Skip to content

Kasih Sayang Sepanjang Masa

by pada 29 Desember 2012

Oleh Reytna Antesny

(lifestyle.kompasiana.com)

(lifestyle.kompasiana.com)

Oh ibuku engkaulah wanita, yang ku cinta selama hidupku. Maafkan anakmu bila ada salah pengorbananmu tanpa balas jasa”.

Lirik ini bagiku sangat mengingatkan sebuah klise kehidupan sesosok ibu dan menyiratkan kekhilafan seorang anak kepada ibunya. Tak terasa mendengar dan merasakan lirik demi lirik lagu itu, berbutir-butir air mengalir dan membasahi pipi. Lamunan demi lamunan aku lalui dengan tangisan, mengingatkan pengorbanan dan kasih sayang ibu.

Sembilan bulan ibu mengandung. Dalam sembilan bulan itu pula ibu membawa aku di dalam rahimnya. Suka duka dilewati ibu demi menjaga aku. Namun setelah aku besar saat ini, terkadang tanpa sadar aku telah melukai perasaan ibu dengan perkataan-perkataan yang kurang sopan atau kurang baik didengar oleh telinganya. Walaupun begitu, ibu tetap sabar mengasuh aku dari kecil hingga aku besar seperti saat ini.

Setiap pagi ibu mengerjakan pekerjaan rumah sebagaimana ibu rumah tangga lainnya. Mengasuh ketiga anak-anaknya, membersihkan rumah, memasak dan lain-lain. Malamnya ibu bekerja lagi, berdagang di pasar malam membantu menambahakan ekonomi keluarga kami sesela meringankan beban ayahku yang berpenghasilan sederhana.

Aku sebagai seorang anak merasakan letihnya sebagai seorang ibu. Aku salut dengan beliau, walaupun beliau merasa lelah ibu tak pernah menunjukkan dirinya letih apalagi mengeluh. Berbeda denganku. Aku yang sudah dewasa yang berpendidikan tinggi ketimbang  ibu, selalu mengeluh. Setiap beban yang aku punya aku selalu bercerita dengannya yang hanya menambah beban beliau. Tetapi ibu senantiasa mendengarkan keluh kesahku itu.

Disaat beliau pulang bekerja aku memenyentuh pundak beliau sebagai tanda terima kasihku kepadanya. Memijat kakinya, dan memberikan secangkir minuman hangat untuk mengangatkan tubuh ibu. Ibuku tersenyum bahagia, aku pun merasakan kebahagian itu.

Disaat ibuku tertidur aku memerhatikan wajah ibu. Raut wajahnya begitu berbeda di saat ia tidur. Aku lihat keningnya berkerut, wajahnya tak seceria ketika beliau berhadapan dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam hati pribadi, aku merasa kalau ibu sedang menahan beban, berpikir apa yang harus ia jalankan. Oh ibu begitu besar pengorbananmu.

Sebagai anak pertama aku tidak boleh lagi menambah bebannya. Apalagi meminta sesuatu, entah itu kebutuhan keperluan kuliahku atau sebagainya. Aku harus bisa mandiri. Meneladani sikapnya yang begitu tabah, tetap tersenyum di hadapan siapa saja.

*******

 Sejak duduk di bangku kuliah, aku tidak lagi tinggal bersama ibu dan ayahku  melainkan aku  tinggal di kos dekat kampus. Mengingat jarak dari rumah menuju kampus yang lumayan jauh. Semenjak aku menjadi mahasiswa aku jarang lagi pulang karena di semester tiga ini banyak tugas yang harus aku cepat selesaikan. Di kampus aku tidak mengikuti organisasi apapun karena aku tidak dapat membagi waktuku dengan kegiatan lain.

Di hari libur itu, ibuku sangat merindukan anaknya yang telah menjadi seorang yang mandiri. Pada sore harinya, ibu dan ayahku mendatangi kos tanpa sepengetahuan aku.

“Assalamualaikum, nak… Retna…”

Saat suara itu berarah di depan pintu. Setelah ku buka dan tiba-tiba ada ibu dan ayah ku datang . Lalu ku memegang erat dan mencium tangan kanan ibu dan ayahku.

 “Ibu dan ayah kenapa gak bilang-bilang kalau mau kesini”

Dengan menatap dengan senyuman beliau membelai anaknya yang terlihat semakin besar dan dewasa.

“Kami ingin memberikan kejutan utukmu nak”

”Ya Allah terima kasih ma, pa… aku sayang mama papa” (sambil memeluk mereka).

Aku  tak menyangka begitu besar cinta kedua orang tuaku kepadaku. Air mata pun mengalir bersama dengan air-air hujan yang membasahi pipi saat itu.

Aku merasa itu sebuah kejutan yang amat menyenangkan hati. Tempat kos yang cukup nyaman untuk di tinggali. Tak lupa ibuku memberikan beberapa bingkisan makanan kesukaanku, kami bersenda gurau dan makan bersama. Sebelum kedua orang tuaku beranjak pulang ke rumah, Beliau juga menyelipkan Al-Qur’an kecil mengingatkan untuk tetap ingat dan beribadah kepada Allah SWT.

Ibu tidak pernah menangis di depan kita, kalau pun ingin menangis beliau selalu menahan air matanya di depan kita. Beliau selalu menguatkan kita dengan kata-kata indah. Tidak ada seorang Ibu yang tidak sayang kepada anaknya, baginya anak adalah buah cintanya kepada Allah SWT yang harus ia jaga dan lindungi di mana pun dan kapan pun. Dalam hidupnya semua yang ia lakukan hanyalah untuk membahagiakan anaknya.

Seorang Ibu tidak mengharapkan imbalan apapun dari apa yang diberikannya selama ini. Tugasnya di dunia ini hanyalah memberi memberi dan memberi. Dari rahimnya lah ia melahirkan sosok-sosok manusia yang hebat. Baginya anak adalah segalanya, anak adalah separuh hidupnya. Di saat sosoknya telah tiada doanya yang selalu terlantun untuk anak-anaknya.

Tiadanya dirimu menjadi semangat untuk ku untuk menjadi lebih baik. Cinta dan kasih sayang mu akan selalu menuntun hidup ku. Kaulah malaikat kecil ku. Terima kasih ibu, doa ku kan menuntunmu di surga.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: