Skip to content

Novelet: Satu Hari di Antara 365 Hari (bagian 3)

by pada 27 Desember 2012

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan Minggu Tenang. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran..

Oleh Vania Rahmayanti (Pb 3B)

(ilustrasi)

(ilustrasi)

Bagian Ketiga

Aku memang tidak terima dikhianati seperti ini. Namun, jika aku bersuara sekarang, hanya akan membuat sebagian orang memaklumiku dan sebagian lainnya tetap menyalahkanku. Karena itu, aku lebih memilih diam, menangis, dan berdoa. Kuserahkan semua pada Allah. Karena aku yakin sejauh apapun aku berencana, rencana Allah jauh lebih indah untukku.

Aku terus mencoba bersikap normal, namun semua orang tetap melihat wajahku pucat. Mencoba selalu terlihat tegar, tapi tanganku bergetar. Badan dan pikiranku kini tak pernah berjalan searah, tak lagi menjadi satu. Aku mulai merasa lelah, terus terdiam dalam luka yang digoreskan kedua orang penting dalam hidupku. Aku pun mulai memberanikan diri untuk berbicara dengan Vino dan Jessy.

“Aku udah coba buat terima kenyataan. Mungkin ini saat yang tepat buat ikhlasin hubungan kalian, walau aku ngga pernah nyangka harus kamu orangnya, Jess,” ucapku pada Jessy dan Vino di kantin kampus. Ya, kami satu kampus. Jika aku tak segera berbicara dengan mereka, hanya akan membuat hari-hariku kelam. Tak bisa hindarkan diri setiap hari, selalu bertemu dengan mereka dengan luka yang kupendam.

“Sya, Vino emang baik. Tapi aku ngga bakalan jadian sama dia, aku nyaman gini aja,” jawab Jessy lugu.

Gini aja? Jess, kamu sadar ngga, jawaban kamu barusan cuma bakal bikin aku mati pelan-pelan. Dan kamu Vino, ayo sekarang nyatain perasaan kamu ke Jessy di depan aku. Lebih baik aku sakit hati sekalian, biar gampang ngelupain kamu,” suaraku lirih, hampir tercekat di tenggorokan.

“Sya, setelah kami pikir-pikir lagi, kami ngga akan bersatu. Aku menghargai pertemanan kalian dan Jessy pun lebih memilih kamu,” kali ini Vino bersuara.

“Iya, Sya. Aku ngga mau kita jadi musuh, cuma gara-gara cowok,” sahut Jessy.

“Tapi, percuma! Kalian bilang mau menghargai pertemanan, tapi kalian masih berkomunikasi di belakangku. Itu hanya akan membuat aku makin rapuh, makin sakit! Kalian ngga ngerti perasaanku!” tangisku pun pecah.

Ada keheningan panjang di antara kami. Rasanya aku butuh teman-temanku yang lain. Lalu topengku? Dimana dia sekarang? Kenapa aku bisa menangis di depan mereka, yang telah mengkhianatiku? Aku bodoh! Tapi, biarlah! Akan kubagi sedikit asaku ini, agar mereka mengerti.

“Sya, aku sayang kamu sebagai teman baikku. Aku janji ngga akan berkomunikasi dengan Vino lagi. Aku lebih memilih pertemanan kita. Kamu bisa pegang kata-kataku!” lanjut Jessy yang langsung memelukku dan mengusap punggungku.

“Dan aku akan mundur. Pergi dari kehidupan kalian, tapi kita tetap berteman,” sahut Vino.

“….”

Aku hanya terdiam. Sulit mempercayai mereka yang telah mengkhianatiku. Namun aku mencoba ikhlas dan menerima mereka kembali. Jessy akan tetap menjadi teman baikku. Sedangkan Vino akan tetap menjadi mantan terindah di hatiku, walaupun sekarang dia menganggapku sebatas teman. Vino memang telah jahat kepadaku. Tetapi dua tahun bersamanya bukan waktu yang singkat, sehingga masih terlalu sulit melupakannya. Apalagi menghapusnya dari hatiku. Biarkan waktu yang menghilangkan jejaknya dari hatiku.

“Aku anggap masalah ini selesai, Aku percaya sama kalian. Semoga kata-kata kalian bisa dipegang!” kataku mengakhiri pembicaraan serius ini, lalu pergi bersama Jessy meninggalkan Vino.

Sejak saat itu, tak pernah lagi aku mengetahui keadaan Vino. Sebenarnya hati ini masih memaksa ingin mengetahui setiap kegiatan yang ia lakukan, meski tak lagi memilikinya.

*******

Masalahku kini memang telah selesai. Tak ada sedikitpun dendam kepada Jessy ataupun Vino, karena kutahu dendam hanya akan membuat hidupku kelam. Hubungan pertemanan aku, Jessy, Gita, Tami, dan Ana pun tetap berlanjut. Kami bercanda, bermain, belajar, dan tertawa bersama-sama lagi.

Pertama kalinya kembali aku merasakan kehangatan, di tengah dinginnya suasana hatiku. Dan pertama kalinya aku merasa ketenangan, di sela-sela kegelisahanku selama ini. Itu karena mereka, teman-teman terbaikku.

Namun ketakutan pada hari ulang tahunku, berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Andai saja, hari itu tak pernah ada. Tapi, tak mungkin. Hari itu akan tetap ada dan menciptakan luka. Aku hanya berharap suatu saat, akan ada yang menghapuskan lukaku ini.

*******

Happy birthday to you.. Happy birthday to you..

Samar-samar dalam tidurku, kudengar nyanyian ulang tahun, yang membuatku panik seketika. Namun saat kubuka mata, keluargaku datang dari Subang ke kost-ku hanya untuk memberikan sebuah kejutan. Aku telah melupakan anugerah terindah yang Allah berikan sedari dulu: keluarga yang kumiliki.

Kali ini, tepat di hari ulang tahunku, aku benar-benar merasa bahagia. Aku benar-benar tertawa, tanpa memakai topeng ketegaran lagi. Aku tak menyangka, satu hari yang selalu aku benci ini bisa berubah menjadi hari yang paling membahagiakan. Aku tak akan melupakannya.

“Mamah, Papah, semuanya, terima kasih..” teriakku dan langsung berlari memeluk mereka.

Aku terlalu bersemangat, hingga tak menyadari keluargaku sedang membawa kue ulang tahun. Karena aku, kue itu terjatuh.

“Ya kakak, sih, kuenya kan jadi jatuh,” kata adikku yang berumur 5 tahun.

“Iya, iya.. Maaf ya, De,” sesalku sambil memeluk dan menggendongnya.

Mereka pun mencolek krim kue yang terjatuh, lalu diusapkan ke pipiku secara bergantian. Kami pun tertawa bersama.

“Terima kasih, Tuhan! Engkau telah menjawab doaku,” sambut batinku, diiringi air mata yang menitik tanpa kusadari. Bukan air mata pilu lagi, tetapi air mata bahagia! (Selesai)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: