius.

“Lalu?”

“Aku mau jujur sama kamu, tapi aku mau ngomong berdua aja sama kamu,” kata Vino yang langsung keluar meninggalkan kamar dan tanpa sadar aku pun mengikutinya.

Kenapa?” tanyaku dengan gugup, di bangku teras kost-ku.

“Aku menyukai Jessy. Awalnya kuingin kembali sama kamu, karena itu aku menyiapkan kejutan di hari ulang tahunmu jauh-jauh hari. Untuk persiapannya, aku meminta tolong pada Jessy. Sebab hanya dia, temanmu yang aku kenal. Tapi, lantaran kami sering komunikasi dan bertemu, aku merasa ada yang beda denganmu. Dan, ternyata aku menyukainya,” jelas Vino masih dengan wajah yang serius.

“Ah, kamu bercanda aja deh, Vin!” kataku menghibur diri.

“Aku serius. Aku mau minta izin kamu, buat jadian sama dia. Aku tahu ini sakit buat kamu, tapi juga ngga bisa bohongin perasaan aku, Sya!”

“Lalu, tanggapan Jessy gimana?” kataku lirih, ditingkahi hembusan angin yang membuat bulu kudukku berdiri.

“Jessy belum tahu. Tapi selama kami berkomunikasi, Jessy selalu merespon perhatianku. Itu sudah cukup bikin aku yakin, kalau Jessy juga menyukaiku,”

“……”

*******

Mulutku bungkam. Pandanganku kabur, mataku penuh dengan genangan air yang siap untuk ditumpahkan. Hidungku pun terisak karena tangis. Hatiku terasa sakit, tanpa ada setetes pun darah yang keluar. Otakku terhenti berfikir jernih. Rasaku, impianku, duniaku, semua seperti mampat. Entah sampai kapan akan kembali seperti sediakala. Hanya satu kata yang dapat kuucap untuk menggambarkan segalanya kala itu, hancur.

Aku langsung berlari ke kamar dan meninggalkan Vino sendiri di teras. Saat itu teman-temanku belum mengetahui apapun, sebab aku tak langsung bercerita. Aku tak mungkin sanggup. Jadi aku memilih diam dan menangis di bawah bantal. Agar tak diketahui teman-teman, aku pun bersikap seperti biasa pada Jessy. Aku masih menghargainya, sebagai teman baikku.

“Sya, kamu kenapa?” tanya Ana.

Ngga apa-apa, aku ngantuk. Udah, yuk, kita tidur. Besok kita masih ada kuliah pagi, kan?” kataku dengan suara yang nyaris tak terdengar.

“Terus, Vino kemana?” kali ini giliran Tami yang bertanya.

Udah pulang, ngga enak sekarang udah larut malam,” jawabku.

Oke lah kita tidur aja, good night semua,” teriak Tami.

Aku tak benar-benar tidur malam itu. Aku masih mencerna tiap kata yang terucap dari mulut Vino tadi.  Aku sangat menyesali adanya hari ini. Hanya pilu yang kurasakan, jauh dari harapanku sebelumnya. Aku hanya menangis dalam diam, demi mempertahankan topeng ketegaranku. Aku tak ingin topengku retak dan semua orang tahu bagaimana aku tanpa topeng ini. Meski di depan teman-teman sendiri, aku sama sekali tak ingin terlihat rapuh.

*******

Hari demi hari aku lewati bersama topeng kokohku ini. Aku berusaha terlihat bahagia di hadapan semua orang, seolah tak pernah terjadi apa-apa dalam hidupku. Jika aku berkaca mungkin akan terlihat lain, karena akan terlihat diriku yang sesungguhnya.

“Munafik,” caciku pada diriku sendiri kala itu.

Tapi biarlah, rasanya sakit dan kesendirianku ini terlalu sulit kubagi pada siapapun. Diriku yang teman-teman kenal, bukanlah Marsya sesungguhnya. Marsya hanyalah sosok yang tak mereka tahu. Aku lebih nyaman menangis dalam kesendirianku. Aku lebih menyukai menangis tanpa bersuara. Akan lebih menyayat hati memang, tapi cukup melegakan bagiku. Hingga saat itu, aku masih tak ingin mendengar penjelasan dari Vino ataupun Jessy. Hatiku masih terlalu rapuh menerima kenyataan.

“Lama-lama air matamu bisa habis, kalau menangis terus,” suara Gita mengagetkanku. Dia pergoki aku menangis sendirian di toilet.

Lho? Kamu ngapain di sini, Git?” tanyaku, sambil menghapus air mata.

“Mau nemenin kamu, Sya,” jawab Gita yang langsung memelukku, tangisku pun pecah.

“Kamu kenapa ngga pernah cerita, sih? Aku tahu masalahmu.”

“Tahu dari mana?”

“Aku melihatnya sendiri!”

“….”

Ada keheningan panjang di antara kami.

“Aku lihat sekarang Vino dan Jessy makin dekat. Aku kasihan sama kamu. Aku juga jadi benci sama Jessy. Dia itu jahat banget!” lanjut Gita.

Udah lah, Git. Aku juga udah coba buat ikhlas, kok.”

“Tapi kamu harus tegas, Sya. Kalau emang Jessy mau sama Vino, biar kita yang menjauh. Kalau dia lebih pilih pertemanan, ya, dia yang harus jauhin Vino!”

Aku hanya tersenyum kecil. Aku cukup bersyukur dengan segala yang ada. Allah memang adil. Di saat aku sedang tertekan dengan semua masalah yang harus dihadapi, Ia mengirim teman-temanku sebagai penyemangat. Ia menunjukkan, kesendirian itu tak pernah ada. Dan, aku baru menyadarinya. (Bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: