Skip to content

Cerpen: Eksekusi (bagian 1)

by pada 29 Desember 2012

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan Minggu Tenang. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran..

Oleh Niken Ari S (Pb 3B)

(kabar-banten.com)

(kabar-banten.com)

Bagian Pertama

Seorang wanita berdiri di dekat jendela. Deras hujan di luar sana. Dari sorot matanya terlihat betapa banyak pikiran yang sedang membebaninya. Terlebih hari ini. Beberapa jam lagi pasiennya, yang seorang napi, harus dieksekusi mati.

Ditarik napasnya perlahan. Alih-alih mendapat ketenangan, malah sesak yang ia rasakan.

“Apa hukumannya tidak bisa diperingan lagi?” tanya wanita itu kepada seorang pria yang duduk di ruangan bersamanya.

“Tidak. Keputusan hakim sudah bulat. Palu sudah diketuk,” jawab si pria.

“Atau apa tidak bisa diundur?” tanya wanita itu lagi.

Si pria menggeleng. Wanita itu berjalan dan duduk di kursi di depan si pria.

“Menurut analisisku, tahanan kita ini belum cukup kuat secara mental dan keluarganya pun belum kita kabarkan,” kata sang wanita.

“Persetan dengan analisismu. Aku muak dengan tahanan kita yang satu ini. Kalau ditanya tidak pernah menjawab. Hanya menunduk dan kadang tertawa. Sudah rusak mungkin,”

“Kau tidak boleh berbicara seperti itu. Bagaimanapun juga ia tetap manusia, yang punya hak untuk tetap hidup,”

“Untuk dia, sudah tak ada lagi hak hidup. Sudahlah, mengapa kau jadi membela napi itu,” ujar si pria dengan kesal.

Sunyi. Wanita itu tidak bisa diam saja. Sebagai psikolog ia mengerti, bagaimana rasanya akan dihukum mati sementara keluarga belum juga ada yang dikabari. Seandainya saja ia bisa mencari tahu, keberadaan keluarga dari napi ini.

*******

Pintu terbuka perlahan membuyarkan lamunan sang wanita. Seorang pria tua dengan baju seragam hijau khas sipir yang sudah kumal masuk ke dalam ruangan itu.

“Selamat siang Pak Budi dan Ibu Rahma. Ini ada tamu. Ia ingin bertemu dengan napi yang bernama Bayu,” ujar lelaki itu.

Pak Budi dan Ibu Rahma saling bertatapan.

“Apakah ia keluarganya?” tanya Ibu Rahma dengan antusias.

“Jangan ngaco kau Rahma. Napi itu belum pernah mengabari keluarganya selama ia ditahan di sini,” ujar Pak Budi, “Sam, tolong bilang ke tamu tunggu sebentar, nanti saya panggil lagi,”

“Siap, Pak!” Sam keluar ruangan dan menutupnya kembali.

“Ini kesempatan kita, Pak. Kita bisa cari tahu banyak tentang Bayu melalui tamu ini dan juga kita..”

“Rahma, cukup! Aku tidak yakin, jika tamu ini adalah keluarga atau kerabat atau siapanya napi ini. Jadi tolong, jangan terlalu banyak berharap,” tegas Pak Budi memberi penjelasan.

Kecewa, Rahma pun meninggalkan ruangan. Tanpa banyak berkata-kata, ia keluar meninggalkan Pak Budi.

“Mau kemana kau, Rahma?” tanya Pak Budi, sesaat sebelum Rahma memegang gagang pintu.

“Menemui Bayu untuk menanyakan kondisi terakhirnya sebelum.. Sebelum kau putus hidupnya,” jawab Rahma, lalu pergi meninggalkan ruangan.

*******

Pak Budi mengangkat gagang telepon di atas mejanya. Menekan angka. Dan berbicara sesaat kepada penerima telepon di ujung sana. Tak lama Sam masuk lagi ke ruangan, diikuti gadis manis yang ingin bertemu Bayu.

“Permisi Pak, ini tamu yang ingin bertemu dengan Bayu,” ujar Sam.

“Terima kasih. Silahkan keluar,”

Sam segera keluar dan meninggalkan tamu di ruangan Pak Budi yang nyaman, namun terkesan dingin.

“Silahkan duduk,” kata Pak Budi, berusaha seramah mungkin.

“Te..terima kasih,” jawab gadis manis itu dengan terbata. Wajahnya tertunduk, menatap kakinya, seolah ada yang mengganggu kakinya.

“Siapa namamu?”

“Sari.”

“Apa yang bisa saya bantu untuk Dik Sari?” tanya Pak Budi.

“Saya ingin bertemu dengan Bayu. Mungkin saja ia adalah kakak saya yang hilang,” jawab Sari.

“Kakakmu? Mana mungkin. Adik ini kan manis dan baik. Mana mungkin punya kakak penjahat, seperti Bayu,” sergah Pak Budi.

“Ya, mungkin saja, Pak. Sudah bertahun-tahun lamanya, Mas Bayu meninggalkan kampung halaman. Katanya, dia mau bekerja di kota. Tapi, sampai saat ini tak ada kabarnya. Seminggu yang lalu saya baca koran dan ada berita tentang napi yang akan dihukum mati. Namanya Bayu, Bayu Adi Putro. Namanya mirip kakak saya. Makanya saya susul kemari. Walaupun, misalnya, ia bukan Mas Bayu yang saya cari, ya sudah. Yang penting, saya tidak penasaran,” gadis itu bercerita panjang lebar.

Pak Budi menghela napas, “Baiklah, saya akan pertemukan kamu dengan Bayu. Tapi ingat, kau harus hati-hati! Napi yang bernama Bayu ini, agak gila. Lekas pulang setelah mengetahui kalau ia bukan Mas Bayu-mu.” (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: