Skip to content

Pasar Bogor

by pada 28 Desember 2012
(nisbroth.wordpress.com)

(nisbroth.wordpress.com)

Oleh Siti Masliah Hayati

Sore itu langit agak mendung, jalanan pasar di waktu sore ternyata lebih lengang dari pagi hari. Pedagang-pedagang sayuran tak tampak lagi, di seberang sana, kulihat 2 lapak menjajakan buah mangga.

Aku  memarkirkan kendaraan bermotorku di parkiran di depan gang Pedati, pusat perbelanjaan keperluan dapur di pasar Bogor ini terletak persis di depan pusat perbelanjaan Jogja. Lebar jalan untuk berlalu lalang dalam gang ini sekitar 2,5 meter, di sisi kiri dan kanan gang tersebut berjejerlah para pedagang. Mulai dari pedagang buah, sayuran, ikan, hingga bumbu-bumbu dapur dalam kemasan. Setiap pagi jalanan ini selalu padat oleh orang yang berlalu lalang, namun sore ini tidak demikian.

Tiba-tiba, saat masuk dalam gang itu, orang-orang yang berlalu lalang tadi menepi semuanya, melihat kedatanganku? Mungkin, meski rasanya berlebihan, tapi tidak perlu kuambil pusing. Entah bak seorang putri atau kurcaci, aku terus melaju lebih jauh. Pedagang yang ingin kubeli dagangannya, pedagang mentimun, ada di bagian dalam gang pedati. Beberapa kali kami mengunjungi Pasar Bogor ini. namun, umumnya kami mengunjungi pasar ini pada pagi hari.

Lalu, tiba-tiba, “TIIIIIIN” aku terhenyak, kaget bukan main! Sebuah truk, ah tidak! Ada dua truk tronton yang entah apa isinya membuntutiku sejak tadi, pantas orang-orang ini minggir, batinku lucu.

Aku menepi dan segera menjumpai pedagang mentimun yang beberapa kali kami jumpai. Mentimun-mentimun ini diletakan dalam sebuah tampah besar yang ditempatkan langsung di atas tanah, tanpa meja. Mungkin itu sebabnya orang ‘kota’ lebih senang berbelanja di super market. Lihat saja, hal seperti ini mungkin mereka anggap jorok. Sementara masyarakat biasa menganggap yang kotor adalah tanahnya, bukan mentimunnya. Aku mulai menimbang-nimbang, memilih beberapa buah mentimun yang cukup segar untuk kemudian ditimbang oleh si empunya.

Sabtu lalu kamipun kemari. selalu ada keuntungan di pasar tradisional. Pedagangnya menawarkan barang dengan murah. Lucunya, setelah murah itu selalu ada-ada saja yang menawar.

“Ini berapa?’ tanya seorang wanita paruh baya sambil mengangkat sawi dari lapak seorang pedagang.

“Tiga ribu sakitu.” Timpal si pedagang, menunjuk sawi yang dipegang ibu tadi dengan dagunya.

“Ah! 1.000 kali, Mang!”

“Yee, si Ibu! 1.000 mah harga sendal jepit pegat atuh!”

Percakapan itu terjadi dalam salah satu kunjungan kami di pagi hari. Sore hari, pedagang yang berjualan umumnya adalah pedagang buah, ikan, dan bumbu-bumbu kemasan. Pedagang sayuran biasanya menjajakan dagangan mereka di pagi hari.

Sekitar jam setengah tujuh pagi, dagangan yang dijajakan biasanya masih segar. Ada yang menarik, di pasar ini, sekitar jam tujuh pagi para petugas satpol PP selalu memerintahkan para pedagang di emperan untuk membereskan dagangannya (karena mulai saat itu volume kendaraan yang lewat biasanya meningkat. Agar tidak menimbulkan kemacetan, pedagang harus membereskan barang dagangannya). Disaat seperti itu, pedagang yang enggan membawa pulang kembali dagangannya selalu membuat diskon besar-besaran. Banting harga. belum lagi suara mereka yang bersahut-sahutan menarik calon pembeli. Dalam situasi serba murah seperti ini, pembeli akan dapat membeli lebih banyak barang dan mendapatkan kepuasan.

Aku menyerahkan mentimun yang telah kupilih tadi kepada si empunya, bapak paruh baya yang di sampingnya tersedia sebuah timbangan. ia mengambilnya dan menimbang. “Dua kilo,” katanya, aku menyerahkan uang lima ribuan dan mendapatkan Rp1.000 sebagai kembalian. Harga mentimun-mentimun ini seringkali menentu, ada kalanya seribu per kilogram, dua ribu per kilogram, tiga ribu per kilogram. Sabtu lalu, mentimun-mentimun ini bahkan kudapat dengan harga 1.000/kg.

Matahari telah bersembunyi di balik awan berat nan kelabu, angin menerpaku dari banyak arah, aku bergegas pulang, sebentar lagi hujan.

One Comment
  1. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Selasa 08 Januari 2013, pukiul 12.31 WIB (lihat disini: http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3057/2013/Pasar-Bogor). Ayo, siapa lagi menyusul?

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi untuk Siti Masliah. Ayo, siapa lagi menyusul?

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Siti Masliah dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: