Skip to content

Kata “Ajaib”

by pada 28 Desember 2012

Oleh Fariz Eka Kuswanda

(belajar.indonesiamengajar.org)

(belajar.indonesiamengajar.org)

Pendidikan sejak dini dari lingkungan keluarga sangat penting, karena mempengaruhi prilaku anak-anak jika sudah besar nanti. Mereka sudah harus dipengaruhi hal-hal positif, seperti mengucapkan terima kasih atas pemberian orang lain kepada kita dalam bentuk apapun.

“Terima kasih.” Ya, dua kata yang terlihat simple, tapi cukup berarti. “Terima kasih” merupakan bentuk penghargaan kita terhadap seseorang, yang sudah melakukan sesuatu untuk kita.

Telinga ini pernah mendengar, dulu masyarakat kita terkenal dengan sopan santunnya, salah satunya mengucapkan terima kasih. Namun sekarang? Cukup jarang mendengar kata “terima kasih” keluar dari mulut anak-anak sampai remaja sekarang. Bahkan orang dewasa pun ada juga yang jarang mengucapkan kata “ajaib” tersebut.

Kenapa itu terjadi? Tak ada yang tahu, kecuali pribadi masing-masing. Entah karena gengsi atau rasa tidak acuh.

Dengan mengucapkan kata “terima kasih,” orang lain yang sudah membantu kita akan merasa dihargai. Seperti ada daya magic yang terikat dalam kata itu. Dalam waktu yang lain, orang lain yang sudah membantu kita juga tidak akan sungkan melakukannya lagi untuk kita. Tetapi, kita juga jangan “memanfaatkan” orang-orang yang seperti itu.

Seandainya kita sudah membantu orang lain, lalu orang tersebut tidak berterima kasih, pasti banyak komentar di kepala kita, “Gak tau diri banget sih ini orang” atau “Gak ada sopan santunnya ini orang, padahal udah dibantuin.

Maka dari itu, bangkitkan lah kembali budaya mengucapkan “terima kasih.” Tidak perlu mengingatkan orang lain, cukup dari diri sendiri dulu.

From → Feature Budaya

2 Komentar
  1. azhmyfm permalink

    Fariz, tulisan pendekmu maknanya sangat besar. Menghargai orang lain memang sepantasnya menjadi sebuah keharusan. Namun di budaya kita sekarang yang permisif, serba boleh, rasa malu pun sudah tak mendapat tempat. Bagaimana kita dapat menghargai orang lain, jika menghargai diri sendiri melalui budaya malu telah hilang dari peradaban? Karenanyalah, tulisanmu ini sangat bermanfaat, menghidupkan kembali nilai moral yang paling hakiki..

    Soal teknis penulisan, sudah cukup baik. Meski menurutmu kurang menyastra, sebenarnya tak masalah. Karena inti tulisan feature, adalah tulisan ringan namun tetap mengandung fakta. Dan untuk kedua hal itu, kamu telah berhasil..

    Jadi, percaya dirilah dan teruslah berlatih.. Usai itu, segera kirimkan ke media massa ya..

  2. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Minggu 13 Januari 2013 pukul 21.27 WIB (lihat disini:http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3067/2013/Kata).

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi untuk Fariz. Ayo, siapa menyusul?

    Semoga hal ini menjadi langkah awal bagi keberhasilan Fariz dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: